Home / Non Fiksi / Belajar dari Kasus Grup Facebook Viral-Menyimpang: Ketika Halusinasi Jadi Pembawa Petaka

Belajar dari Kasus Grup Facebook Viral-Menyimpang: Ketika Halusinasi Jadi Pembawa Petaka

Medsos (freepik)
3

Bermunculannya grup-grup bak jamur di musim hujan di media-media sosial seperti Facebook sebenarnya bukan lagi fenomena sosial yang baru atau mencengangkan. Karena banyak yang gratis dan caranya sangat mudah, grup-grup apa saja pada umumnya mudah didirikan dan diikuti atau menjaring anggota. Apalagi menjaring calon anggota yang memiliki visi-misi yang sama, hobi-minat yang sama, serta mencari wadah untuk berbagi atau memberi dengan sesama anggota.

Sayangnya, kemudahan-kemudahan seperti itu tidak hanya membawa dampak positif saja. Dampak negatif seperti kasus viralnya grup FB berinisial ‘FS’ dan ‘SD’ tak luput dari berbagai hal yang barangkali menjadi awal/penyebab (meskipun secara tidak langsung).

Jauh sebelum ada grup atau wadah dunia maya apapun, sebagai generasi X, penulis sudah mengalami zaman dimana fantasi alias ‘halusinasi’ (khususnya kisah-kisah esek-esek alias ‘dewasa’ atau eksplorasi seksual, baik lurus maupun menyimpang) secara diam-diam maupun terang-terangan ‘ada namun dianggap tiada’ dalam masyarakat. Sebuah rahasia umum. Memang topik esek-esek hingga pelampiasannya, apalagi yang di ‘luar garis lurus’ bak hal tabu/terlarang, sebuah forbidden fruit; semakin dilanggar, semakin disembunyikan, konon malah semakin nikmat. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengendalikan diri atau bersikap bijaksana terhadap keberadaan hal-hal sensitif tersebut.

‘Halusinasi’ (dalam hal ini, pemikiran liar/fantasi) seksual manusia bukan hanya sekadar bicara mengenai hubungan intim antara suami-istri maupun laki-laki dan perempuan saja. Sejak dahulu kala, erotika-seksualitas sudah menjadi topik panas yang selalu laris diperbincangkan dan ‘dirayakan’. Mulai dari ukiran-relief erotis di candi-candi hingga lingga-yoni, kitab-kitab seperti Kamasutra-Serat Centhini hingga ‘ritual bercinta’ ala Jepang kuno, seksualitas seakan tak pernah surut-surutnya dibicarakan. Belum lagi novel-novel percintaan karya novelis terkenal terbitan publisher mayor hingga novel stensilan yang dijajakan di lokasi-lokasi ‘pasar gelap’ pada tahun 1980-1990-an, hingga zaman novel online (tentu saja tidak semuanya melulu percintaan erotis, apalagi diwarnai penyimpangan seksual). Tentu saja juga dalam format film/video yang masih hitam-putih hingga berwarna, kaset pita hingga CD-VCD-DVD dan tentu saja kini dalam format digital (rekaman, e-book dan sebagainya). Bahkan keberadaan AI alias kecerdasan buatan saja rentan disalahgunakan sebagai konten foto/video deepfake.

Tentu saja pada dasarnya tidak ada yang salah dengan adanya passion hingga halusinasi seksual tersebut, manusia memang ditakdirkan memiliki basic instinct, hasrat reproduksi/seksual untuk ‘memenuhi muka bumi’. Bagaimanapun keras/tegasnya ditekan atau dianggap sebagai pelanggaran (hukum), sebagian ‘oknum’ akan tetap mencari selaksa cara untuk menikmati ‘buah terlarang’ yang sudah ada sejak dahulu kala. Apalagi dengan adanya fantasi/halusinasi yang menyimpang seperti hubungan antara anggota keluarga (sedarah), tentunya sudah jauh menyimpang dan tidak kita harapkan terjadi. Penulis rasa tidak perlu dijabarkan lagi risiko-risiko besar secara medis dan psikologisnya, sudah sangat banyak media membahas tentang semua itu.

Bagaimana pengguna internet harus menyikapi keberadaan grup-konten-komunitas menyimpang semacam itu? Grup FS dan SD barangkali hanya satu-dua dari selaksa grup yang ada di Facebook/media sosial lainnya yang mungkin berisi hal-hal ‘tabu’yang lahirnya dari ‘halusinasi’ tanpa kendali itu. Bukan hanya masalah incest atau hubungan seksual terlarang lainnya, di baliknya ada banyak masalah sosial yang jauh lebih mendasar kompleks daripada sekadar pemenuhan kebutuhan hiburan atau iseng-iseng saja. Misalnya, kurangnya kendali atas apa yang bisa dimulai-dibagikan di internet dan bagaimana membatasinya selain lewat laporan pengguna. Sebagai pengguna internet/dunia maya, barangkali kita tak selalu mampu memilih-menyaring apa yang kita terima-ikuti-lihat/baca, selalu ada saja undangan/godaan lewat di beranda, meskipun kita belum subscribe atau follow. Apalagi jika membayangkan betapa rentannya anak-anak dan generasi penerus yang tidak mampu kita awasi selama 24 jam terpapar grup-konten semacamnya. Kekerasan hingga perundungan sangat rentan terjadi.

Bukan tak ada harapan lagi, tak mungkin direm bahkan dikurangi, kita bisa coba dari diri-lingkungan sendiri dahulu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Menanyakan kepada diri sendiri,“Apakah ini benar-benar grup yang saya ingin ikuti? Bagaimana jika diketahui anggota keluarga saya? Apa manfaatnya bagi saya?” Ini bukan hanya masalah larangan/pelanggaran dan sebab akibatnya, melainkan latihan kesusilaan bagi kita semua. Tidak mudah tergoda untuk mengikuti sebuah komunitas-grup-geng yang tidak sesuai prinsip/kata hati. Memperhitungkan baik-baik segala konsekuensinya.
  2. Memperkuat iman dan takwa, apapun agama/kepercayaan kita. Penulis contohkan dalam iman Kristen, hubungan antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) ibarat Kristus dan gereja-Nya, saling menghormati dan mengasihi. Mengikuti ajaran Alkitab dan teladan-Nya semata-mata, tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan.
  3. Daripada hanya ikut-ikutan segala tren dunia maya seperti hal viral-trending, FOMO, penasaran coba-coba instal aplikasi baru dan lain sebagainya, lebih baik berusaha lebih fokus ke dunia nyata. Masih sangat banyak hal yang jauh lebih penting daripada sekadar membuat sensasi atau ikut-ikutan semata-mata.
  4. Apabila menemukan akun/grup media sosial berisi hal-hal meresahkan, berinisiatiflah melaporkannya kepada pihak aplikasi/situs tersebut. Tidak perlu menunggu-nunggu siapa dulu, nanti saja, dan sebagainya. Apa yang dibiarkan kecil-bebas, baik maupun buruk, lama-kelamaan akan menjadi besar. Ibarat api dalam sekam, apa yang awalnya buruk jika dibiarkan saja akan menjadi lebih buruk lagi.

Kesimpulan: Pada akhirnya, atas nama cinta bahkan ‘halusinasi’, segala hal yang dahulu tidak mungkin, pada zaman now bisa saja menjadi mungkin. Satu grup ditutup/diblokir, grup lain akan bermunculan. Kita tidak mampu mencegah atau terus-menerus secara instan memberantasnya. Sebagai orang tua, pendidik, hingga pengguna dunia maya, generasi muda (anak-anak) kita awasi dan berikan teladan. Jangan lupa untuk tidak memulai/coba-coba alias ikut-ikutan. Bekali diri dengan iman-takwa dan pengetahuan umum yang kredibel. Edukasi seksual sejak dini serta pengendalian diri (dalam bermedia sosial) sangat penting di sini, bukan semata-mata mengandalkan kebijakan, apalagi pemberian sanksi/hukuman. Tidak perlu menunggu ada korban dahulu, semuanya barangkali sudah terlambat.

Semoga bermanfaat dan salam damai.

Tangerang, 21-22 Mei 2025

Wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image