Home / Topik / Lifestyle / Menjadi Penulis: Beri Waktu

Menjadi Penulis: Beri Waktu

Menjadi Penulis 20260115

Sebagai penulis, kita sering diberitahu untuk memberi waktu pada sebuah naskah. Untuk menyelesaikannya, dan mengerjakannya sedikit lagi, lalu menyimpannya selama beberapa minggu, atau bulan, dan mengabaikannya sepenuhnya. Dan ketika kita kembali, rasanya seperti keajaiban datang!

Kita tidak lagi jenuh, kelelahan, muak melihat halaman yang sama berulang kali. Kita memiliki antusiasme yang melimpah dan pandangan yang segar dan tidak lelah. Kita menemukan kekurangan kecil, kalimat yang canggung, penggunaan kata yang buruk—sejumlah besar masalah yang, untuk sementara, membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya kita pikirkan sejak awal.

Ini adalah nasihat yang bagus. Bahkan, terkadang aku pikir ini adalah nasihat terbaik yang dapat Anda berikan kepada seorang penulis. Waktu dan perspektif baru dapat menghasilkan keajaiban bagi naskah Anda.

Namun, jika Anda sepertiku, ini sulit. Aku tidak sabaran. Aku tidak ingin menyimpan naskahkusampai berminggu-minggu. Aku ingin segera bergerak, menyelesaikan pekerjaan. Menghentikan terasa seperti kemunduran.

Aku dulu malah pernah curang. Aku sudah menyimpan naskah itu, lalu beberapa hari kemudian, aku mengeluarkannya lagi untuk sedikit mengubah sana-sini.

Yang sama sekali tidak membantu.

Intinya, waktu tidak hanya membantu Anda menemukan kesalahan dan kekurangan. Waktu dapat mengingatkan Anda betapa bagusnya buku itu. Dan itulah hal yang paling luar biasa.

Menyangkut naskah, aku seorang perfeksionis. Bahkan sedikit obsesif kompulsif.

Dulu ketika aku  mengerjakan sebuah buku—dan maksudku  menulis sepuluh jam sehari, tidak bisa memikirkan yang  lain saat mengerjakan buku—aku agak tersesat di dalamnya. Dan bukan dalam arti yang baik.

Aku berhenti menulis dan mulai mengoreksi.  mengedit, dan aku mengedit, dan kemudian aku mengedit lagi. Dan ketika aku sudah melakukannya cukup lama, ketika aku melihat halaman yang sama cukup banyak kali, bahkan hal-hal yang bagus pun mulai terlihat salah.

Aku mulai memperbaiki hal-hal yang tidak perlu diperbaiki. Mengubah kalimat yang tidak perlu diubah. Membuat sedikit perubahan di sana, dan di sini, yang kemudian berarti aku harus mengubah sesuatu yang lain nanti…

…dan seterusnya.

Aku membuang waktu dan menyia-nyiakan gairahku karena aku mengedit hanya demi mengedit.

Kedengarannya familiar?

Mari kita uraikan menggunakan beberapa angka aktual.

NASKAH A

Draf pertama: 2 bulan

Pengeditan: 3 bulan

Waktu istirahat dari manuskrip: 3 hari

Pengeditan lebih lanjut: 3 bulan

Total waktu: sekitar 8 bulan

NASKAH B

Draf pertama: 3 bulan (kali ini draf pertama mencakup banyak perubahan dan pengeditan di sepanjang jalan)

Pengeditan: 1 bulan (karena banyak yang sudah diedit waktu aku menulis draf pertama)

Waktu istirahat dari manuskrip: 1 bulan

Pengeditan lebih lanjut: 2 minggu

Total waktu: 5,5 bulan

Coba tebak mana yang diterbitkan?

(Tentu saja, aku tidak mengatakan bahwa melakukan ini berarti buku Anda akan diterbitkan! Aku hanya bilang bahwa waktu istirahat itu membantuku menulis buku yang lebih baik pada akhirnya.)

Dan ironisnya, tidak memberikan waktu yang cukup untuk bukuku justru menghabiskan lebih banyak waktuku pada akhirnya.

Jadi, waktu.

Dengan Naskah A dan banyak naskah lain yang telah kukerjakan, aku  pasti tenggelam dalam pekerjaanku sendiri. Sampai aku sampai pada titik di mana, terkadang, aku berpikir ‘buku ini sama sekali tidak berhasil, aku telah mencoba memperbaikinya selama berminggu-minggu dan tidak ada yang lebih baik. Mungkin aku harus melupakannya saja dan menulis sesuatu yang lain.’

Atau lebih buruk lagi, Aku capek. Aku bahkan tidak ingat sama sekali mengapa aku sampai ingin menulis ini .’

Tetapi kemudian ada saat-saat ketika aku benar-benar menyingkirkan buku itu (seperti Manuskrip B), dan aku melupakannya untuk sementara waktu. Aku melanjutkan hidup, menulis hal-hal lain untuk bersenang-senang, mengisi kembali energiku.

Dan ketika aku kembali ke buku itu, tentu saja aku menemukan hal-hal kecil yang dapat dan harus kuperbaiki. Tapi, aku juga membaca sekilas halaman-halaman itu seolah-olah ini pertama kalinya aku membacanya, dan aku berpikir, Hmm. Aku ingat mengapa aku sangat menyukai buku ini.’

Jawa Barat, 15 Januari 2026

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image