Home / Genre / Chicklit / 30. L’amour de ma vie

30. L’amour de ma vie

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 31 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

Sekolah Karima mengadakan outing-class. Mereka mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang ada di kota itu. Semuanya tampak gembira. Beberapa bus berjajar menanti anak-anak itu masuk ke bus sesuai dengan kelas mereka masing-masing. Karima dan beberapa guru membersamai mereka.

Sepanjang perjalanan mereka sangat bergembira. Tahun ajaran baru kali ini ada outing-class semenjak Karima menjadi guru di sana. Dia juga yang mengusulkan adanya outing-class itu supaya murid-muridnya tidak jenuh belajar di sekolah saja. Mereka juga perlu eksplorasi dunia luar agar mengetahui apa saja yang ada di sana. Tentu saja untuk mempelajari sejarah yang ada.

Selama kurang lebih dua puluh menit mereka akhirnya sampai di Masjid Hassan II. Masjid kebanggaan rakyat Maroko yang ada di tepi Samudera Atlantik. Masjid yang didirikan di tepi laut itu dibangun tahan gempa oleh arsitek asal Prancis bernama Michel Pinseu yang bekerjasama dengan Raja Hassan II. Memadukan budaya Islam Moor dan modern yang langsung menghadap ke Samudera Atlantik.

Beberapa jam mereka berkeliling mengunjungi masjid ikonik itu. Ada sesuatu yang membuat hati Karima merindukan masa-masa tenang ingin dekat selalu dengan rabb-nya. Matanya mengembun. Dadanya sedikit sesak. Entah mengapa ada kedamaian terasa dalam hatinya manakala berada di salah satu sisi masjid itu seraya menatap jauh ke birunya air laut yang menenangkan.

Murid-muridnya masih asyik melihat-lihat bangunan itu

Ada yang becanda dan tertawa riang. Ada juga yang berkejaran di sana. Ada juga yang hanya diam dan memperhatikan setiap detail bangunan itu.

“Subhaanallaah,” gumam salah seorang muridnya. Karima tersenyum. 

“Indah, bukan?”

“Iya, Bu Guru. Sangat indah. Aku juga ingin menjadi arsitek dan mau buat banyak masjid di seluruh dunia,” ucapnya dengan binar bahagia.

“Insya Allah, Nak. Kau pasti akan berjaya dan sukses dengan tujuanmu, asal selalu libatkan Allah dalam setiap urusanmu ya?”

Anak itu mengangguk. Dia sangat bangga dengan gurunya yang tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati.

Murid-murid kelas enam mencatat hal-hal penting mengenai keberadaan masjid itu. Sebagai nilai tambah untuk ujian akhir nantinya. Tak terasa waktu dhuhur tiba. Semuanya bersiap untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.

Dari sana mereka menuju salah satu restoran yang telah dipesan sebelumnya. Restoran itu adalah salah satu restoran pizza yang sangat terkenal. Mereka tidak hanya makan, tetapi juga mempraktikkan cara membuat pizza bersama is chef yang sudah berpengalaman.  Restoran itu cukup luas, bahkan bisa dikatakan sangat luas sehingga mampu menampung banyak pengunjung.

Karima bermaksud mengambil pizza yang sudah ia pesan tadi dan hendak berbalik. Namun, sesosok tubuh menabraknya dan hampir saja ia limbung. Buru-buru orang itu menangkap tubuhnya.

“Maaf, aku tidak tahu jika ….”

Keduanya berpandangan.

“Youssef?” Mata Karima terbelalak menatapnya. Seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya kini. Youssef, seseorang yang dulu pernah dekat dengannya kini hadir lagi setelah sekian lama tiada sapa.

“Karima? Sungguh kau kah ini?” Youssef pun serasa tak percaya.

“Iya. Ini aku, Youssef.”

Youssef melepas pelukannya. Ada debar-debar dan gelenyar aneh dalam hatinya yang kembali terasa setelah sekian lama menghilang.

“Sedang apa di sini?” Youssef tersenyum ramah.

“Aku bersama murid-muridku. Ada outing-class untuk semua tingkat.”

Youssef menatap ke beberapa murid-murid sekolah yang masih asyik makan pizza mereka.

“Ada acara apa  hingga kau datang kemari, Youssef?” lanjut Karima.

Youssef masih tertegun menyaksikan keindahan di depannya.

“Ah, tidak. Aku kebetulan  ada tugas di sini,” jawab Youssef sedikit canggung.

“Tugas kerja maksudmu?”

“Ya. Kantorku tidak jauh dari sini.”

“Oh, baiklah. Sukses selalu untukmu. Aku harus pergi. Sampai nanti.”

“Sampai nanti, Karima.”

**

Malam itu Youssef tidak bisa memejamkan matanya. Bayang-bayang wajah Karima menari-nari di pelupuk mata. Nama Karima selama ini tersemat jauh di lubuk hati. Ada rasa yang dulu pernah ia simpan untuknya. Namun hingga kini Youssef tak mampu menyatakannya. Youssef sadar diri ada pria lain yang juga dekat dengan Karima. Siapa lagi jika bukan Yazid? Temannya saat wajib militer dulu.

Takdir mereka tak sama. Yazid adalah pemuda penuh wibawa dan karisma. Pesonanya begitu kuat bagi siapa saja yang ada di dekatnya, sedangkan dirinya hanyalah sampah masa lalu yang tengah ingin membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran yang melekat pada diri dan jiwanya.

Aku yakin kau sudah bersamanya. Kalian memang sepadan. Siapalah aku? Hanya insan penuh dosa yang tak benar-benar ada yang mau peduli? Meski begitu kau adalah cinta dalam hidupku. Aku menemukan cinta itu kembali saat mengenal dan bersamamu, meski kau tak ditakdirkan untukku. Kau layak mendapat yang terbaik. Amour de ma vie. Bolehkah aku memanggilmu begitu?

Malam kian larut. Cahaya rembulan yang tertutup sedikit awan kelabu menjadi pertanda jika dalam hatinya ada sesuatu yang harus ia benahi. Awan itu ibarat dosa-dosa yang pernah ia lakukan di masa lalu yang mungkin saja akan tersibak perlahan-lahan seperti halnya dirinya.

Ponselnya berdering. Satu nomor tak dikenal masuk. Secepatnya dia mengangkat. Ada suara asing dari seberang sana.

“Halo, siapa ini?”

“ Kau tak perlu tahu siapa aku, Youssef.  Tapi aku tahu siapa dirimu.”

“Katakan siapa kau sebenarnya.” Suara Youssef sedikit meninggi.

“Jangan merasa kau sudah memiliki pengaruh di perusahaan Leon. Kau hanyalah anak terbuang yang minta diakui. Kau tak layak menjadi pewarisnya yang sah, karena apa yang kau miliki akan segera berakhir.  Ingat. Jangan bangga!”

Klik.

Belum sempat Youssef menjawab, sang penelpon sudah memutuskan pembicaraannya.

Bernada ancaman.

“Aku tidak gentar dengan ancamanmu. Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi cepat atau lambat semuanya pasti akan segera terbongkar,” gumamnya lirih.

Youssef bangkit memandang kelam malam. Hatinya sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada kekhawatiran andai memang ada pihak-pihak yang ingin menghancurkannya.

Aku berlindung pada-Mu dari segala keburukan dan orang-orang jahat yang ingin mencelakakan diriku, Yaa Rabb. Kau penggenggam jiwaku. Hidup dan matiku. Aku takkan gentar dengan ancaman apapun karena itu takkan pernah menggoyahkan iman dan tekadku untuk terus memperbaiki diri. Ridhoilah hamba, Yaa Maliik.

Pikirannya memang sedikit terganggu, tetapi dia takkan terpengaruh. Perlahan, kedua matanya mengatup menuju alam bawah sadar. Membawanya berlayar menuju dunia lain yang menawarkan sisi lain keindahan yang tidak ia jumpai di dunia nyata. Sesuatu yang membuatnya sangat yakin atas segala rahasia hidup yang baik maupun yang buruk.

 Di sepertiga malam terakhir. Youssef terbangun. Bermunajat kepada Sang Khaliq atas semuanya. Apapun yang telah tertulis untuknya akan ia jalani dengan penuh keikhlasan. Bekalnya kembali kelak.

Sebiru Langit Casablanca

9. Y Tu Te Vas 1. Ancaman

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image