Home / Fiksi / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 55

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 55

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 56 of 59 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Jelaskan, Bu. Apa maksudnya itu?”

“S-sebenarnya Ibu sakit kanker stadium akhir. Dokter sudah menyerah. Sekarang umur Ibu tidak lama lagi, dan Ibu tidak mau menyia-nyiakannya. Ibu ingin menghabiskan sisa umur Ibu bersamamu Nak.”

Tangan yang tadinya menggenggam erat tangan Silvia di lepas oleh Silvia sendiri. Tapi tak lama kemudian dia memeluk ibunya seraya berurai air mata. Pertemuan ini sudah membuatnya bahagia, tapi dia harus menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan Ibu yang baru saja mengisi sebuah tempat istimewa di hatinya.

Iyes juga merasa sangat haru melihat kedua insan yang baru saja dipertemukan itu harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

“Kalau begitu, tinggallah di sini, setidaknya sampai Bu Desi sembuh.” Iyes berharap ibu kandung Silvia itu bersedia tinggal bersamanya agar dia tidak kehilangan Silvia.

“Ha…. Ha…. Sampai sembuh? Itu tidak mungkin terjadi Bu Iyes. Yang aku ingin sekarang hanya menghabiskan waktuku bersama Silvia.”

“Baiklah. Setidaknya tinggallah sampai seminggu,” pinta Bu Iyes dengan pandangan mata memohon.

Melihat Bu Iyes yang benar-benar berharap dia mau menerima tawarannya Bu Desi pun tidak enak hati untuk menolak.

“Baiklah, Bu Iyes. Saya dan Silvia akan tinggal di sini, tapi hanya sampai seminggu. Saya sudah banyak merepotkan Ibu selama ini, dan sekarang saya tidak mau merepotkan lagi.”

“Ok, terima kasih, Bu Desi. Terima kasih karena Ibu sudah mau tinggal di sini, walaupun cuma seminggu,” ucap Bu Iyes sambil memegang pundak Bu Desi sebelah kanan, karena Bu Iyes duduk di sebelah kanan Bu Desi, sedangkan Silvia duduk di sebelah kiri Bu Desi.

Mereka semua akhirnya mengucap puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala.

“Alhamdulillah…. Kalau begitu nanti sore kita adakan syukuran atas pertemuan Silvia dan ibu kandungnya, sekalian syukuran karena kita masih diberi kesehatan untuk menyambut bulan suci Ramadhan,” ucap Hermansyah dengan penuh rasa syukur.

“Iya, betul itu,” timpal Bu Iyes. Kalau begitu, kami yang perempuan akan mempersiapkan hidangan untuk acara syukurannya, Bapak pergilah ke rumah pak RT untuk mengundang warga kompleks,” tambahnya.

Sampai menjelang sore hari Silvia ikut membantu Bu Iyes dan Bu Desi untuk mempersiapkan bingkisan dan juga hidangan untuk para tamu.

Dokter Dana juga ikut membantu persiapannya. Di sela-sela pekerjaannya membantu keluarga Silvia, dia mencuri-curi pandang ke arah Silvia. Dia melihat Silvia bagaikan seorang putri yang sangat cantik mempesona saat dia sibuk bekerja. Apa lagi saat Silvia memakai gamis berwarna putih dipadukan dengan jilbab berwarna senada. Sungguh dia merasa sangat beruntung bisa bertunangan dengan wanita secantik dan sebaik Silvia.

Terkadang dia harus menelan rasa malu karena terpergok oleh Keluarganya dan sahabat Silvia saat dia sedang mencuri pandang kepada Silvia.

Diacara itu juga hadir keluarga besar Dokter Dana dan sahabat Silvia, yaitu Boby.

Singkat cerita, acara syukuran pun berlangsung dengan hikmat. Dan tidak lupa mereka mengabadikan momen itu dengan berfoto.

Semua tamu yang menghadiri acara itu sudah pulang. Yang tinggal hanya keluarga Silvia dan keluarga Dokter Dana. Mereka duduk bersantai bersama keluarga besar Dokter Dana sekalian membahas rencana pernikahan Silvia dan Dokter Dana.

Pak Efendi Kusuma memulai percakapan.

“Bagaimana kalau kita percepat pernikahan anak-anak kita, Her?” ujar Efendi kepada Hermansyah.

“Kalau aku sih, oke saja, Bang. Tapi ada baiknya kalau kita minta pendapat anak-anak kita, Bang?”

“Iya, benar.” Efendi menoleh kepada Dokter Dana dan bertanya. “Bagaimana Dana? Apa kamu setuju kalau pernikahanmu dipercepat?” tanyanya sambil tersenyum.

Dokter Dana merasa malu ditanyai dan diberi senyuman seperti itu, karena tadi dia terpergok sedang memandangi Silvia. Tapi bagaimana pun dia harus menjawab pertanyaan papanya.

“Terserah Papa saja, Pa.” Dia pun langsung menunduk setelah itu. Tapi salah satu keluarganya, seorang sepupu perempuannya yang masih sekolah menengah menyela, “Wah Kak Dana jadi malu ditanyai sama Om Pendi,” ujarnya. Seketika suasana jadi rame dengan gelak tawa.

Silvia hanya tersenyum menyaksikan kelakar calon adiknya itu. Sebenarnya dia juga ikut merasa malu sampai mukanya memerah.

Tiara yang bahagia melihat kebahagiaan kakaknya tertawa riang dan memeluk Silvia.

“Aku jadi gak sabar melihat kakakku tersayang ini jadi pengantin,” ucapnya dengan memangku Silvia.

“Kalau kamu bagaimana, Nak? Apa kamu setuju jika pernikahanmu kita percepat?” tanya Hermansyah kepada Silvia.

“Aku serahkan keputusannya kepada Ibu Desi, Yah,” jawabnya dengan memegang jemari tangan ibunya.

“Bagaimana Bu Desi? Apa Ibu setuju jika pernikahan Silvia kita percepat?” tanya Hermansyah kepada ibu kandung Silvia.

Bu Desi merasa terharu karena anaknya menyerahkan keputusan kepadanya.

Dia sangat memahami perasaan anaknya. Dia tahu apa yang diinginkan anaknya. Dia bisa melihat Silvia merasa bahagia berada di sisi Dokter Dana. Kebahagiaan anaknya adalah yang utama baginya saat ini. Karena dia akan sangat bahagia bila melihat anaknya bahagia.

“Tentu saja saya setuju. Itu ide yang sangat bagus. Semakin cepat semakin baik,” jawab Bu Desi dengan senyum ramah.

“Alhamdulillah,” ucap Efendi Kusuma dan seluruh keluarga.

Efendi Kusuma juga menambahkan, “Jadi, sekarang kita tinggal tentukan tanggal yang tepat.”

“Bagaimana kalau bulan depan?” tanya Efendi Kusuma seraya melihat ke arah Hermansyah, dan seluruh keluarganya dan keluarga Silvia.

“Setuju….”

Mereka serempak menjawabnya.

“Tunggu dulu! Kenapa harus bulan depan?” terdengar suara seseorang mengutarakan pendapatnya. Semua mata tertuju padanya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 54 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 56

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image