Begitu Zhoya melihat Tatiana, jidatnya langsung berkerut tujuh lipatan. Tatiana langsung merasakan hawa membunuh menghunjam dari tatapan penuh kebencian yang Zhoya berikan padanya.
“Hai Zhoya,” katanya pelan, tetapi Zhoya tidak menjawab.
Tatiana masuk dan menghadap Cinde.
“Aku datang untuk meminta maaf atas segalanya, apa yang kulakukan egois dan jahat, dan aku…”
“Oh, baru sekarang kau cakap macam tu, hah. Kau pikir kautu udah be—” Zhoya menyebur marah. Tapi Cinde membungkamnya.
“Gue dengerin lu mau ngomong apa, Tati.”
“Ya,” lanjut Tatiana, “Aku melakukan segalanya untuk menyabotase pertemuanmu dengan pangeran dan aku minta maaf untuk semua orang yang terluka karena melakukan itu.”
“Kagak masalah. Lu udah gue maapin. Kagak ada lagi?”
“Ehm, aku sudah bicara dengan mamaku, dia memutuskan untuk memberimu setengah dari semua yang ayahmu tinggalkan untukmu yang kami ambil untuk kami sendiri, termasuk barang-barang mamamu.”
Cinde tampak terkejut, “Benarkah?”
“Ya.” kata Tatiana sambil tersenyum.
“Gue seneng dengernya. Makasih.”
“Ya, jadi, kuharap itu akan membuatmu melupakan semua dendam.”
“Oke, no problemo,” Cinde menjawab sementara Zhoya menggeram kesal.
“Satu hal lagi,” kata Irina bersemangat.
“Apa?”
“Pangeran dan ratu akan datang…”
Mendengar ini, jantung Cinde berdebar kencang sementara Zhoya kini tengah memperhatikan dengan saksama.
“Mereka datang untuk apa?” tanya Cinde.
“Untukku.” Tatiana berkata sambil tersenyum, menatap Zhoya dengan puas.
“Untuk kau? Kenapa pula kau?” tanya Zhoya.
“Yah, aku tidak tahu, kurasa ratu terkesan dengan usahaku menemukan pangeran itu, lagipula akulah yang membawanya kepadamu.” Katanya sambil tersenyum. “Aku hanya bilang untuk datang dan memberitahumu bahwa semuanya berjalan sempurna, Cinde, akulah yang memenangkan pangeran itu.”
Dia terkekeh sebelum meninggalkan ruangan sementara Cinde dan Zhoya masih mematung dalam keadaan shock berat.
“Oh, kagak!” teriak Zhoya. “Perempuan jahanam minta dijambak sampe botak!”
Cinde menelan ludah dan menghadapi temannya, “Tidak apa-apa, Zhoya! Mereka berdua pantas satu sama lain, lagipula aku mendapatkan setengah warisanku, hore!”
“Diam! Kau berhak atas semuanya termasuk rumah ini! Bapak kau mewariskan segalanya buat kau. Ingat, keluarga ini merampas kebahagiaan dan warisan kau!”
“Bagen. Bisa kagak lu diem?”
Zhoya mendidih karena amarah dan dia merasa seluruh kepalanya akan meledak, ini keterlaluan!
Tiba-tiba pintu terbuka dan Irina masuk, tampak marah. Kedua gadis itu terdiam.
“Irina, apa..” tanya Cinde.
“Diam!” teriak Irina. “Kamu bukan cuma bodoh, Cinde, tapi kamu juga tolol! Aku tidak percaya setelah semua ini, kau akan membiarkan si idiot itu mengambil segalanya darimu!”
Zhoya mengerutkan kening, “Apa yang kau bicarakan?”
“Biarpun dia bodoh, apa kau juga bodoh? Tidak bisakah kau bicara dengan temanmu untuk tidak menyerah! Tatiana jahat seperti ibuku dan sepertiku, hanya saja aku melihatnya apa adanya. Lihat, pangeran akan datang dan kalau aku jadi kamu, aku akan turun ke sana dan tidak bersembunyi di kamar!” Setelah itu, ia pergi, membanting pintu di belakangnya.
Kedua gadis itu menatapnya, terkejut.
“Dia ngomong apaan, sih?” tanya Cinde, tapi Zhoya cuam godek-godek kayak boneka dashboard..
***
Tatiana terlalu bersemangat hingga hampir tidak bisa bernapas. Mamanya telah memanggil semua orang untuk membantunya berpakaian dan sekarang dia duduk di ruang tamu dan menunggu pangeran tampannya.
***
Jantung Jun berdebar kencang ketika mobil berhenti dan dia keluar dari mobil bersama ibundanya ketika para penjaga membukakan pintu. Para dayang mengikuti ratu dengan keranjang berisi buah-buahan dan hadiah-hadiah lain yang mereka bawa.
“Jom, sayang…” kata ratu kepadanya saat mereka berjalan menuju rumah besar.
Zhoya meninggalkan sisi jendela dan menoleh ke Cinde yang sedang merapikan kain-kain di lemari.
“Jun ada di sini, kau mau tengok, tak?” tanyanya tetapi Cinde menggelengkan kepalanya, berusaha mati-matian untuk tidak menangis.
“Sayang, ayolah…”
“Kagak, gue kagak ngarti lu ngomongin siapa, sih?” kata Cinde, berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
Zhoya terdiam. Dia nggak ngejar Cinde, tahu kalau bestie-nya ke kamar mandi buat mewek. Sebaliknya, dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
***
“Ratuku…” kata Varya, mencium punggung tangan ratu sementara Tatiana melakukan hal yang sama.
Zhoya memperhatikan dari tempatnya berdiri di lantai atas, memperhatikan segala sesuatu di bawah sambil berusaha untuk tidak terlihat. Setelah salam dan ucapan terima kasih yang biasa, dia menatap Jun dengan saksama dan hanya bisa tersenyum. Jun sangat tampan, dia tahu kalau Cinde menatap Jun, semua dendam akan luluh.
“Jadi, Tatiana, aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan, kamu satu dari sejuta…” Sang ratu berkata.
Zhoya terus memperhatikan, mengamati sang pangeran yang tampak gelisah di tempat duduknya dan tolah-toleh ke mana-mana, seolah-oleh mencari seseorang.
“Jadi, putraku telah menyatakan niatnya kepadaku dan aku senang kamulah wanita yang ia bicarakan..”
Jun mengerutkan kening, berpikir ibundanya mungkin mabuk. Wanita itu cantik, tapi apa yang dibicarakan ibundanya?
“Yah, aku sangat senang, ratuku dan putriku juga,” Varya menjelaskan, tapi terputus ketika Jun terbatuk.
“Bunda, apa yang Bunda bicarakan?” tanyanya dan semua orang terdiam.
“Nak, bukankah ini wanita yang Bunda bicarakan?” tanya Fairuz, sementara Tatiana dan ibunya bertukar pandang…
“Dia yang diculik bersamamu, kan?” tanya Fairus.
“Bukan, Bunda. Bukan dia,” seru Jun dengan marah.
“Lakukan sesuatu…” bisik Varya kepada Taitana yang berdiri.
“Ya ampun, pangeranku, tapi aku diculik dan aku melakukan segalanya untuk menemukanmu dan…” Tatiana tersentak, jantungnya berdebar kencang.
“Maaf, nona muda, tapi aku bukan pangeranmu. Bunda, Jun rasa kita salah rumah….”
“Tidak, kau tak salah rumah!” teriak Zhoya dari tempatnya berdiri, dan semua orang mendongak.








