Home / Fiksi / Cerpen / Peternakan Eyang Kakung

Peternakan Eyang Kakung

Peternakan Eyang Kakung
1

Eyang Kakung tinggal di desa, jauh dari rumah kami di kota. Dia tinggal di sebuah peternakan. Ada banyak ternak di peternakan itu dan beberapa di antaranya galak. Mereka mengejar orang asing dan menabraknya hingga jatuh tersungkur,  tetapi mereka tidak mengejar Eyang Kakung. 

Ada  banyak ayam, kambing, dan domba di peternakan Eyang Kakung. Banyak orang datang untuk membeli ayam, susu, dan telur di peternakan itu.

Suatu ketika, banyak ayam di peternakan Eyang Kakung mati mendadak. Seorang pria berpakaian jas putih dan sepatu bot hitam, mengendarai sepeda motor dengan sebuah kotak, mengatakan bahwa mereka menderita penyakit aneh, tetapi Eyang Kakung telat mengetahuinya. Kalau Eyang Kakung  meluangkan waktunya, seharusnya dia memperhatikan darah di kotoran ayam-ayam itu dan tahu bahwa mereka sakit. Eyang Kakung bilang pria ini adalah dokter hewan.

Tidak lama setelah ayam-ayam itu mati, ternak-ternak lain menyusul. Kaki dan mulut mereka membesar. Kata Eyang Kakung mereka bengkak, dan mereka terkena penyakit. Dokter hewan itu berkata bahwa mereka menderita penyakit kaki dan mulut, tetapi Eyang tidak punya cukup uang untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengobati ternaknya.

Tak lama kemudian, bencana kelaparan melanda desa Eyang Kakung. Eyang Kakung berhasil menyelamatkan seekor sapi, Irma. Meskipun desa sedang dilanda bencana kelaparan, Eyang Kakung menolak untuk menjualnya. 

Dia menjual semua kambing, domba, dan ayamnya, dan hanya menyisakan seekor ayam betina bernama Nara. Eyang Kakung dan semua orang di desa itu menderita kelaparan setiap hari, tetapi dia tetap memelihara Irma si sapi dan Nara, si ayam betina.

Sebulan kemudian, Nara mulai bertelur. Eyang Kakung segera membawa seekor ayam jantan dari rumah tetangganya. Ayam itu menaiki Nara, dan Nara mulai mengerami telur-telurnya. Setelah itu, Eyang Kakung kembali memelihara banyak ayam di peternakannya. 

Sekitar setahun kemudian, Irma juga melahirkan seekor anak sapi. Eyang Kakung berkata bahwa anak sapi disebut pedet. Karena Eyang Kakung berani berkorban, peternakannya kini memiliki banyak ayam dan sapi. Eyang Kakung sangat bahagia. Dia berhasil membeli kambing dan domba dari uang yang diperolehnya dari penjualan susu, telur, dan ayam.

Ada cukup makanan di desa dan semua orang senang. Aku senang mengunjungi peternakan Eyang Kakung. Aku suka membantu di petyernakan dan mendengarkan cerita Eyang Kakung.

Menteng, 1 Mei 2025

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image