Langit Jerman tampak kelabu saat pesawat yang ditumpangi Syena akhirnya mendarat dengan mulus. Nafasnya terasa berat sejak roda pesawat menyentuh landasan. Ini bukan sekadar perjalanan biasa—ini adalah pelarian, sekaligus awal dari kehidupan baru yang belum ia pahami sepenuhnya.
Ia menggenggam erat tas kecilnya saat melangkah keluar dari pintu kedatangan. Orang-orang berlalu lalang dengan cepat, sebagian berbicara dalam bahasa yang asing di telinganya. Namun, di antara keramaian itu, matanya menangkap sosok yang berdiri sambil melambaikan tangan dengan senyum hangat.
“Halo, Syena!”
“Hafsa!” serunya, suaranya sedikit bergetar.
Mereka berpelukan erat. Hangat dan lama. Seolah pelukan itu mampu meredakan semua ketakutan yang selama ini dipendam Syena sendirian.
Hafsa menarik tubuhnya sedikit menjauh, menatap wajah Syena dengan cermat. “Kamu kelihatan capek … tapi masih cantik seperti biasa,” godanya ringan.
Syena tersenyum kecil, meski matanya menyimpan lelah yang tak bisa disembunyikan. “Perjalanannya lumayan panjang … dan mungkin juga karena masalah yang terlalu berat beberapa waktu terakhir.”
Hafsa tidak langsung bertanya. Ia hanya menggenggam tangan Syena dan mengajaknya berjalan keluar bandara. “Kita pulang dulu. Kamu butuh istirahat. Ceritanya nanti saja.”
Mobil kecil milik Hafsa melaju membelah jalanan kota yang tertata rapi. Gedung-gedung tinggi berdiri dengan anggun, berbeda jauh dari suasana kampung halaman Syena. Namun, keindahan itu terasa hambar baginya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Syena menarik napas panjang.
“Hafsa … sebenarnya … aku kabur.”
Hafsa melirik sekilas, tapi tetap fokus menyetir. “Dari siapa?”
“Dari seseorang yang tidak mau kehilangan aku. Tapi dia mengejar dengan cara yang salah.”
Pelahan cerita mengalir, tentang kariernya yang berada di puncak kesuksesan, lalu tentang pertemuan tidak sengaja yang awalnya ia anggap biasa saja, lalu berubah menjadi obsesi Raka yang menakutkan. Tentang bagaimana laki-laki yang pernah menghancurkan kehormatannya itu selalu muncul di setiap tempat yang tidak seharusnya ia ketahui. Tentang ketukan di pintu kontrakan di malam hari, ketakutan dan rasa diawasi yang membuat Syena tidak bisa tidur dengan tenang.
Suara Syena sempat bergetar saat ia menceritakan malam terakhir sebelum ia pergi.
“Aku bahkan tidak berani menyalakan lampu, Hafsa. Aku takut dia tahu aku masih di dalam … aku merasa seperti … seperti tidak punya ruang untuk bernapas.”
Mobil melambat, lalu berhenti di pinggir jalan. Hafsa mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Syena. Matanya lembut, tapi tegas.
“Kamu melakukan hal yang benar dengan pergi.”
Kalimat itu sederhana, tapi seperti menenangkan badai dalam dada Syena.
“Aku takut dan tidak tahu apa pelarian ini keputusan yang benar,” bisiknya lirih
“Kadang kita perlu untuk pergi, bukan untuk lari. Tapi menyelamatkan diri.”
Suasana hening sesaat, Hafsa kemudian tersenyum kecil, “Dan kamu datang ke tempat yang tepat.”
*
Rumah Hafsa tidak terlalu besar, tapi hangat dan nyaman. Ada aroma kayu dan teh yang menenangkan. Di dindingnya tergantung gambar-gambar anak kecil dan beberapa lukisan sederhana penuh warna.
Syena memperhatikannya sambil duduk di sofa.
“Ini … murid-muridmu?” tanyanya.
Hafsa mengangguk bangga. “Ya. Aku punya sekolah kecil. Taman kanak-kanak. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat dunia kecil yang aman untuk mereka.”
Syena tersenyum tipis. “Kamu selalu seperti ini. Membuat dunia jadi lebih hangat.”
Hafsa tertawa pelan. “Dan kamu selalu membuat cerita jadi hidup. Mungkin untuklah itu kita dipertemukan kembali.”
Syena menoleh, sedikit bingung. “Maksudmu?”
Hafsa duduk di seberangnya, menatapnya penuh keyakinan, “Aku sempat melihat video yang Kamu unggah saat memandu wisata. Cara Kamu bercerita tentang candi, sejarah, bahkan hal kecil, semuanya terasa nyata. Orang-orang bukan cuma mendengar, tapi mereka juga merasakan, seperti terlibat di dalamnya.”
Syena terdiam. Sudah lama ia tidak mendengar pujian seperti itu. Sejak Raka muncul dalam hidupnya, semua yang ia rasakan hanyalah tekanan.
“Aku butuh orang seperti Kamu di sekolahku,” lanjut Hafsa. “Anak-anak di sana … mereka butuh imajinasi. Butuh cerita, butuh seseorang yang bisa membuat mereka mencintai dunia sejak kecil.”
Syena mengerjap pelan. “Aku? Mengajar anak-anak?”
“Kenapa tidak?”
“Aku tidak punya pengalaman mengajar apalagi anak TK.”
Hafsa mengangkat bahu santai. “Mengajar itu bisa dipelajari. Tapi menyentuh hati, itu bakat. Dan kamu memiliki itu.”
Kalimat Hafsa membuat Syena terdiam lama. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan bergerak. Sebuah harapan kecil yang sudah lama hilang.
“Tinggallah di sini sementara,” kata Hafsa lembut. “Kamu bisa mulai dari membantu. Tidak perlu langsung terlibat. Pelan-pelan saja.”
Syena menunduk, jemarinya saling bertaut, “Bagaimana kalau dia masih mencariku …?”
Hafsa langsung menjawab tanpa ragu, meraih jemari tangan Syena dan menggenggamnya. “Di sini kamu aman, jika dia muncul … kita hadapi bersama.”
Nada suaranya tegas dan penuh keyakinan, setelah sekian lama, ini untuk pertama kalinya Syena ingin mempercayai seseorang sepenuhnya kembali.
*
Hari pertama di sekolah Hafsa datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Syena mematung di halaman gedung sederhana dengan halaman kecil yang dipenuhi mainan warna-warni. Tawa anak-anak terdengar bahkan sebelum Syena masuk ke dalam.
Ia mengikuti langkah Hafsa memasuki ruangan, tapi saat berdiri di depan pintu, ia sedikit ragu.
“Kamu gugup?” tanya Hafsa di sampingnya.
“Sedikit.” Syena menghirup udara sebanyak-banyaknya, sesuatu yang berbeda merasuki paru-parunya, membuatnya merasa tenang.
Hafsa tersenyum sambil menepuk bahu Syena.l, “Itu tanda kamu peduli.”
Mereka lalu masuk bersama. Beberapa anak langsung menoleh. Mata-mata kecil itu penuh rasa ingin tahu.
“Guten Morgen, Kinder,” sapa Hafsa ramah.
“Guten Morgen, Fräulein Hafsa,” Suara riuh bersahutan menjawab salam Hafsa.
“Hari ini kita punya teman baru. Namanya Fräulein Syena.”
“Halooo, Fräulein Syena!” seru mereka serempak.
Suara polos itu membuat hati Syena mencair seketika. Ia membalas dengan senyum, sedikit canggung. “Halo .…”
Seorang anak perempuan kecil mendekat, menarik ujung bajunya. “Fräulein Syena bisa cerita?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, membuat dada Syena bergetar. Ia menatap Hafsa, perempuan berdarah blasteran Maroko dan Jerman itu hanya mengangguk kecil. Seolah berkata: ini saatnya.
Syena menarik napas panjang, lalu berjongkok agar sejajar dengan anak-anak.
“Kamu mau Fräulein cerita apa?” tanyanya.
Anak-anak mulai duduk melingkar, menunggu dengan antusias. Dan tiba-tiba, sesuatu dalam diri Syena kembali hidup.
“Di negeri yang jauh dari sini … ada sebuah tempat bernama Borobudur…”
Anak-anak mulai mendekat, mendengar dengan antusias
“… di sana ada batu-batu yang bisa bercerita. Tapi hanya orang yang mau mendengarkan dengan hati yang bisa memahami.”
Syena mulai bercerita dengan suara yang jernih, gerak tangannya hidup. Matanya kembali berbinar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Syena lupa pada rasa takut. Cerita tentang Jataka, Kelinci bijaksana pada relief Candi Borobudur yang pernah dimainkan melalui wayang relief itu kembali mengalir, kepiawaiannya menyampaikan membuat cerita seperti hidup.
Sejenak ia tidak lagi memikirkan Raka, tidak memikirkan pelariannya dan bayangan gelap yang pernah menghantuinya. Yang ada saat itu hanya tawa anak-anak, mata yang berbinar, dan applaus yang mengalir hangat.
Hafsa berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dengan senyum haru. Ia tahu, Syena tidak hanya sedang bercerita, tapi sedang menemukan dirinya kembali.
*
Sore itu, setelah anak-anak pulang, Syena duduk di bangku kecil di halaman. Cuaca dingin musim gugur mulai turun, matahari dengan cahaya keemasan tidak lagi muncul, hanya menyisakan langit abu-abu.
“Terima kasih, aku … benar-benar tidak menyangka …,” katanya pelan.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Hafsa.
“Kamu membuatku bisa merasa tenang lagi.”
Hafsa duduk di sampingnya. “Bukan karena aku, tapi karena kamu kembali melakukan apa yang kamu cintai tanpa rasa takut. Kamu kembali menjadi dirimu sendiri.”
Syena mengangguk, “Tanpa Kamu, aku mungkin masih terpuruk di Indonesia.”
Hafsa tersenyum. “Ini baru awal, dan … masa depanmu ditentukan oleh keberanianmu mengubah jalan hidupmu sendiri.”
Syena menatap langit yang perlahan berubah gelap, tapi gelap yang tidak menakutkan karena dalam gelap itu justru ia melihat cahaya. Meski ia tahu masa lalunya belum benar-benar selesai. Suatu hari nanti mungkin ia harus menghadapi, tapi kali ini ia tidak merasa sendirian.
***










