Ayesha mengelus perutnya sambil menepuk pundakku. Astaga kenapa aku melupakan urusan perut. Bukankah tadi pagi kami belum sarapan? Saking asiknya sampai lupa dengan perut yang mulai menuntut perhatian. Udara pegunungan yang sejak pagi menemani langkah perlahan berubah menjadi undangan halus untuk berhenti sejenak, mencari kehangatan yang berbeda.
Bhaskoro melajukan mobil pelahan, jalanan berkelok menuju Parakan ditempuh dengan obrolan ringan dan tawa kecil yang didominasi Ayesha. Aku lebih banyak diam membayangkan semangkuk mie ongklok yang hangat dengan kuah kental yang menguarkan aroma khas.
Bhaskoro menepuk bahuku saat mobil berhenti, aku mengerjap saat menyadari saat ini kami berada di depan Warung Mie Ongklok Podo Moro. Astaga … kenapa Bhaskoro seperti bisa membaca pikiranku.
Sepertinya makan siang kali ini bukan sekadar memenuhi tuntutan perut, tapi perhentian yang menjanjikan kebersamaan. Bhaskoro memasuki warung dengan senyum tipis, seperti menggodaku, aku mengedikkan bahu acuh. Urusan perut lebih penting daripada keburu pingsan.
“Ini apa?” tanya Ayesha sambil menunjuk gambar pada banner di depan warung.
“Ini mie ongklok,” jawabku bersemangat, sudah terbayang lezatnya mie yang dipadukan dengan sate sapi.
“Mie … ongklok? Apa bedanya dengan mie yang lain?” tanya Ayesha lagi.
“Mie ongklok adalah makanan khas Kota Wonosobo yang terkenal,” jawabku.
“Tapi ini Temanggung, kan?” protes Ayesha.
Aku terkekeh pelan, “Wonosobo adalah tetangga terdekat Temanggung, secara kultur budaya dan sosial masyarakat ada persamaan, jadi banyak kuliner khas Wonosobo yang ada juga di Temanggung.”
Bhaskoro memesan tiga porsi mie dan tiga puluh tusuk sate sapi, tak lupa es sekoteng sebagai penutupnya. Tak butuh waktu lama mie yang sangat enak karena kuahnya yang terbuat dari campuran alami itu sudah terhidang.
“Mie ongklok dimasak dengan campuran udang kering, saripati singkong, dan gula merah yang bercampur bubuk kacang. Diberi topping campuran bawang goreng, irisan daun kucai, dan taburan lada,”paparku. Ayesha memasukan sendok berisi kuah mie yang masih mengepul ke mulut, sekejap kemudian ia mengacungkan jempolnya dan tanpa banyak bicara segera menyantap hidangan kuliner dari warung mie ongklok Pak Mat yang berada di perempatan Kauman, Parakan ini.
Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan, tujuan kali ini adalah situs bersejarah di Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, sebuah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno abad ke-9, Situs ini juga terkenal dengan Prasasti Gondosuli yang ditulis tahun 832 M, menjelaskan tentang masa pemerintahan Rakai Patahan, dan reruntuhan Candi Gondosuli di antaranya batu-batu candi dan patung Nandi.
Saat kami tiba di lokasi candi kami disambut oleh sebuah batu besar berukuran berukuran sekitar 50×116 cm yang dilindungi atap dan pagar. Namun, kondisi pagar yang melindungi prasasti ini terlihat rusak, kemungkinan besar akibat kurangnya perawatan yang memadai serta pengaruh cuaca ekstrem yang sering melanda wilayah Temanggung.
“Itu adalah Prasasti Gondosuli,” jawab Bhaskoro menjelaskan. Kami mengamati prasasti yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan huruf Jawa Kuno, berisi informasi penting tentang raja Rakai Patahan, putra dari Sanjaya, raja Mataram Hindu dan bangunan suci “Sang Hyang Wintang” yang juga dikenal sebagai Candi Gondosuli.
“Candi Gondosuli sering disebut juga sebagai reruntuhan karena terdiri dari tumpukan batu-batu candi yang berserakan dan patung nandi yang tidak utuh, sebagian bangunannya terkubur tanah atau berada di bawah pemukiman warga,” ulas Bhaskoro.
“Dilihat dari bentuknya, Candi Gondosuli memiliki karakter mirip dengan Candi Pringapus,” ujar Ayesha.
“Benar, karena sama-sama bercorak hindu,” jawab Bhaskoro lagi.
Ayesha beberapa kali berdecak kagum, melihat keunikan candi dengan latar belakang panorama alam dan kebun tembakau sepanjang perjalanan. Letaknya yang berada di kawasan kaya akan budaya, situs ini menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat pada masa prasejarah di Indonesia.
Penemuan berbagai artefak dan struktur bangunan memberikan gambaran tentang keberadaan peradaban yang telah berkembang jauh sebelum catatan sejarah tertulis.
Dari informasi yang dapat kami himpun dari petugas, beberapa tahun lalu, pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah pernah melakukan upaya penggalian untuk mengungkap lebih dalam mengenai situs ini. Namun, upaya penggalian tersebut harus dihentikan karena tanah di atas bangunan candi yang terpendam digunakan sebagai pemakaman umum oleh masyarakat setempat.
Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam upaya untuk menggali lebih jauh dan melestarikan situs ini. Meskipun demikian, situs ini tetap menyimpan banyak misteri yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sejarah Situs Gondosuli sangat penting untuk terus dikenali, dipelajari, dan dilestarikan.
Kami meninggalkan Candi Gondosuli dengan langkah berat. Semakin kami mengenal setiap serpihan masa lalu, semakin menguat tekad untuk terus menguak setiap misteri di balik reruntuhan batu-batu itu. Mobil melaju pelahan, jalan yang kami tempuh terasa lebih sunyi, diapit ladang dan perkampungan yang seolah menjaga rahasia waktu.
Tak jauh dari Candi Gondosuli, tepatnya di Dusun Ngadisari, Desa Gondosuli, juga terdapat sebuah situs peninggalan kerajaan agama Hindu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, situs candi Ngadisari merupakan sebuah tempat persembahan yang dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan situs tersebut juga diyakini merupakan perintah langsung dari Rakai Pikatan, seorang Raja Mataram kuno yang berkuasa sekitar tahun 840-856 M.
Saat memasuki area candi, di dalam situs terdapat sebuah batu yoni yang berdiri kokoh.
“Tunggu, hampir di setiap candi aku bisa menemukan yoni, tapi jujur aku masih kurang paham sebenarnya yoni itu apa? Ada yang bisa jelaskan?” celetuk Ayesha. Aku menoleh cepat dengan alis bertaut, jadi selama ini ia tidak tahu apa itu yoni? bukankah aku pernah menjelaskan tentang yoni? Apakah aku lupa? Ah, bisa jadi aku hanya menjelaskan pada Zack?
“Yoni merupakan sebuah lapik atau tempat lingga berbentuk kubus dengan cerat di salah satu sisinya, yang berfungsi sebagai penyalur air untuk membasuh arca atau lingga,” jawabku. Tapi sayangnya bagian penyangga dari yoni di candi Ngadisari ini sudah rusak dimakan usia.
“Tapi aku tidak menemukan lingga?” protes Ayesha.
“Batu lingga yang merupakan pasangan dari yoni sudah hilang entah kemana,” jawab Bhaskoro, ia justru menunjuk sebuah arca di sekitar yoni yang menyerupai Dewi dalam agama Hindu, ada juga beberapa pecahan saluran air candi atau Jaladwara.
Seorang petugas mendekati, Ayesha banyak bertanya hal-hal yang masih menjadi misteri adanya kemungkinan penemuan situs baru berupa reruntuhan candi dan arca-arca yang berada disekitar situs Candi Ngadisari.
“Hal tersebut berdasar kesaksian warga setempat yang hingga kini masih sering menemukan batuan-batuan candi pada saat menggali tanah di sekitar situs candi Ngadisari. Temuan tersebut biasanya berupa batuan candi yang tersusun menyerupai sebuah dasar candi yang ukuranya lebih besar dari situs candi Ngadisari itu sendiri. Hal itu menambah kemungkinan bahwa ukuran dari situs candi Ngadisari sendiri sebenarnya lebih besar dari yang terlihat pada saat ini,” papar petugas dengan kumis tebal tersebut.
Situs candi Ngadisari yang masih misteri menjadi keunikan tersendiri dari banyaknya peninggalan kebudayaan Hindu yang ada di pulau Jawa.
“Keunikan tersebut sudah sepantasnya kita lindungi dan lestarikan bersama. Hal ini karena situs-situs tersebut merupakan bukti bahwa leluhur kita merupakan bangsa yang telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang maju,” ujarku. Ayesha mengamati setiap detail batuan, gadis itu sangat teliti mencatat setiap bentuk saksi sejarah.
“Sangat disayangkan jika peninggalan para leluhur yang menawan ini, kita biarkan dan kita acuhkan sehingga akan rusak dengan sendirinya dimakan usia,” gumam Ayesha lirih. Aku mengangguk setuju.
“Kita lihat situs candi Ngadisari yang kondisinya tidak terawat dan dibiarkan begitu saja. Hal ini juga diperparah dengan belum adanya perhatian khusus dari pihak Balai Pelestarian Cagar budaya Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Temanggung terhadap situs tersebut,” pungkasku saat kami meninggalkan situs. Ada rasa yang menggelitik, masih banyak misteri yang belum sempat terkuak, miris jika jejak sejarah ini harus rusak.
Udara yang berembus dari Lereng Sindoro mengalir lembut, membawa sisa-sisa keheningan dari candi-candi yang masih melekat di benak. Dalam perjalanan singkat itu, kami merasa seperti sedang menyusuri benang sejarah yang tak putus. Dari satu candi ke candi lain, menyadari bahwa setiap batu, setiap arah, adalah bagian dari kisah panjang yang masih ingin kami dengarkan.









