Beranda / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 65

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 65

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 66 of 70 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Setelah mendapatkan izin dari kantornya, Silvia memberitahu ibunya.

“Jam berapa kita akan ke rumah Ayah, Bu?”

“Setelah selesai sarapan. Tapi kamu hubungi dulu ayahmu. Tanya di mana dia.”

“Baiklah, Bu. Apa obat yang Ibu minum semalam ada reaksinya, Bu?”

“Iya, Nak. Tadi malam Ibu tidak lagi merasa kesakitan. Tidur Ibu pun terasa nyenyak.”

“Alhamdulillah, Bu. Setelah seminggu pemakaian obat itu, kita cek ke rumah sakit, ya, Bu?”

“Iya, Nak.”

Silvia kembali fokus kepada ponselnya. Dia menghubungi nomor ayahnya.

“Halo Ayah. Assalammualaikum,” ucapnya setelah ada jawaban dari seberang sana.

“Ya, wa’alaikummussalam. Ada apa, Nak?”

“Rencana kami mau menemui Ayah, apa Ayah ada di rumah, Yah?”

“Ada, Nak. Kamu boleh datang kapan pun menemui Ayah.”

“Iya, Yah. Terima kasih, Yah. Sebentar lagi kamu ke sana. Assalammualaikum, Ayah.”

“Wa’alaikummussalam, Nak.”

“Bagaimana, Nak? Apa ayahmu di rumah?” tanya Desi.

“Ada, Bu. Kita ke sana setelah sarapan.”

Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat ke perumahan elite dengan mengendarai motor.

Setelah sampai di depan pagar besi sebuah rumah besar nan megah, dia segera disambut oleh penjaga rumah. Beberapa bodyguard datang memberikan salam kepadanya.

“Selamat datang kembali, Nona,” ucap mereka seraya membungkukkan badannya.

“Terima kasih. Apa ayah ada di rumah?” tanya Silvia kepada salah satu bodyguard yang sering mengawal ayahnya.

“Ada, Non. Bos, sudah menunggu, Nona. Mari masuk.”

Bodyguard itu merentangkan tangannya dan menunjuk ke arah pintu menggunakan jempolnya.

“Assalammualaikum,” ucap Silvia dan ibunya, begitu mereka sampai di depan pintu masuk.

“Wa’alaikummussalam,” terdengar jawaban serentak dari arah dalam.

Tiara segera mengejar Silvia dan memeluknya.

“Aku kangen banget sama Kakak, jangan pergi lagi, ya Kak,” ucapnya sambil menghapus air matanya.

“Tante, jangan pisahin aku sama Kakak lagi, ya?” Tiara mengatakan itu seperti memohon sambil memeluk ibu kandung Silvia.

Desi hanya tersenyum melihat ketulusan Tiara menyayangi anak semata wayangnya.

Mereka akhirnya menyampaikan niat kedatangan mereka setelah berbasa-basi sejenak.

“Sebenarnya begini, Mas Her. Kedatangan kami ke sini untuk memperjelas sesuatu.”

Setelah diam beberapa saat, Bu Iyes menanyakan maksudnya lagi, karena dia sudah tidak sabar ingin mengetahui tentang hal yang ingin dijelaskan oleh Bu Desi.

“Apa itu, Bu Desi?”

Setelah menarik napasnya beberapa kali, perempuan empat puluh lima tahun itu pun mulai berbicara.

“Jadi, begini Bu Iyes. Sebenarnya kedatangan saya ke sini, ingin mengatakan siapa sebenarnya ayah kandung Silvia.”

Pak Hermansyah terlihat salah tingkah. Sebenarnya dia sudah mendengarkan percakapan antara Bu Desi dan Silvia. Dia segera pulang setelah tanpa sengaja dia menjatuhkan vas bunga.

Saat Silvia pulang dari kantornya secara kebetulan dia berpapasan dengan mobil Pak Hermansyah. Pak Herman sengaja menyuruh beberapa pengawal yang mengikutinya untuk pulang lebih dulu. Sedangkan dia mengikuti Silvia berdua dengan sopirnya saja.

Saat sampai di rumah Silvia, dia ingin mengetuk pintu dan memeluk putri yang sudah dirindukannya. Tapi melihat anaknya begitu bahagia, dia urung melakukannya.

Dia menunggu di luar pintu, sampai dia begitu terkejut saat mendengar penuturan orang yang pernah menjadi masa lalunya itu.

Semalaman suntuk matanya tidak bisa terpejam. Dia mengingat kembali masa lalu yang pernah dia lupakan. Masa lalu yang menyakitkan. Ketika dia sangat membutuhkan dukungan dan support dari orang terdekatnya, tapi mereka semua meninggalkannya, termasuk Desi yang saat itu menjadi kekasihnya.

Dia hampir saja mengakhiri hidupnya sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita yang bisa menerimanya apa adanya dan sekarang menjadi istrinya.

Semenjak itu dia mulai bangkit dan mencari pekerjaan. Walaupun penghasilannya tidak banyak, namun istrinya selalu bersyukur. Sampai suatu saat istrinya mengalami keguguran. Saat hendak pulang dari rumah sakit, dia menemukan seorang anak yang menangis di ruang tunggu rumah sakit tanpa ada yang menemaninya.

Pada saat itu, hatinya tergerak untuk mendekati anak kecil itu. Dilihatnya ada bekas luka bakar pada pergelangan tangannya. Dia pun menebus obat untuk luka bakar gadis kecil itu.

Setelah lama menunggu, namun orang tua gadis kecil itu tak kunjung datang. Dia menitipkan alamat rumahnya kepada petugas rumah sakit.

Dia dan istrinya sangat bahagia dengan tingkah lucu dan imut gadis kecil itu. Dia dan istrinya berharap agar orang tua gadis kecil itu tidak akan pernah kembali lagi agar dia bisa merawat hadis kecil yang menggemaskan itu sampai dewasa.

Namun ternyata, suara ketukan pintu seolah menghancurkan segala harapannya untuk memilikinya. Setelah membuka daun pintu, dia terkejut bukan main.

Orang yang selama ini sudah berhasil dia singkirkan dari daftar dendamnya dan dari ingatannya pada saat itu berdiri tepat di hadapannya. Darahnya saat itu bergejolak sampai ke ubun. Ingin kembali rasanya dia menutup daun pintu yang sudah terlanjur terbuka. Namun saat tangannya hendak meraih gagang pintu, suara gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Ibu dan berlari mengejar wanita itu ke arah pintu, lalu tenggelam dalam dekapan wanita itu.

Seketika Pak Herman hanya terpaku menyaksikan ibu dan anak itu berpelukan.

Pada saat itu rasanya dunia berhenti berputar, bagaimana mungkin takdir bisa mempertemukan dia lagi dengan orang yang sangat dia benci melalui malaikat kecil yang sudah berhasil merebut hatinya dan istrinya.

“Apakah Ibu ini ibunya gadis kecil ini?” tanya istrinya pada saat itu.”

“Iya, Bu. Maaf kalau anak saya sudah merepotkan Ibu dan Bapak,” ucap Desi kala itu.

“Dia sama sekali tidak merepotkan kami, kok. Justru kami senang, karena ada dia rumah kami menjadi ramai dan terasa lebih hidup. O iya mari silakan masuk.”

Istrinya mempersilakan orang yang sangat dibencinya itu untuk duduk. Meski dia sangat benci dengan Desi, namun dia tidak dapat mengusirnya, karena nanti istrinya pasti akan curiga. Dan sekarang keadaan seperti itu seperti diulang kembali.

Orang yang sangat dibencinya datang lagi, kali ini dengan maksud yang berbeda. Dia tidak tahu harus bagaimana, dia juga tidak tahu, apa dia harus senang atau marah.

Lamunannya tersentak saat istrinya memegang tangannya.

“Pak. Bapak gak apa-apa?” Dia mencemaskan keadaan suaminya. Karena dari semalam suaminya seperti orang yang sedang dilanda kebingungan.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 64 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 66

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *