Home / Fiksi / Kesempatan di Tepi Jurang

Kesempatan di Tepi Jurang

Kesempatan di Tepi Jurang

Aku berangkat menggapai harapan terakhir dengan menggunakan sepeda motor seorang diri, setelah badai hebat mampir ke rumah. Kala kutinggalkan rumah, istriku termenung, sementara anak-anak tengah menangis. Badai itu meninggalkan jejak—satu diantaranya adalah luka, dan satu yang lainnya adalah duka.

Aku pergi menuju medan perang yang terjal. Tak punya tombak, panah, bahkan pedang yang menjadi senjataku. Aku hanya membawa diri, baju zirah, dan kuda besi tua. Dalam perjalanan, bebatuan di tengah jalan kerap menghalangi langkah—yang hampir melukai kakiku.

Setelah menempuh 213 km—sebuah perjalanan yang panjang, sampailah aku di medan perang. Sebuah medan yang berdebu, terik, dan penuh dengan fatamorgana.

Kala aku sampai, aku sadar bahwa perjuanganku akan berat—tentunya tak ada jalan untuk kembali. Namun, aku pun menyadari, dari setiap kegelapan pasti ada secercah cahaya, dan itu adalah harapan. Demi mengembalikan senyuman orang-orang yang kusayangi, aku siap bertempur di medan perang ini. Entah aku yang mati, entah aku dapat meruntuhkan dinding-dinding kastil kesombongan nan munafik itu.

“Ini akan menjadi pertempuran panjang, dan melelahkan. Setelah berkali-kali aku mengalami kekalahan telak. Bahkan, pertempuran yang mudah sekalipun. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena kelemahanku.” Begitulah diriku bergumam sendiri.

Pada medan perang kali ini—jika hendak memenangkan pertempuran, maka aku harus menemukan kekuatan yang tersembunyi di dalam dada. Sebab, kepentingan di atas segalanya. Menyikut kawan secara halus, itu hal yang biasa. Apalagi terhadap lawan, mereka membantingnya tanpa mengotori tangan sudah kerap terjadi. Di medan perang ini, tak ada kata lengah. Bila lengah sedikit—minimal luka sayat tak dapat dielakkan. Paling parah, sudah pasti babak belur.

Aku menghadapi semuanya dengan hati-hati. Tak sedikit yang mengajari untuk berbuat curang. Bahkan, hal yang dilarang pun dianggap halal. Perisai yang terbuat dari kayu alakadarnya aku pasang demi menjaga diri. Meski terkadang ada saja yang menembus tak tertahankan. Karena, kubangan lumpur sudah lama menggoda para petarung lama.

Apa yang yang ada di sana terdapat jebakan halus, dan aku masih tengah berada di medan perang yang sangat bising.

Tangerang, 8 Juli 2025

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image