Home / Genre / Fiksi Sejarah / 16. Naik Tahtanya Sang Penerus Sultan Murad

16. Naik Tahtanya Sang Penerus Sultan Murad

Muhammad al-Fatih
This entry is part 18 of 20 in the series Muhammad al-Fatih


Di ruang penyembuhan, Şehzade Mehmed siuman. Memang pada saat itu, para tabib Kesultanan Utsmani adalah tabib terbaik pada masanya. Maka, dengan waktu singkat, Şehzade Mehmed dapat sembuh kembali—yang kesembuhannya dipadukan oleh kemampuan yang luar biasa dari para tabib, dan pengetahuan yang luas tentang obat-obatan herbal. Dengan ucapan syukur, Gülbahar Hatun sangat senang melihat Şehzade Mehmed kembali bangun dari pingsan yang cukup panjang.

Sementara di penjara bawah tanah, Orhan Çelebi sedang menunggu seseorang untuk menyelamatkan dirinya. Ia tampak terlihat percaya diri bahwa dirinya akan bebas. Orang yang akan menyelamatkannya adalah Salvador, tangan kanannya Megaduke Notaras. Sambil menunggu, ia menikmati hidangan tahanan yang diberikan oleh penjaga penjara.

“Cepatlah Salvador. Aku sudah menunggumu dan siap untuk keluar dari penjara ini.” Ujar Orhan Çelebi berbicara sendiri.

Di Konstantinopel, Kaisar Konstantinos XI Palaiologos sudah bersama saudaranya, Demetrios yang sudah sampai sejak hari kemarin. Mereka sedang merencanakan penghancuran total Kesultanan Utsmani, setelah meninggalnya Sultan Murad Han.

“Demetrios, Turki Utsmani tengah berada diambang kehancuran. Sultan Murad sudah meninggal dunia. Maka, tak ada harapan lagi bagi mereka untuk meneruskan roda kekuasaannya.” Kata Kaisar Konstantinos XI Palaiologos.

“Saudaraku, masih ada Mehmed. Jika ia naik tahta, aku rasa masih menjadi ancaman bagi kita.” Jawab Demetrios.

“Mehmed pernah diturunkan secara paksa oleh Sultan Murad, karena ambisinya yang tak masuk akal. Tentunya, ia akan kehilangan dukungan saat ini.” Kata Kaisar Konstantinos XI Palaiologos dengan angkuhnya.

“Persiapkanlah dirimu, untuk bergabung dengan Janos Hunyadi. Kita akan menghancurkan mereka selagi kondisi mereka tidak stabil.” Lanjut Kaisar Konstantinos.

Dengan segera Demetrios menjalankan perintah saudaranya, Kaisar Konstantinos XI Palaiologos sembari berkata “Baik, kaisar yang agung.”

Demetrios pun langsung menemui Komandan Jacob untuk melakukan persiapan perang.

“Komandan, persiapkan Pasukan Ordo Templar! Saatnya untuk menghancurkan sisa-sisa kekuatan Turki Utsmani.”

“Baik, yang mulia. Aku akan mengerahkan 2.000 pasukan. 1 orang pasukan cukup untuk melawan 3 sampai 4 orang Turki.” Jawab Komandan Jacob.

“Bagus, Komandan. Aku tahu maksudmu. Yaitu, pasukan kita mampu memukul mundur bangsa Frank¹ yang jumlahnya jauh lebih banyak pada saat itu.” Kata Demetrios dengan rasa bangga.

Dengan segera, Komandan Jacob mengumpulkan pasukannya.

***

Di Istana Kesultanan, Şehzade Mehmed sudah tampak kuat. Ia pergi menemui putranya, yang masih berumur 7 tahun, Bayezid. Ia menceritakan bagaimana Şehzade Mehmed menikahi ibundanya, Gülbahar Hatun. Pernikahan yang awalnya diadakan secara sederhana pada tahun 1446, dan dirayakan setelah Bayezid sudah berumur 2 tahun.

“Dengan kisah panjangku bersama ibumu, aku sebagai ayahmu berharap engkau menjadi seorang yang dapat membuat ibumu bangga. Maka, lihatlah Şahabettin Pasha yang sedang melatih anak-anak Edirne, kau harus lebih baik dari mereka.” Kata Şehzade Mehmed.

Begitulah motivasi visioner seorang ayah kepada anaknya, agar api semangat sang anak terus membara. Setelah itu, Şehzade Mehmed menyuruh Bayezid untuk ikut berlatih bersama Şahabettin Pasha.

Di tempat lain Edirne, Daye Hatun membawa Halime Hatun dan Şehzade Ahmed menuju salah satu tempat dengan mata tertutup. Sambil membawa keduanya, Daye Hatun berkata,

“Maaf Halime Hatun, ini perintah Çandarlı Halil Pasha untuk menutup mata kalian. Sebab, tempat ini adalah tempat rahasia.”

Tanpa rasa curiga, Halime Hatun mengangguk saja, karena sudah percaya terhadap Daye Hatun. Tak lama, mereka sampai di tempat tersebut. Setelah sampai, Daye Hatun membuka penutup mata yang dikenakan pada Halime Hatun dan Şehzade Ahmed. Lalu, mempersilakan keduanya untuk duduk. Di Tempat itu, sudah ada yang menunggu yaitu, Halil Şahbaz Bey.

“Kalian bersama Halil Şahbaz Bey terlebih dahulu, sebab Çandarlı Halil Pasha sedang sibuk melakukan tugas kenegaraan.” Kata Daye Hatun kepada Halime Hatun dan Şehzade Ahmed.

“Baik, Daye Hatun. Terima kasih.” Jawab Halime Hatun.

Daye Hatun hanya mengangguk sambil tersenyum.

Kembali ke Istana Kesultanan, Mara Hatun segera melakukan persiapan untuk kenaikan tahta Şehzade Mehmed. Jubah atau biasa disebut dengan kaftan untuk pelantikan sudah siap dikenakan. Dengan filosofi keberanian dari Syekh Aaq Samsedin, kaftan warna merah disertai manik-manik warna emas, cocok bagi Şehzade Mehmed kala naik tahta.

Persiapan pun sudah selesai.

Dengan upacara pelantikan yang megah, Şehzade Mehmed berjalan dengan gagah bagaikan elang yang perkasa menuju seremonial kursi tahta kesultanan. Disambut suara terompet upacara berlangsung meriah. Seluruh yang hadir pada upacara tersebut, memberi penghormatan kepada Şehzade Mehmed, baik pasukan Akinji, Janissari, hingga para Pasha menunduk seperempat badan sebagai tanda penerimaan Şehzade Mehmed dalam meneruskan perjuangan Sultan Murad Han. Lalu, Şehzade Mehmed duduk diatas kursi kesultanan, dan penghormatan pun selesai. Dengan duduknya Şehzade Mehmed, kini ia resmi menjadi sultan yang baru pada Kesultanan Turki Utsmani.


¹ Bangsa Frank pada masa itu adalah orang-orang Perancis.

Muhammad al-Fatih

5. Penentuan “Siapakah yang Akan Naik Tahta?” 7. Langkah Pertama Sultan Mehmed

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image