Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 56

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 56

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 57 of 59 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Semua mata tertuju padanya. Dokter Dana kembali melanjutkan ucapannya.

“Kenapa tidak Minggu depan saja?”

Semua orang tertawa mendengar Dokter Dana protes.

“Satu bulan itu bukan waktu yang lama kok, Dan,” terang Efendi kepada putra sulungnya.

“Iya, Nak. Segala sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik, Nak?” ibunya juga ikut memberi pengertian.

“Iya nih, Kakak ngebet banget sih pingin nikah cepat-cepat,” seloroh Lily adik bungsunya yang sukses membuat Dokter Dana menjadi malu.

“Hus…. Kamu ini apa-apaan, sih,” ucap ibunya sambil mencubit manja telinga anaknya itu.

“Adu_duh, sakit Ibu.”

“Syukurin,” ejek Dokter Dana kepada adiknya sambil tersenyum. Dia memang sangat menyayangi adiknya itu. Tapi dia juga sering menjahilinya.

“Weeek,” cibir Lily dengan menjulurkan lidahnya. Mereka tertawa melihat kelakuan kakak adik itu.

Setelah keputusan tanggal dan bulan pernikahan mereka dipastikan, keluarga besar Dokter Dana berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.

Dokter Dana menemui Silvia, dia ingin sekali memberikan sebuah kecupan perpisahan, namun dia malu di depan keluarga Silvia dan keluarganya.

Akhirnya dia hanya memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Silvia. Silvia mencium punggung tangan Dokter Dana dengan hikmat.

Setelah semua keluarga Dokter Dana pergi, Silvia menemui ibu kandungnya.

“Bu, Ibu baik-baik saja kan?” tanyanya karena melihat wajah ibunya agak pucat.

“Ibu baik-baik saja, kok,” ujarnya sambil tersenyum.

“Aku lihat muka Ibu agak pucat. Lebih baik Ibu istirahat di kamar, yuk?”

“Silvia benar, Bu Desi. Mungkin karena Bu Desi kelelahan, lebih baik Bu Desi istirahat di kamar,” suruh Bu Iyes dengan lembut.

“Iya, Bu. Ayok aku antar ke kamar.”

Silvia membimbing ibunya sampai ke kamar tamu. Setelah itu Silvia kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin berlama-lama di kamar ibunya, karena dia takut akan mengganggu istirahat ibunya.

***

Keesokan paginya, Silvia mendapatkan pesan dari Kanaya agar dia tidak lupa untuk pergi ke acara ulang tahun Rani sendirian seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.

Hingga tibalah saatnya untuk pergi ke acara ulang tahun Rani. Silvia memang sengaja pergi tanpa pengawalan. Dia sudah merasa tidak pantas lagi mendapatkan perlakuan istimewa.

Pak Herman juga tidak mau memaksa agar Silvia tetap menerima hak istimewa darinya. Dia hanya ingin membuat putrinya merasa nyaman.

“Baiklah, Nak. Kalau kamu memang tidak merasa nyaman dengan pengawalan, ayah tidak akan memaksanya. Senyaman kamu saja, Nak, tapi kalau sopir, kamu tidak boleh menolaknya,” ucap Pak Herman.

Silvia tiba di lokasi pesta. Dia melihat Dokter Dana berjalan dengan Kanaya, dia tahu itu hanya sandiwara. Dia hanya melewati mereka tanpa menoleh, seolah mereka memang sedang marahan.

Rani datang menemuinya. “Halo Silvia.”

“Hay, Rani. Selamat ulang tahun, ya?”

“Iya. Terima kasih, Silvia. O iya, kamu tidak bersama dengan Dana? Soalnya tadi dia datang bersama dengan Kanaya,” ucapnya pura-pura prihatin.

“He…, He….”

Saat itu Pazel pun datang.

“Hay Rani. Selamat ulang tahun,” ucapnya sambil bersalaman.

“”Hay. Terima kasih Pak Pazel. Kenalkan ini temanku Silvia. Silvia, kenalkan, ini Pak Pazel.”

“Hm, iya,” jawab Silvia.

“Kalau begitu saya tinggal dulu, ya?” Rani pun berlalu meninggalkan mereka berdua. Sebelum meninggalkan mereka kedipan mata penuh kelicikan diarahkan ke Silvia.

Sebenarnya Silvia sangat jijik berdekatan dengan mantan suaminya itu. Tapi demi misi untuk membuka kejahatan mereka dia rela untuk membuang rasa bencinya kepada Pazel.

“Hai, Silvia,” sapa Pazel memulai percakapan.

“Hai juga,” jawabnya asal.

“Kamu tidak bersama dengan tunanganmu?”

“Seperti yang kamu lihat.”

“Saya juga sendiri.”

“Saya tidak bertanya.”

“Silvia. Tolong jangan seperti ini. Kamu tahu kan, semua yang terjadi antara aku dan Rima itu hanyalah kecelakaan.”

“Ohya? Saya tidak tahu dan tidak mau tahu.”

“Apa kamu haus?”

“Tidak.”

Pazel tetap memanggil pelayan untuk membawakan minuman untuknya.

“Minumlah sedikit Silvia,”

Silvia akhirnya mengambil minuman itu setelah mendapat isyarat dari Kanaya.

Setelah lima menit berlalu, Pazel terlihat resah menunggu reaksi obat yang telah dicampurkan ke dalam minuman Silvia.

Akhirnya yang ditunggunya datang juga. Silvia memijat keningnya. Saat itulah Pazel beraksi dengan rayuan gombalnya.

“Ada apa Silvia? Apa kamu sakit?”

“Kepalaku rasanya agak pusing. Aku juga ngantuk banget.”

“Aku akan bantu kamu cari tempat untuk istirahat.”

Rani datang menawarkan bantuan seperti yang sudah direncanakannya.

“Ada apa ini?” ujarnya setelah melihat Silvia agak pusing.

“Dia pusing, mungkin karena capek dan banyak pikiran,” jawab Pazel.

“Ya sudah. Bawa dia ke kamar tamu. Ikut aku,” ajaknya.

Mereka berjalan menuju kamar yang dimaksud. Saat melewati para tamu, ada beberapa yang sedang mengobrol.

“Eh, tau gak? Bos Dana, dengan tunangannya yang putri konglomerat itu sudah putus.”

“Ah. Masa, sih?”

“Benar. Tadi saya ketemu dengan Bos Dana, dia datang ke sini bukan dengan tunangannya itu tapi dengan mantannya yang artis itu lho.”

“Wajar sajalah. Silvia itu kan bukan lagi Putri konglomerat. Dia sudah miskin,” ujar seorang lagi dari mereka.

“Lu kan bisa lihat. Dia datang ke sini sendiri, tanpa pengawal. Tau gak kenapa?” sambungnya lagi

“Kenapa?”

“Karena ternyata dia bukan putri kandung Pak Hermansyah.”

Seketika mereka menutup mulut mereka yang ternganga dan mata mereka terbuka lebar.

“”Kamu jangan asal bicara, Yun, tahu dari mana kamu kalau Bu Silvia itu bukan putri kandung Pak Hermansyah?” tanya salah satu dari mereka kepada wanita yang ternyata bernama Yuni itu.

“Adalah. Pokoknya informasi aku ini akurat,” jawabnya meyakinkan mereka.

Pazel dan Rani yang sempat berhenti karena mendengarkan gosip mereka, segera berjalan membawa Silvia ke dalam kamar.

Sesampainya di dalam kamar, Rani bicara kepada Pazel setelah dia membaringkan Silvia di tempat tidur.

“Sepertinya dia bukan lagi ancaman buatku. Tapi untuk antisipasi, kita tetap harus lakukan rencana kita.”

“Ternyata dia sudah bukan konglomerat lagi. Kalau aku tahu dari awal, ogah rasanya aku bermanis-manis dengan wanita mandul ini. Pantas saja Dokter Dana memutuskan dia!” cercanya dengan mimik yang sangar.

Saat dia sedang mengumpat Silvia terdengar bunyi dentuman, dia menoleh kebelakang. saat itu dia melihat Rani terkulai ke lantai.

“Rani…. Ah.”

Pazel pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 55 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 57

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image