Di Kastil Bran, Transylvania, hiduplah seorang Pangeran Wallachia bernama, Vlad III ‘Dracula’. Ia sebenarnya tidak terlalu kejam, karena ia pernah mengenyam pendidikan etika, kebijaksanaan, dan keadilan di Edirne, Turki bersama Mehmed II. Meski demikian, ia tidak pernah senang berada di Edirne, karena dirinya merasa dibuang oleh ayahnya, Vlad II ‘Dracula’. Itulah mengapa Vlad III ‘Dracula’ memiliki watak yang keras.
Nama Dracula sendiri diambil dari nama yang disandang oleh ayahnya. Pada saat Vlad II berusia 5 tahun, kakek Vlad III, yaitu Raja Mircea I, memasukkan ayahnya untuk bergabung dengan perkumpulan rahasia Ksatria Kristen Ortodoks, yang disebut ‘Ordo Naga’. Dari sanalah nama Dracula lahir. Dalam bahasa Latin, Dracula berarti ‘Anak Naga’. Diambil dari kata ‘Draco’ yang berarti ‘Naga’, dan ‘ulea’ yang berarti ‘anak’. Itulah mengapa, kata Naga dalam bahasa Inggris, adalah ‘Dragon’, karena mengambil akar kata dari bahasa Latin. Namun, dalam bahasa Rumania kata Dracula atau Dracul, diartikan sebagai ‘Anak Iblis’. Sebab, kata ‘Drac’ dalam bahasa Rumania adalah Iblis.
Setelah kematian ayahnya, Vlad III ‘Dracula’ tidak naik tahta. Kursi kerajaan diambil alih oleh sepupunya, Vladislav II. Mengetahui hal itu, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ cukup marah, dan ia langsung memanggil adiknya, Radu cel Frumos.
“Radu! Ambil alih pasukan sebanyak mungkin,” kata Vlad III ‘Dracula’.
Radu hanya mengangguk, dan segera pergi. Ia menunggang kuda menuju Istana Kerajaan Târgovişte (Târgovişte Royal Palace), yakni Istana Kepemerintahan Wallachia, Rumania.
Radu cel Frumos adalah kebalikannya dari Vlad III ‘Dracula’. Ia memiliki wajah yang begitu rupawan, dan sikap yang lembut, sehingga ia dijuluki dengan Radu si Tampan, atau Radu si Cantik. Sementara, Vlad III ‘Dracula’ memiliki wajah sangar, dan menakutkan. Namun meskipun demikian, Vlad III ‘Dracula’ tetap memiliki pesona yang tak kalah menarik dengan adiknya. Ia memiliki tubuh yang gagah, dan kekar. Maka tak heran, Vlad III ‘Dracula’ begitu digilai oleh dayang-dayang di Kastil Bran—dan rela untuk dijamah. Karena merasa memiliki pesona yang menarik, Vlad III ‘Dracula’ memanfaatkannya untuk bercumbu ria dengan dayang-dayang sebelum melakukan ekspedisi penyerangan.
Saat Radu berangkat untuk mengambil alih pasukan, Vlad III ‘Dracula’ bersenang-senang bersama para dayangnya, dengan meminum anggur, dan melepaskan sebagian pakaiannya hingga setengah telanjang. Begitupun dengan para dayangnya, hanya memakai pakaian tipis nan menggoda yang payudaranya terlihat jelas dari balik pakaiannya. Vlad III ‘Dracula’ pun tenggelam dalam hasrat bercinta yang tak tertahankan.
Sementara di Istana Kerajaan Târgovişte, Radu berjuang sendirian dengan menggunakan jubah hitam untuk mengambil alih pasukan. Radu menggunakan keahliannya, dengan gaya diplomasi yang baik untuk bernegosiasi dengan salah satu komandan di Istana Kerajaan Târgovişte, yaitu Komandan Theodore Bogdan. Jubah hitam itu, ia gantung di markas pasukan. Radu memiliki daya tarik yang khas, sehingga siapapun yang diajak untuk bernegosiasi oleh Radu, akan sulit untuk menolaknya. Begitupun Komandan Theodore Bogdan, yang tak bisa menolak ajakan Radu cel Frumos, hingga ia menarik pasukannya dari dukungan kepada Raja Vladislav II. Radu pun menggunakan taktik politik senyap, dalam mengambil alih pasukan, sehingga Raja Vladislav II tidak menyadarinya. Setelah usahanya berhasil, yakni 80% pasukan Wallachia berada di pihaknya, Radu menghadap pada Raja Vladislav II, dengan membawa surat palsu.
“Yang Mulia Raja, aku membawa pesan dari Pangeran Kastil Bran, Vlad III ‘Dracula’. Pesan ini adalah ucapan selamat atas naik tahta engkau menjadi Raja Târgovişte. Ia, Vlad III ‘Dracula’ berharap kerajaanmu diberkati Tuhan, dan engkau selalu dalam kesejahteraan,” kata Radu kepada Raja Vladislav II.
Sang Raja pun senang mendengar pesan yang dibawa oleh Radu, dan bergumam,
“Rupanya, Vlad III mendukungku.” Dengan hati yang semringah, tentunya.
“Terima kasih, Radu yang baik. Sampaikanlah salamku terhadap kakakmu, Vlad. Aku berjanji akan membawa kerajaan ini menjadi kerajaan yang makmur, dan kuat.”
“Baiklah, Tuanku. Engkau sudah naik tahta, apakah tak ingin menjamuku? Hanya sekadar minum-minum sebagai perayaan kecil-kecilan bersamaku,” kata Radu yang berdiplomasi kepada Raja.
“Ah! Benar katamu, Radu,” jawab Raja Vladislav II dengan menunjukan gestur tubuh yang dibuat elegan, sambil mengacungkan telunjuk tanda setuju.
Akhirnya, satu kendi anggur disuguhkan, dan mereka pun minum-minum untuk merayakan kecil-kecilan atas naik tahtanya Vladislav II sebagai raja.
Akan tetapi, sang raja tidak menyadari bahwa itu adalah siasat Radu untuk mengecohnya, yaitu dimana saat mereka tengah minum-minum, pasukan yang dipimpin oleh Komandan Theodore Bogdan tengah mempersiapkan untuk kabur menuju Kastil Bran. Tentunya, dengan membunuh beberapa pasukan yang masih setia kepada Raja Vladislav II. Beberapa saat kemudian, dari balik pintu ruang tahta, masuklah salah satu ajudan Raja Vladislav II.
“Yang mulia raja, aku melihat sebagian besar pasukan pergi meninggalkan istana. Mereka membawa seluruh alat perang, dan baju zirahnya.”
“Hah! Bagaimana bisa terjadi? Siapa yang memerintahkannya?” tanya Raja Vladislav II, murka.
“Aku tidak tahu, Yang Mulia,” jawab ajudan tersebut.
“Bodoh sekali, kau! Cepat cari tahu, apakah ada penyusup, atau pengkhianat. Cepat!” Sambil menampar ajudan itu dengan nada yang begitu marah.
Radu cel Frumos yang mendengar itu merasa senang dalam hatinya, karena taktiknya berhasil untuk menarik pasukan mendukung Vlad III ‘Dracula’. Namun, perasaan itu jangan larut, ia harus mencoba menenangkan sang raja agar dirinya terlihat peduli.
“Yang Mulia Raja, tenangkanlah dirimu. Mari kita cari tahu siapa yang melakukan ini. Aku siap membantumu,” kata Radu dengan nada yang lembut.
Sementara, para prajurit yang kabur sudah sampai di Kastil Bran. Pemimpin komandan, yakni, Theodore Bogdan menyampaikan salam kepada penjaga gerbang Kastil Bran, dan meminta kepadanya untuk memberitahukan kepada Vlad III ‘Dracula’, bahwa mereka sudah sampai untuk di tempat.
“Baiklah, Komandan Theodore. Silakan tunggu, aku akan memberitahukan pada Pangeran Vlad,” jawab penjaga gerbang.
Komandan Theodore melihat-lihat kastil yang didominasi warna gelap. Ia tertegun, dan sedikit kagum. Setelah dihuni oleh Vlad III ‘Dracula’, Kastil Bran berubah. Setelah lama menunggu, Vlad III ‘Dracula’ pun datang menyambut Komandan Theodore Bogdan, dan pasukannya.
“Selamat datang Komandan Theodore, dan pasukan dari Transylvania. Aku sangat senang karena kalian memenuhi undanganku. Mari masuk, dan kita berbincang-bincang. Aku tentunya punya tujuan jelas, dengan mengundang kalian, ke Kastil Bran ini,” kata Vlad III.
“Terima kasih, Pangeran Vlad. Kami datang untuk mendukungmu,” balas komandan Theodore dengan penuh keyakinan.
***
Di Istana Kerajaan Târgovişte, Radu cel Frumos berpura-pura mencari dalang yang membuat pasukan kabur. Ia mencari bersama Raja Vladislav II. Namun, Radu telah membuat strategi untuk sedikit menghindar dari sang raja.
“Yang Mulia Raja, alangkah lebih baik kita mencarinya dengan menyebar, agar lebih cepat menemukan siapa yang membuat kabur pasukan kita,” kata Radu kepada Raja Vladislav II, melancarkan strategi awal.
“Ide yang bagus, Radu. Baiklah, aku menyisir sebelah kanan, kau sebelah kiri,” jawab Raja Vladislav II.
“Tidak, Yang Mulia Raja. Aku sebelah kanan, engkau sebelah kiri,” jawab Radu.
“Kenapa?”
“Sebelah kiri adalah markas pasukan, yang mulia raja. Engkau lebih memaha setiap detail disana.”
“Ya, benar juga, Radu. Baiklah.”
Mereka pun mencari dengan menyebar. Radu memilih arah kanan, karena kudanya ia simpan di sana, karena jalurnya menuju Kastil Bran. Sementara, Raja Vladislav II ke arah kiri sesuai yang dikatakan oleh Radu. Namun, ada yang dilupakan oleh Radu tatkala menukar posisi.
Dengan cekatan, Radu mengambil satu surat yang berisi titah palsu dari Vlad III, untuk segera kembali ke Kastil, dan segera—dengan terburu-buru menemui Raja Vladislav II di markas pasukan.
“Raja dimana?” Tanya Radu kepada salah seorang pasukan.
“Ia berada di dalam,” jawab pasukan tersebut.
“Bolehkah kau panggilkan sang raja?”
Pasukan tersebut hanya mengangguk, dan pergi menuju ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, Raja Vladislav II sedang melihat jubah hitam. Ia begitu penasaran dengan jubah tersebut. Sebab, sebelumnya jubah itu tak pernah tergantung di dalam markas pasukan. Sang Raja pun mendekati jubah itu, dan mengambilnya. Tatkala melihat bagian dalam jubah, Raja Vladislav II menemukan sesuatu, namun datanglah salah seorang pasukan yang diminta Radu untuk memanggil Raja.
“Yang Mulia, Radu meminta untuk bertemu denganmu.”
Raja Vladislav II pun tak sempat mengambil sesuatu yang berada di dalam jubah tersebut, dan ia gantungkan kembali jubahnya.
“Baiklah, mari kita temui Radu,” jawab Raja Vladislav II.
Setelah bertemu, Raja Vladislav II melihat wajah Radu sedikit tegang.
“Ada apa, Radu. Seperti ada yang kau khawatirkan?” Tanya Raja.
“Maaf yang mulia raja. Tiba-tiba aku menerima surat dari kakakku, Vlad yang dititipkan kepada salah seorang ajudannya,” jawab Radu sembari memberikan suratnya.
Isi surat tersebut:
“Segeralah pulang, Radu. Setelah kematian ayah kita, ada hal penting yang harus kita selesaikan. Kita atur kembali ketertiban Kastil Bran. Esok kau ke Kastil Poenari untuk berkomunikasi dengan saudara kita, Vlad Calugarul. Selain itu, ada yang perlu kita kuatkan bersama Vlad Calugarul. Ayo, segeralah kembali! Aku sudah tidak sabar menunggumu.”
Setelah membaca isi surat tersebut, Raja Vladislav II mengizinkannya untuk kembali ke Kastil Bran. Radu pun pergi, sementara Raja Vladislav II kembali ke dalam. Dengan langkah yang cepat Radu menuju kudanya. Tatkala beberapa meter jarak Radu dengan markas pasukan, tiba-tiba anak panah melesat mengenai bahunya. Radu menoleh ke belakang, ternyata yang menembakkan anak panah itu adalah Komandan Alexandru, dan disampingnya pun ada Raja Vladislav II.
Komandan Alexandru adalah ajudannya Raja Vladislav II yang memiliki keahlian dalam memanah. Tapi, Radu pun tak kalah cekatan dalam menghindar serangan yang dilancarkan oleh Komandan Alexandru yang menembakan anak panah berkali-kali. Maka, Radu pun dengan cepat melarikan diri. Raja Vladislav II pun begitu kesal, karena dirinya sudah tertipu oleh Radu.
Di Kastil Bran, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ merencanakan sesuatu bersama Komandan Theodore Bogdan. Pangeran Vlad III ‘Dracula’ begitu serius, sehingga ia melupakan adiknya, Radu—yang tengah terancam di tangan Raja Vladislav II. Ia sedang merencanakan untuk menukar kastilnya dengan Kastil Poenari yang dipegang oleh kakaknya, Vlad Calugarul. Ia menilai, Vlad Calugarul tidak memiliki nyali besar untuk bertempur, sehingga ia merasa sayang, jika Kastil Poenari yang letaknya lebih strategis dibanding Kastil Bran dipegang oleh kakaknya. Vlad Calugarul memang lebih cenderung pada kegiatan yang bersifat religius dibanding peperangan.
“Jiwa kakakku terlalu lemah untuk memegang Kastil Poenari yang membara akan pertempuran. Ia lebih memilih bersama para pemuka agama dibanding bersama para komandan. Maka, tidaklah pantas untuk dirinya memegang kastil itu,” kata Vlad III kepada Komandan Theodore Bogdan.
“Kau pergi ke Kastil Poenari, dan sampaikan pada Vlad Calugarul untuk menukarkan kastilnya dengan kastilku,” lanjut Vlad III memberi instruksi kepada Komandan Theodore Bogdan.
“Baiklah, Pangeran Vlad.”
Komandan Theodore pun berangkat ke Kastil Poenari dengan langkah kuda yang cepat bersama beberapa prajuritnya. Tanpa halangan apapun—jarak tempuh satu hari satu malam, Komandan Theodore sampai di Kastil Poenari. Di depan pintu gerbang Kastil Poenari, Komandan Theodore meminta izin untuk bertemu dengan Vlad Calugarul kepada penjaga gerbang.
“Sampaikan pada tuan Vlad Calugarul, bahwa aku hendak bertemu dengannya untuk menyampaikan pesan penting atas perintah dari Pangeran Vlad III untuknya.” Sambil menyodorkan surat perintah kepada penjaga gerbang.
Sang penjaga pun segera menemui Vlad Calugarul, dan memberikan surat.
“Baik. Persilakan dia masuk,” jawab Vlad Calugarul.
Dengan tidak membuang-buang waktu, Komandan Theodore segera masuk menemui untuk Vlad Calugarul.
“Silakan, Komandan. Pesan penting apa yang dibawa oleh saudaraku, Vlad III?” Tanya Vlad Calugarul.
“Tuan, aku diperintahkan oleh Pangeran Vlad III untuk menyampaikan pesan, bahwa Pangeran Vlad III ingin menukarkan kastilnya dengan kastilmu,” jawab Komandan Theodore.
“Dengan naik tahtanya Vladislav II, aku mengerti, dan sudah menduganya, jika saudaraku akan melakukan hal ini,” kata Vlad Calugarul.
“Aku sudah mempersiapkan untuk pertukaran kastil. Esok hari kita bersama-sama menuju Kastil Bran.” Lanjut Vlad Calugarul.
Mendengar jawaban Vlad Calugarul, Komandan Theodore sedikit terkejut. Karena, Vlad Calugarul sudah mengetahui maksud kedatangannya, bahkan sudah mempersiapkan untuk berpindah kastil.
Di sekitar Kastil Poenari, Komandan Alexandru, dan beberapa pasukan sedang memata-matai pergerakan Komandan Theodore. Ternyata, ketika Radu cel Frumos kembali ke Kastil Bran—atas perintah Raja Vladislav II, Komandan Alexandru mengikuti Radu. Setelah itu, Komandan Alexandru pun ikut ke Kastil Poenari tanpa diketahui oleh Komandan Theodore, dan bersembunyi di semak-semak area Kastil Poenari.
Komandan Alexandru mengingat kembali, bagaimana Radu cel Frumos terbongkar. Tatkala Raja Vladislav II sedang bersama Radu, Komandan Alexandru masuk ke dalam markas pasukan. Ia begitu penasaran tentang jubah hitam tersebut, karena sebelumnya Komandan Alexandru memperhatikan Raja Vladislav II dari luar—yang sebelumnya, tidak sempat membuka barang yang berada di dalam saku jubah. Maka, dengan inisiatif sendiri, Komandan Alexandru masuk ke dalam markas untuk mengetahui barang tersebut—saat Raja Vladislav II bersama Radu. Ketika selesai, dan Raja Vladislav II masuk ke dalam markas pasukan, Komandan Alexandru menemukan sebuah benda mirip liontin, yang di dalam liontin tersebut terdapat surat berukuran kecil, yang isinya:
“Sepeninggal ayahku, tahta menjadi milikku. Siapa pun yang mengambil tahtaku, maka tak segan-segan aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” – Vlad III ‘Dracula’.
Selain itu, ternyata jubah yang yang dipakai oleh Radu adalah milik Vlad III ‘Dracula’, karena di kerah jubahnya bagian dalam terdapat tulisan “Vlad III ‘Dracula’”. Itu artinya, yang membuat banyak pasukannya kabur dari Istana Kerajaan Târgovişte adalah Radu. Mengetahui hal itu, Raja Vladislav II begitu sangat murka. Ternyata kedatangan Radu untuk mendukungnya adalah sikap kepura-puraan untuk mengambil pasukannya menuju Kastil Bran. Raja Vladislav II sudah benar-benar dibodohi oleh Radu, dan Vlad III ‘Dracula’. Maka, tanpa ragu, Raja Vladislav II memerintahkan Komandan Alexandru untuk menembakkan anak panah kepada Radu, dan membunuhnya. Sayangnya, Radu selamat. Tanpa pikir panjang, Raja Vladislav II memerintahkan Komandan Alexandru untuk mengikuti Radu. Benar saja, di Kastil Bran sudah banyak pasukan yang diambil Pangeran Vlad III ‘Dracula’ dari Istana Kerajaan Târgovişte. Pada saat ada pergerakan di Kastil Bran, yaitu Komandan Theodore melakukan perjalanan ke Kastil Poenari, dengan inisiatif dirinya, ia mengikuti Komandan Theodore.
Setelah mengingat kembali kejadian yang menyesakkan di markas pasukan, Komandan Alexandru dengan menggunakan jubah milik Vlad III ‘Dracula’ menuju gerbang Kastil Poenari untuk bertanya kepada penjaga gerbang.
“Hai, penjaga gerbang, bukankah yang masuk ke dalam kastil adalah Komandan Theodore?” Tanya Komandan Alexandru.
“Benar, Tuan,” jawab penjaga gerbang.
“Apa yang dilakukan oleh Komandan Theodore dengan datang kemari?” Tanya Komandan Alexandru lagi.
“Aku dengar, atas perintah Pangeran Vlad III, Komandan Theodore menyampaikan pesan untuk menukar kastilnya dengan kastil ini kepada saudaranya Vlad Calugarul,” jawab penjaga gerbang lagi.
“Oh, begitu. Baiklah. Karena kau telah memberikan informasi penting, terimalah ini, dan jangan katakan aku datang kemari,” kata Komandan Alexandru kepada penjaga gerbang, dengan memberikan sekantong emas.
“Baik, Tuan,” jawab penjaga gerbang.
Kemudian, tanpa membuang waktu, Komandan Alexandru, dan beberapa pasukan yang menemaninya segera pergi dari Kastil Poenari.
Keesokan harinya, tibalah saatnya seluruh penghuni Kastil Poenari termasuk Vlad Calugarul berpindah tempat menuju Kastil Bran, sesuai permintaan Pangeran Vlad III ‘Dracula’, dengan membentuk iring-iringan panjang, yang dipimpin oleh Komandan Theodore. Perjalanan menuju Kastil Bran—dengan jarak tempuh 118 kilometer tentunya akan memakan waktu lebih lama. Karena kuda yang ditumpangi oleh iring-iringan dari Vlad Calugarul berjalan santai. Komandan Theodore pun harus menjaga iring-iringan tersebut, agar selamat sampai ke Kastil Bran. Berbeda pada saat keberangkatannya memacu kuda dengan sangat cepat.
Di tengah perjalanan—pada malam hari, iring-iringan tersebut diserang oleh pasukan dalam jumlah banyak. Sontak, semua yang berada dalam iring-iringan terkejut bukan main, termasuk Komandan Theodore Bogdan, dan Vlad Calugarul. Penyerangan itu, adalah pembantaian. Sebab, tak ada pasukan sama sekali dalam iring-iringan itu, kecuali Komandan Theodore, dan beberapa pasukan yang ikut menemaninya. Sehingga, penyerangan yang dilancarkan berjalan dengan mudah. Tak ada yang dibiarkan hidup, semuanya mati dibantai, begitupun Vlad Calugarul dipenggal kepalanya hingga putus. Hanya Komandan Theodore yang dibiarkan hidup untuk menyampaikan pesan kepada Vlad III ‘Dracula’, yaitu berupa surat, dan kepala Vlad Calugarul yang sudah disimpan di dalam peti.
Sementara, dua hari yang lalu, pada saat Radu kembali, ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia, langsung menemui Vlad III untuk berbicara.
“Vlad ‘Dracula’, tugasku sudah selesai. Kabarnya, Konstantinopel sudah dikuasai oleh Sultan Mehmed. Aku akan pergi kesana untuk menyampaikan selamat, pada sultan,” kata Radu.
Mendengar perkataan Radu, sebenarnya Vlad merasa tidak senang. Akan tetapi, karena Vlad pun mengetahui bahwa Sultan Mehmed menyayangi Radu, sama seperti dirinya maka ia pun mengizinkan Radu pergi menemui Sultan Mehmed. Maka, Radu pun segera pergi ke Konstantinopel.
Sementara, setelah penyerangan itu, Komandan Theodore mengetahui, bahwa serangan yang telah terjadi dipimpin oleh Komandan Alexandru, dan ia pun mengetahui siapa Komandan Alexandru itu. Dengan bersimbah luka, Komandan Theodore bertolak menuju Kastil Bran seorang diri, dengan perasaan duka.
Pagi harinya, Komandan Theodore sampai di Kastil Bran. Hanya saja, ia merasa heran peti yang berisi kepala Vlad Calugarul terasa begitu dingin. Meski demikian, ia masuk ke dalam kastil, dan memberitahu tragedi yang telah terjadi kepada Vlad III ‘Dracula’, sambil memberikan peti yang berisi kepala Vlad Calugarul.
Mengetahui hal itu, Pangeran Vlad III begitu sangat murka. Lalu, ia membawa peti itu ke dalam kamarnya, dan memerintahkan Komandan Theodore untuk menjaga kastil. Seharian penuh, Vlad III ‘Dracula’ tak keluar kamar. Kastil Bran begitu sunyi, dan dingin—seolah dingin yang berasal dari peti itu menyebar ke setiap sudut kastil.
Keesokan harinya, Vlad III ‘Dracula’ memakai jubah hitam bersurai merah gelap, jubah balas dendam. Jiwanya benar-benar terbakar penuh kesumat antara kesedihan dan amarah, saking mendalamnya rasa itu, mata Vlad III ‘Dracula’ memerah. Ia yang sebenarnya memiliki sedikit nurani, seketika nurani itu lenyap tatkala mengetahui saudaranya, dan orang-orang dari Kastil Poenari mati tak tersisa. Ia membawa tongkat runcing sebagai tanda bagi mereka yang melakukan pembantaian itu akan mendapatkan hukuman yang teramat sangat berat, yaitu di sula. Hukuman paling kejam dari perkumpulan rahasia Ordo Naga.











