Beranda / Topik / Wisata / 29. Umbul Jumprit, Sebuah Perjalanan Batin

29. Umbul Jumprit, Sebuah Perjalanan Batin

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 30 of 33 in the series Ananta Kama

Saat mobil mulai bergerak meninggalkan Dusun Liyangan, masih terngiang kata-kata dari petugas yang jaga di sana, bahwa bagian yang lebih besar masih terpendam dan belum diekskavasi.  Menurut petugas, dari tempat masuk Situs Liyangan, terdapat banyak bangunan lain di lokasi hingga berjarak 600 meter ke arah Gunung Sindoro.  Seandainya semua peninggalan yang terpendam itu bisa dipaparkan, mungkin kompleks Candi Borobudur pun kalah besarnya. Artinya masih butuh bertahun-tahun untuk mengungkap teka-teki situs sampai lengkap.

Meski matahari sudah tinggi tapi kabut tipis masih menggantung di lereng Sindoro. Jejak-jejak bata kuno dan aroma tanah basah seperti belum sepenuhnya lepas dari pikiran. Mobil melaju perlahan menuruni jalan berkelok, diapit ladang tembakau yang mulai menguning bersanding dengan hijaunya  sawah terasering sejauh mata memandang.

“Tempat itu seperti tidak ingin dilupakan,” ujar Ayesha pelan, memecah keheningan. Matanya menatap kaca jendela, mengikuti bayangan gunung yang bergeser. “Seolah setiap batu punya cerita yang belum selesai.”

Bhaskoro mengangguk, tangannya mantap di kemudi. “Liyangan selalu begitu. Ia tidak menawarkan kemegahan, tapi kejujuran. Kehidupan yang berhenti mendadak, lalu terkubur ratusan tahun.” Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Kadang Mas bertanya-tanya, apa yang akan tersisa dari kita kalau waktu tiba-tiba memutuskan berhenti.”

Aku yang sejak tadi diam menoleh, berujar tenang tapi tajam, “Mungkin bukan bangunan, tapi jejak langkah. Pilihan-pilihan kecil yang kita ambil. Seperti hari ini … kita memilih datang, mendengar, dan mengingat.”

“Selanjutnya kemana?” tanya Ayesha.

“Umbul Jumprit,” jawab Bhaskoro singkat. Ayesha menatap tak berkedip, penuh tanya.

“Umbul Jumprit adalah sebuah mata air alami yang di Desa Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo,  Terletak di kawasan Gunung Sindoro pada ketinggian 2.100 mdpl,” ujar Bhaskoro menjelaskan.

Ayesha tersenyum, tapi ada kegelisahan di sorot matanya. “Apa yang akan kita temukan di Umbul Jumprit?” tanyanya.

Bhaskoro terkekeh kecil, “Umbul Jumprit bukan sekadar mata air. Ia tempat orang datang untuk membersihkan diri, bukan hanya badan.”

Ia melirik kaca spion, menangkap tatapan Ayesha,  “Kadang, air memantulkan hal-hal yang ingin kita sembunyikan.”

“Berarti perjalanan ini belum selesai,” ujarku sambil melirik Bhaskoro.

Ayesha menarik napas panjang. “Kalau begitu, aku siap basah. Lebih baik dingin sekarang, daripada terus membawa panas di kepala.”

Di kejauhan, gemericik air mulai terdengar, samar tapi mengundang. Perjalanan menuju Umbul Jumprit pun bukan lagi sekadar perpindahan tempat, melainkan langkah menuju percakapan yang lebih dalam dengan alam, dan dengan diri sendiri.

“Ada yang bisa jelaskan kenapa diberi nama Umbul Jumprit?” tanya Ayesha saat kami tiba di lokasi yang berada di tengah kawasan hutan pinus yang rimbun dan asri.

“Umbul itu artinya sumber air. Jumprit adalah nama seorang Kyai, tokoh dari akhir masa Majapahit yang makamnya terletak di dekat sendang atau mata air. Itu kenapa hutan ini dinamakan hutan Jumprit.” Bhaskoro kembeli tiket masuk.

Menurut petugas yang menjaga, di kawasan hutan pinus yang mengelilingi Umbul Jumprit masih bisa ditemukan pohon berusia ratusan tahun, seperti cemara dan beringin. Kawasan ini juga habitat berbagai macam satwa.

“Ada burung jalak, monyet, musang, luwak. Menjangan ada di atas di Gunung Sindoro. Cemara yang dekat pintu masuk itu umurnya ratusan tahun.” Petugas menunjuk pada pohon Cemara di gapura pintu masuk.

Daya tarik utama dari Umbul Jumprit adalah kejernihan dan kesegaran airnya, “Mata air ini tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun, karena berasal dari sumber mata air yang berlimpah.” Petugas sakaligus penjaga tiket itu menjelaskan.

Kami mulai memasuki kawasan objek wisata alam, yang juga dikenal karena konon memiliki khasiat penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan. Banyak yang percaya bahwa airnya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan memperpanjang masa muda. Kepercayaan semacam ini sering kali menambah daya tarik bagi para pengunjung yang mencari kesegaran alam sekaligus manfaat kesehatan.

“Menurut legenda, Umbul Jumprit memiliki kaitan erat dengan sosok Ki Jumprit, seorang penasihat spiritual dari Kerajaan Majapahit. Konon, Ki Jumprit melakukan tapa di tempat ini dan memperoleh kesaktiannya hingga keberadaannya membawa pengaruh besar di tempat tersebut. Karena dipercaya memiliki kekuatan suci dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Umbul Jumprit akhirnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang ingin mandi dan berdoa, berharap mendapatkan kesembuhan dan berkah dari airnya yang diyakini memiliki kekuatan istimewa.” Kali ini Bhaskoro yang menjelaskan, sepertinya ia mengetahui dengan baik sejarah panjang Umbul Jumprit.

“Pada tahun 1987 Pemerintah Kabupaten Temanggung secara resmi menetapkan kawasan ini sebagai kawasan wanawisata, bukan hanya menjadi destinasi wisata alam tetapi juga tempat yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat,” imbuhnya.

“Masih ingat perjalanan para biksu thudong? tanya Bhaskoro. Ayesha menggeleng pelan.

“Biksu Thudong adalah para biksu Buddha Theravada yang melakukan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki ribuan kilometer untuk latihan batin, disiplin, kesabaran, dan memperdalam meditasi menjelang Waisak, meneladani kehidupan Sang Buddha dengan hidup sederhana. Para Biksu Thudong ini berjalan dari Thailand menuju Candi Borobudur untuk merayakan Waisak.” Aku menjawab lebih cepat dari Bhaskoro. Laki-laki itu tersenyum dengan tatapan menggoda. Kedua jempolnya diacungkan tinggi-tinggi.

“Heel interessant,” komen Ayesha.

“Para Biksu dan umat Buddha secara rutin mengambil air suci dari mata air Umbul Jumprit ini sebagai bagian penting dari prosesi perayaan Hari Raya Waisak, terutama untuk digunakan dalam ritual di Candi Mendut dan Candi Borobudur, karena air dari Umbul Jumprit ini melambangkan kesucian, kehidupan, dan awal perjalanan spiritual menuju pencerahan,” lanjutku.

“Wah, Dek Tantri tahu juga rupanya,” goda Bhaskoro. Duh, mulai lagi, kan? Laki-laki ini selalu mencari cara untuk menggodaku.

“Para Biksu dan umat Budha mengambil air dalam kendi-kendi khusus sebagai simbol lambang kesucian, kebersihan hati, kehidupan, serta kerendahan hati, mencerminkan ajaran Buddha. Setelah dari Jumprit, air suci ini dibawa dalam prosesi ke Candi Mendut untuk disemayamkan dan disucikan lebih lanjut.” Aku melanjutkan tanpa memedulikan Bhaskoro.

“Oh, aku ingat,” sela Ayesha sambil mengetukkan jarinya ke dagu, “Zack pernah mengatakan bahwa para Biksu membawa Air suci untuk disatukan dengan api abadi dari Mrapen, lalu diarak bersama ke Candi Borobudur untuk digunakan dalam acara puncak Waisak.”

“Tepat Sekali!” Aku menjentikkan jari di hadapan Ayesha.

Namun, saat hendak meninggalkan Umbul Jumprit, kami dikejutkan oleh kehadiran sekawanan kera. Kehadiran yang seakan menjadi penutup tak terduga tapi mengesankan. Di bawah rimbun pepohonan, sekawanan kera bergerak lincah, melompat dari dahan ke dahan, sebagian duduk diam memperhatikan manusia dengan tatapan waspada tapi tenang.

Bhaskoro menghentikan langkahnya sejenak. Kera-kera itu seperti penjaga sunyi Umbul Jumprit, simbol alam yang masih setia bertahan di tengah arus kunjungan manusia. Ada rasa takzim yang tumbuh, seolah tempat ini bukan sekadar destinasi, melainkan ruang hidup yang harus dihormati.

Aku tersenyum kecil, mengikuti gerak seekor anak kera yang bersembunyi di balik induknya. Anak kera itu merasakan kehangatan sederhana, sebuah pengingat bahwa alam selalu menyimpan cara halus untuk menghibur, tanpa perlu kata-kata. Suasana hening yang tadi terasa sakral kini dilunakkan oleh kehidupan yang bergerak bebas.

Ayesha justru terlihat sedang merasakan ketenangan paling dalam. Kera-kera itu, seperti berbisik pelan, bahwa keseimbangan antara manusia dan alam masih mungkin dijaga.

Dengan langkah perlahan, kami pun beranjak meninggalkan Umbul Jumprit. Kera-kera itu tetap di sana, menyatu dengan pepohonan dan mata air, menjadi kenangan terakhir yang melekat, penutup perjalanan sederhana, tapi meninggalkan kesan mendalam.

Ananta Kama

8. Situs Liyangan, Sebuah Jejak Kehidupan 0. Jejak Sejarah dan Misteri yang Belum Terkuak

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *