Home / Topik / Wisata / 2. Candi Morangan, Sebuah Jejak Kalimat yang Belum Selesai

2. Candi Morangan, Sebuah Jejak Kalimat yang Belum Selesai

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 3 of 13 in the series Melukis Jejak

Leon berdiri di lobi penginapan kecil di Kulonprogo. Setelah menyimpan ransel di kamar, ia merasa lega. Keringat perjalanan panjang dari Frankfurt–Jakarta–Yogyakarta belum sepenuhnya kering, tapi senyum di wajahnya tak bisa disembunyikan. Matanya berkeliling, mencari satu sosok yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.

Ketika pintu penginapan terbuka,  seorang perempuan berhijab navy melangkah masuk dengan langkah cepat, Leon langsung mengenalinya dari cara Nadia berjalan, tegas tapi hangat seperti orang yang terbiasa menentukan arah, tapi tetap memberi ruang bagi kejutan.

“Bist du bereit?” tanya Nadia

“Sehr bereit,” jawab Leon tanpa ragu.

“Ich dachte, du wolltest dich noch ausruhen,” goda Nadia.

“Ich bin eigentlich bester Laune.” Sekali lagi Leon menjawab mantap

Nadia terkekeh. “Kamu terlihat sangat bersemangat. Selamat datang di dunia eksplorasi jejak sejarah, yang bagi orang lain terdengar asing, membosankan, dan seperti buang-buang waktu.”

Leon hanya mencebik dengan sudut bibir terangkat lucu, bergegas mengikuti Nadia yang berjalan mendahului. Perempuan bertubuh mungil itu mengeluarkan kunci mobil dari tas selempangnya, sebuah mobil tua berwarna abu-abu yang catnya sudah mulai pudar, tapi tampak terawat.

“Mobil ini saksi banyak perjalanan,” ujar Nadia sambil membuka pintu pengemudi, “Termasuk perjalanan ke tempat-tempat yang tidak ada di Google Maps.”

Leon langsung tertarik. “Itu salah satu sebab aku datang ke sini,” katanya sambil duduk di kursi penumpang. “Di Jerman, hampir semua situs sudah terdokumentasi rapi.”

“Dan tanpa sengaja kita bertemu untuk tujuan yang sama. Di sini … masih banyak cerita yang bersembunyi, jejak yang masih abstrak. Karena itu aku ingin melukis jejak itu agar dapat dilihat dan dikenal banyak orang,” ujar Nadia.

Mesin mobil menyala, dan mereka melaju meninggalkan penginapan. Kulonprogo perlahan menjauh, sawah hijau, rumah-rumah sederhana, dan Gunung Merapi yang berdiri diam tapi berwibawa di kejauhan menyambut.

Nadia mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di dudukan dashboard, “Aku biasanya pakai peta offline,” katanya. “Bukan Google Maps. Ini peta lama, hasil kompilasi catatan BPCB, cerita warga, dan sedikit intuisi.”

Leon mencondongkan tubuh, memperhatikan layar, “Menarik. Jadi kita berburu jejak, bukan destinasi wisata.”

“Persis,” jawab Nadia. “Hari ini kita akan ke Candi Morangan.”

Leon mengernyit. “Morangan … aku belum pernah dengar.”

“Itu reaksi yang tepat,” kata Nadia sambil tersenyum kecil,  “Candi ini tidak megah, bahkan banyak orang warga sini sendiri tidak tahu keberadaannya.”

Leon mengangkat alis takjub, “Menarik ….”

Mobil berbelok memasuki jalan desa yang lebih sempit. Aspal berganti beton kasar, lalu sebagian tanah berbatu. Nadia mengemudi dengan tenang, seolah sudah hafal setiap lubang.

“Kamu sering ke sini?” tanya Leon.

“Tidak terlalu sering,” jawab Nadia.

“Nanti Kamu akan rasakan sesuatu yang berbeda. Candi itu seperti punya suasana sendiri.”

Leon terdiam sejenak, menatap Nadia dengan tatapan kagum, “Aku suka caramu bercerita. Kamu tidak memposisikan dirimu sebagai penemu, tapi sebagai pendengar.”

Nadia melirik sekilas. “Karena situs-situs ini tidak suka diklaim. Mereka lebih suka disapa.”

Mereka tertawa kecil, lepas, dan bersahabat, lalu suasana hening sejenak, diisi suara mesin dan angin dari jendela yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.

Sesampainya di dekat lokasi, Nadia memarkir mobil di tepi jalan kecil. “Kita harus jalan kaki dari sini,” katanya.

Mereka menyusuri jalan setapak di antara pemukiman warga. Leon mengeluarkan kamera kecil dari tas selempangnya.

“Kamu selalu mendokumentasikan?” tanya Nadia.

“Iya, tapi bukan untuk pamer. Lebih untuk mengingat. Kadang ingatan manusia tidak sekuat batu.”

Nadia mengangguk pelan. “Atau justru batu yang menyimpan ingatan manusia.”

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah area candi yang berlokasi di Dusun Morangan, Desa  Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Beberapa batu andesit tersusun sederhana, sebagian tertutup lumut. Tidak ada pagar tinggi, hanya papan kecil bertuliskan: Situs Candi Morangan.

Candi bercorak agama Hindu ini berada tak jauh dari Kali Gendol Merapi dan diperkirakan dibangun pada abad 9 atau 10 Masehi pada masa Kerajaan Mataram kuno. Terletak di tengah pemukiman warga dan berada pada kedalaman 2,5 meter di bawah permukaan tanah.

Leon menatap takjub pada struktur bangunan candi yang terdiri dari dua bangunan yaitu candi induk dan candi perwara yang disusun dari batuan andesit. Candi induk menghadap ke barat memiliki satu bilik dengan denah bujur sangkar berukuran 7,98 x 7,98 meter dengan selasar 90 meter, terdapat yoni dan beberapa arca di dalam relung-relung candi induk sebagai bukti bahwa Candi Morangan memang berlatar belakang agama Hindu.

Sedangkan Candi Perwara berdenah bujur sangkat dengan ukuran kurang lebih 4 x 4 meter dan menghadap ke arah timur.

Salah satu keunikan dari Candi Morangan adalah adanya arca Nandi, kendaraan milik Dewa Shiwa. Nadia menjelaskan pahatan relief yang banyak terdapat di sana. 

Relief jenis ini biasanya hanya bisa ditemui di candi-candi dengan corak agama Budha, tentu saja hal ini menjadi sangat unik.

Leon mengamati batu-batu andesit yang banyak berserakan.

“Sampai saat ini bangunan Candi Morangan masih dalam proses pemugaran dan belum tersusun secara utuh, tapi kita tetap bisa mengamati relief-relief dengan rangkaian kisah di reruntuhan dinding candi,” ujarku menjelaskan.

Leon mengambil beberapa gambar, menanyakan setiap relief yang tidak banyak diketahuinya. Nadia menjelaskan sejauh yang ia ketahui tentang  6 relief yang bisa dibaca di candi Morangan ini. Relief pertama berupa gambar dua laki-laki yang sedang mengapit bunga. Diperkirakan relief ini menggambarkan salah satu proses dalam upacara keagamaan agama Hindu.

Relief kedua berupa wanita yang mengapit kendi besar sekaligus membawa kendi-kendi yang berukuran lebih kecil. Kendi adalah benda untuk menyimpan air suci yang dipercaya bisa menghapus dosa.

Relief ketiga adalah gambar dua wanita yang sedang menaiki gajah. Dahulu gajah hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu sebagai simbol kemegahan dan kehormatan kerajaan.

Relief ke empat berupa tiga orang resi yang membawa lontar pustaka dan bunga teratai biru.

Relief ke lima merupakan relief ayam jantan yang disangga oleh Gana, menurut kepercayaan umat Hindu Gana adalah makhluk kecil yang selalu mengiringi Dewa Shiwa, selain itu ayam juga selalu digunakan sebagai binatang persembahan.

Sedangkan relief ke enam berada di batang kaki dan tubuh candi khusus mengisahkan cerita fabel Tantri Kamandakan, tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing. Cerita ini menunjukkan toleransi antara Hindu dan Buddha.

Leon melangkah mendekat, matanya menyapu setiap detail. “Sederhana, tapi terasa … utuh.”

“Banyak yang bilang ini hanya reruntuhan,” ujar Nadia sambil berjongkok. “Tapi bagiku, ini seperti kalimat yang belum selesai.”

Leon ikut berjongkok, menyentuh permukaan batu dengan ujung jarinya, “Di Eropa, batu seperti ini akan dipagari, diberi lampu, tiket masuk. Di sini … ia dibiarkan bernapas.”

“Itu kelebihan sekaligus kelemahannya,” sahut Nadia. “Ia bebas, tapi juga rentan.”

Mereka duduk di atas batu besar di pinggir situs. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah.

“Kenapa kamu tertarik pada tempat-tempat seperti ini?” tanya Leon tiba-tiba.

Nadia terdiam sejenak. “Karena mereka tidak menuntut apa-apa. Mereka hanya ada. Dan keberadaan itu sering kali lebih jujur daripada narasi besar sejarah.”

Leon tersenyum. “Jawaban yang sangat jenius, Nadia.”

“Kamu belum lama mengenalku, tapi Kamu memujiku terlalu tinggi,” balas Nadia sambil tertawa.

“Tapi aku merasa sudah lama berjalan bersamamu,” jawab Leon ringan.

Mata Nadia bertemu dengan mata Leon, ada jeda singkat yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Nadia lalu berdiri, memecah keheningan.

“Ayo, kita kelilingi sekali lagi. Biasanya ada detail kecil yang baru terlihat kalau kita tidak terburu-buru.”

Leon mengangguk setuju, mengikuti Nadia mengitari situs sekali lagi sambil berbincang tentang kemungkinan fungsi candi, tentang warga sekitar yang kadang masih meletakkan bunga dan sesuai, tentang perjalanan Leon meninggalkan Jerman untuk sesuatu yang belum bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Matahari mulai naik, Nadia menatap Leon sebelum kembali masuk ke mobil, “Ini baru awal, Leon. Masih banyak titik di peta yang belum kita jamah.”

Leon mengangguk mantap. “Dan aku siap menjelajahinya bersamamu.”

Mobil kembali melaju meninggalkan Morangan, membawa dua orang yang memiliki rasa ingin tahu yang sama, dan sebuah peta yang semakin hidup oleh percakapan dan langkah kaki mereka.

***

Note :

Bist du bereit?: Sudah siap?

Sehr bereit: Sangat siap.

Ich dachte, du wolltest dich noch ausruhen: Aku pikir kamu masih ingin istirahat.

Ich bin eigentlich bester Laune: Aku justru sedang bersemangat

Melukis Jejak

. Kebetulan yang Luar Biasa . Kidung Siwa di Situs Potro

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image