Home / Fiksi / Novel / PROLOG: Judul yang Menolak untuk Ditulis

PROLOG: Judul yang Menolak untuk Ditulis

Semua orang sibuk mencari nama. Ada yang ingin namanya terpahat di batu nisan dengan gelar yang panjang, ada yang ingin namanya diteriakkan di podium-podium kota, dan ada yang cukup puas namanya terselip di dalam doa-doa rahasia yang tak pernah sampai ke langit.

Aku? Aku lebih suka menjadi anonim. Menjadi debu di selangkangan sejarah.

Di hadapanku, sebuah cangkir kopi sudah mendingin. Di permukaannya, pantulan wajahku terlihat pecah, terbelah oleh uap yang sisa sedikit. Aku sedang mencoba mengingat-ngingat: kapan terakhir kali aku merasa benar-benar hidup? Apakah saat aku bersujud bersanding kesetiaan yang paling putih? Ataukah saat aku berdiri di atas bak truk, meneriakkan revolusi yang ternyata hanya sebuah lelucon panjang nan penuh masturbasi kata-kata lalu berakhir hanya sebagai onani retorika?

Orang bilang, waktu adalah penyembuh yang paling jujur. Tapi bagiku, waktu adalah pencuri yang paling lihai. Ia mengambil apa yang seharusnya tak boleh pergi, ia merenggut idealismeku, dan kini ia mencoba mengambil kewarasanku.

Sore ini, aku memutuskan untuk tidak memberi judul pada apa pun. Biarlah fragmen-fragmen ini berceceran seperti darah dari luka yang menolak kering. Jangan harap kau akan menemukan alur yang lurus di sini. Karena hidupku sendiri sudah lama melingkar, tersesat dalam labirin yang kubangun dari tumpukan dosa dan sisa-sisa kebebalan.

Jika kau mencari akhir yang bahagia, kau salah alamat. Di sini, kita hanya akan belajar satu hal: bagaimana cara jatuh dengan martabat yang tetap terjaga.

Lalu, sebuah suara memecah lamunanku. Suara gerendel pintu yang terbuka.

Aku menoleh, dan tersenyum kecut. Ternyata, musuh yang paling gigih mengajakku berdebat  lagi-lagi hanya dia.
(Bersambung ke Bab. 1: Cahaya yang Terjungkal).

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image