Home / Topik / Lifestyle / Resolusi 2026: Bernyanyi untuk Tuhan, Bermusik untuk Tuhan, Menulis untuk Tuhan!

Resolusi 2026: Bernyanyi untuk Tuhan, Bermusik untuk Tuhan, Menulis untuk Tuhan!

Resolusi 2026 (Wiselovehope)
3

Inilah sebuah talenta yang penulis nyaris lupakan selama hampir 25 tahun: bermusik. Jika semasa remaja penulis kurang menghargai dan meluruhkan talenta yang Tuhan pinjamkan, pada separuh terakhir 2025 hingga awal 2026 ini Tuhan kembali berkenan memberi penulis kesempatan sekali lagi. Meskipun harus mengulang dari awal lagi, penulis bertekad mengembalikan talenta yang sudah dikuburkan di dalam tanah selama hampir 25 tahun.

Jika penulis dulu begitu membenci, ya, Anda tidak salah baca, membenci kursus biola, pada tahun 2025 ini Tuhan kembali menitipkan talenta itu kepada penulis. Sedikit kesaksian hidup, penulis pernah belajar bermain instrumen alat musik biola selama beberapa tahun pada waktu masih abege. Apakah penulis melakukannya dengan senang hati? Sebenarnya, saya mengikuti kursus atas kemauan orang tua. Akan tetapi meskipun pada dasarnya saya menyukai musik (saya juga bermain alat musik elekton atau organ), sejujurnya saat itu saya kurang menyukai alat musik klasik ini. Namun saya tidak kuasa menolak permintaan orang tua untuk mengikuti kursus.

Tempat kursus saya saat itu jauh di bilangan Manggarai, di sebuah sekolah musik tua/lama yang terkenal dengan kursus piano klasiknya. Mami saya setia mengantar dengan mobil seminggu dua kali untuk kursus teori dan praktik. Jujur saja, saat itu saya kurang menyukai karakter guru biola saya. Seorang pemusik di orkestra yang cukup terkenal di era 1990-an, beliau terkesan sedikit tinggi hati di mata saya. Saya akui, dia memang ahli dalam musik klasik. Akan tetapi sikap beliau yang kerap merendahkan murid-muridnya yang kurang mampu belajar (seperti saya saat itu) membuat saya semakin malas, merasa pelajaran saya terlalu sukar, apalagi sangat sedikit kemajuan yang saya alami. Malah motivasi saya belajar musik menjadi berubah. Saya sempat menyemangati diri sendiri karena anak sang guru kebetulan membuat saya (dan mungkin sekali banyak murid perempuan lain) suka karena parasnya cukup ganteng. Mungkin seperti Aaron Kwok, bintang film Hongkong yang terkenal pada era itu.

Karena semakin padatnya kegiatan di sekolah (SMP-SMA), saya merasa kelelahan dan tidak punya cukup waktu untuk mengikuti pelajaran biola saya. Akhirnya secara diam-diam saya dan ortu berhenti kursus. Mulailah saya menelantarkan pelajaran biola dan elekton saya sehingga kedua alat musik itu hilang juga bersama kejadian di tahun 2000, dimana saya dan keluarga harus kembali mengulang segala sesuatu dari titik nol. Kehilangan rumah, papi, harta warisan, segalanya.

Selama berpuluh tahun saya mulai lupa bermusik, enggan kembali membeli instrumen baru meskipun sudah ada sekadar dana untuk itu. Namun pada pertengahan 2025 saya dipanggil Tuhan kembali untuk bernyanyi, menulis, dan… kembali bermain biola. Apakah saya bisa? Jari-jari saya sudah tidak kapalan lagi, akan sangat sulit untuk menekan senar tanpa rasa sakit. Saya juga sudah merasa ketuaan untuk mulai lagi. Akan tetapi beberapa lagu rohani yang saya dengar menggugah hati saya. Betapa inginnya saya juga bisa memainkannya dengan tangan sendiri! Jika dahulu lagu-lagu klasik terasa begitu berat dan sukar saya mainkan, membuat saya jengah bahkan kapok, bagaimana dengan lagu rohani? Bukankah semua itu adalah suara hati dan pujian saya yang akan turut mengharumkan nama-Nya, menyukakan hati-Nya, membawa kedamaian ibarat Daud dengan kecapinya? Maka saya beranikan diri mencoba lagi. Saya membeli satu biola murah saja untuk belajar dengan harap-harap cemas masih bisa kembali diizinkan-Nya memainkannya. Saya belajar lagi secara mandiri dengan keringat bercucuran. Jari-jari yang kaku mulai saya lemaskan. Rasa tidak mampu, takut, khawatir, grogi dan malas saya lawan. Akhirnya, apakah saya berhasil?

Satu-dua bulan berlalu. Perlahan-lahan tapi pasti, semua rasa-rasa itu lenyap. Bermain musik sendiri terasa semakin mudah, ringan, dan menyenangkan.Ternyata benar, semua perasaan itu hanya ada dalam pikiran kita, tak perlu menjadi nyata. Jika untuk kemuliaan Tuhan, tentu saja Dia akan mampukan. Orang-orang yang tidak mampu akan Dia mampukan. Saat ini saya sudah bisa memainkan beberapa lagu sederhana. Saya merekamnya agar dapat didengar sesama serta sebagai bahan pelajaran otodidak agar bisa memainkannya lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya. Saya akan terus belajar dan belajar lagi selama ada waktu dan kesempatan.

Menulis, bernyanyi, bermusik. Jika untuk sesama manusia saja kita bisa, mengapa tidak bisa untuk Tuhan? Asal dilakukan dengan kerinduan dan motivasi yang benar, Tuhan akan mampukan dan bukakan jalan. Bukan demi dapat pujian manusia, bukan demi uang, hanya untuk memuliakan Tuhan semata-mata.

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.

Tangerang, 2 Januari 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image