Dunia berpedoman jika sehat/kesehatan mudah dicapai dengan uang, demikian pula usaha-usaha mempertahankannya. Gak punya duit, jangan harap (tetap) sehat (atau mudah berobat)! Orang kaya dianggap lebih sehat/mudah memperoleh akses kesehatan jika dibandingkan dengan orang tak berpunya. Punya asuransi, bisa ke dokter top markotop, hingga tidak perlu khawatir jika sakit karena mudah berobat keluar negeri. Orang yang bergaya hidup sehat ala ini-itu dianggap jauh lebih mudah tetap awet muda, bahkan ada stereotip suku bangsa/ras tertentu yang dicap ‘udah dari sananya gak mudah tua’ karena faktor makanan, tempat tinggal nyaman-bersih, hingga kebiasaan hidup. Akan tetapi apakah semua itu sudah cukup atau sudah menjamin kesehatan hingga panjang usia? Apakah orang tak berpunya atau sedang dalam keadaan ekonomi kurang menguntungkan lantas mudah sakit-sakitan?
Mau hidup sehat bukan melulu soal dana, kebiasaan, domisili hingga keturunan. Bukan pula karena tips-tips kesehatan seperti yang sering kita dengar atau baca di media sosial atau media massa. Mudah sekali menuliskan/mengatakan atau membagikannya, akan tetapi belum tentu mudah dijalankan. Apa saja ‘rahasia’ sehat dari Firman Tuhan yang selama ini kita sering abaikan atau lupakan?
- Hati yang gembira adalah obat, seperti tertulis dalam Alkitab (Amsal 17:22). Pada zaman now, in this economy, hati gembira sejati amatlah langka. Orang mudah gembira karena menang game online, dapat hadiah, melakukan healing alias jalan-jalan plus makan enak, hingga self reward. Akan tetapi semua itu hanya sementara. Hati gembira sejatinya bukan diperoleh karena uang semata-mata, melainkan karena dijaga dari segala hal negatif. Bukan hanya dari faktor lingkungan, asupan, suplemen dan sebagainya, juga dari ‘sampah-sampah’ seperti dendam, akar pahit, hingga rasa sakit hati. Namanya juga sakit hati, bukan hanya istilah lain untuk baper (bawa perasaan). Sakit hati tak hanya dipendam dalam pikiran/perasaan melainkan bisa terbawa ke ‘hati’, dalam hal ini organ tubuh yang penting-penting. Agar hati penuh gembira sejati, yakinilah Firman Tuhan dengan sepenuh hati. Nah, lagi-lagi ada kata hati, saatnya berhati-hati!
- Tubuh manusia adalah image (citra) Allah serta gambaran Bait Allah. Jika citra itu kita rusak dengan kenegatifan (alkohol, rokok, terlalu banyak asupan garam-gula-lemak tinggi yang nikmat-lezat dan sebagainya), bagaimana kesehatan dapat bertahan? Ibarat dinding rumah setiap hari diasapi jelaga nikotin, ‘dicoret-coret’ hingga dikotori endapan kolesterol LDL, jiwa-roh kita tidak akan betah di dalamnya. Ah, saya masih kuat. Ah, saya ‘mah gapapa, udah biasa. ‘Kenikmatan masa muda’ yang bertahun-tahun sedemikian betah dijalani dapat membuat tubuh kita rapuh/rentan di masa tua. Jagalah, peliharalah Bait Allah kita, kesehatan adalah satu dari sekian harta yang paling berharga.
- Mau tubuh berotot bak binaragawan hingga body goals? Bukan hanya FOMO ikut-ikutan tren olahraga sehat segala macam seperti hyrox, maraton, padel dan sebagainya. Semua itu baik dan boleh-boleh saja dilakukan, akan tetapi jangan sampai berlebihan sehingga memicu kelelahan. Olahraga tidak perlu mahal atau berat, misalnya cukup berjalan kaki pagi-pagi di kompleks sekitar rumah, hingga bersenam di lahan terbatas masih mungkin dilakukan. Gerakan-gerakan mudah dan ringan banyak sekali di-share di internet, apabila perlu diskusikanlah cara melakukan atau jadwal-waktunya dengan keluarga atau tenaga kesehatan.
Last but not least, ingatlah pada kalimat mens sana in corpore sano, yang berarti jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat atau di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Tidak berarti kita harus berusaha be healthy and be happy all the time. Tubuh masih mungkin lemah, penyakit belum disembuhkan atau sakit lagi, akan tetapi ingatlah pada pemeliharaan Tuhan di masa lalu, kesempatan di masa kini, serta rencana-Nya bagi masa depan setiap kita.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 30 Juli 2026, di hari ulang tahun penulis ke-47









