Basha terbangun saat tubuhnya terasa panas dan berkeringat.
‘Sialan! Ternyata cuma mimpi!’ Basha mendengus keras memaki dirinya dalam hati. Semalam rupanya dia tertidur di sofa, dan apa yang dia lalui bersama Zelia hanya mimpi akibat pikirannya yang terlalu fokus pada masalah yang menimpa Lyra, mungkin juga refleksi dari rasa bersalah. Bagaimanapun dia peduli pada gadis itu, setidaknya sebagai teman.
Usai termenung selama lima belas menit, Basha masuk ke kamar mandi.
Waktu menunjukkan pukul 05.30, butuh 30 menit untuk bersiap-siap pergi ke restoran. Seperti biasa, Basha pergi terburu-buru dan untuk kesekian kali dia memutuskan untuk sarapan di sana.
Beberapa pegawai terlihat sedang membersihkan lounge dan menyiapkan banyak hal sebelum restoran dibuka. Beberapa orang menyambut kedatangan Basha dengan hormat, lalu salah satu pegawai mengantarkan kopi ke meja kerjanya.
“Bertha, Buatkan aku sarapan, omelet dan ham sepertinya enak. Antar ke ruanganku, ya. Thank you.” Basha tersenyum pada pegawainya.
Bertha menyatukan ujung ibu jari dan telunjuk sambil menjawab, “Ok!”
Baru dua tahun Basha mengelola restoran ini, tapi rasanya seluruh jiwa raganya sudah menyatu, bahkan hubungan dengan pegawai di sana sudah terjalin hangat—seperti keluarga—hingga dia merasa ini adalah rumah kedua setelah flat dingin yang ditinggalinya selama ini.
Orang tuanya meninggalkan warisan tanah yang tidak terlalu luas, tetapi Basha benar-benar menggunakannya dengan baik hingga bisa merintis usahanya yang sekarang. Dia bersyukur saat akan menikah dia sudah mempunyai usaha. Baginya yang sebatang kara, bisa mempersunting wanita sekelas Zelia adalah anugerah indah.
Basha terlihat serius membaca beberapa laporan yang menumpuk di mejanya saat telpon berdering. Laki-laki itu segera mengangkat gagang abu-abu itu dan mendengarkan beberapa saat. Dia terlihat beberapa kali mengangguk dan menyetujui perkataan orang di ujung sana.
“Baik, saya tunggu.” Basha mengakhiri percakapan singkat itu lalu termenung. Perhatiannya kemudian terpecah saat anak buahnya mengingatkan tentang briefing sebelum restoran dibuka. Basha mengangguk dan bergegas menyusul pegawainya yang sudah pergi lebih dulu.
Setengah jam setelah restoran dibuka, seorang pria dengan setelan jas dengan brand ternama sudah berada di hadapan Basha di kantornya. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai pengacara Lyra, lebih tepatnya penasehat hukum. Tubuhnya tinggi besar dengan postur tegap, sesuai dengan namanya, dia akan sangat mudah dikenali di mana saja.
“Orion Smith? Apa yang bisa saya bantu?” Basha menyalami pria tegap itu dengan ramah. Orion berusaha menanggapi dengan gaya yang sama tetapi gagal. Senyumnya terlihat lebih mirip seringai anjing penjaga. Basha memperhatikan pria di depannya baik-baik. Meskipun Orion lebih muda—dengan pembawaan yang kaku—dia terlihat begitu tenang.
“Saya datang hanya untuk bertanya seputar hubungan pertemanan Anda dengan klien saya, semoga itu tidak merepotkan.” Suaranya tegas dan berwibawa.
“Oh, boleh, boleh, tentu saja … tidak repot sama sekali. Silakan, dengan senang hati saya akan menjawab dengan sebaik saya bisa.” Basha bicara apa adanya karena dia memang ingin membantu Lyra, hanya saja dia tidak tahu bagaimana. Setidaknya kedatangan Orion bisa jadi adalah jawaban dari keinginannya.
“Bagaimana anda mengenal Nona Lyra?” tanyanya kemudian.
“Saya mengenalnya saat masih berkuliah ….” Basha menceritakan secara garis besar awal dia mengenal gadis itu, lalu apa yang terjadi selanjutnya sampai keadaan berbalik yang membuat Lyra terjebak dalam ambisinya yang ternyata berujung petaka.
“Lyra mungkin termasuk gadis yang ceroboh, suka semaunya, egois, dan sekalipun ada yang mungkin tersakiti karena sikapnya, dia sama sekali bukan termasuk sosok yang suka menyakiti orang lain dengan sengaja.
“Baiklah, Tuan. Terima kasih atas waktu dan ceritanya. Terimakasih juga untuk kopinya yang enak.” Orion tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Datanglah lain kali. Saya akan mentraktir Anda dengan senang hati.” Basha menawarkan dengan tulus. Orion membalasnya dengan senyum lebar.
“Apakah Lyra bisa bebas?” tanya Basha tiba-tiba. Itu pertanyaan terbesarnya sejak Lyra ditangkap.
Orion terlihat berpikir sejenak.
“Setelah membunuh? Bukankah itu tidak adil bagi keluarga korban? Bagaimanapun saya akan memastikan klien saya menerima hak sesuai dengan kapasitasnya sebagai tersangka. Setidaknya dia berhasil membela diri, mestinya dia mendapatkan pujian, kan? Tetapi karena ada yang kehilangan nyawa jadi ujungnya sedikit berbeda. Kita berdoa saja, semoga juri tidak menutup mata, mengingat mendiang korban juga punya catatan kelam berhubungan dengan kriminal dan pelecehan.” Kali ini suara Orion terdengar yakin.
Orion pamit dengan membawa surat titipan dari Basha untuk Lyra.
Basha menatap punggung Orion yang segera menghilang di balik pintu kantornya. Dia berharap pria itu melakukan tugasnya sesuai dengan namanya dalam rasi bintang, “Sang Pemburu”.










