Pada saat Oruç Reis terpojok, muncullah Piri Reis, Demirli Ali, Niko, dan Salih. Piri Reis membawa dua belas pelaut yang juga ahli dalam bertarung. Seketika, jumlah kedua belah pihak dikatakan seimbang.
“Masya Allah, Piri Reis.” Kata Oruç.
“Bübül, Yareli, Çoban! Kalian menuju tempat Hizir, dan bawa beberapa ksatria dari Piri Reis. Disini sudah ada bala bantuan, dan aku akan memenggal kepala Enrico. Ayo, cepat!” Perintah Oruç Reis.
Piri Reis pun memberi perintah kepada beberapa pelautnya untuk ikut bersama Bülbül.
“Oruç! Mari kita serang.” Ajak Piri Reis.
“Allahu Akbar!” Jawab Oruç Reis.
“Pasukan, seraaaang!” Perintah Enrico tak mau kalah.
Kedua kubu, akhirnya saling menyerang, dan pertarungan pun tak dapat dielakkan. Bülbül, dan yang lainnya pergi menyusul tempat Hizir Reis.
“Harry! Bawa lima pasukan, dan kejar mereka.” Perintah Enrico, kepada Komandan Knight of Rhodes.
Keadaan itu membuat pihak Enrico terbagi, dan membuat pekerjaan Oruç Reis, dan Piri Reis menjadi lebih mudah.
Di halaman penjara, Hizir Reis, dan Horozcu masih dalam situasi terkepung. Delapan Knight of Rhodes langsung menyerang mereka. Dengan terpaksa, Hizir Reis, dan Horozcu melawan sekuat tenaga, meski tahu kekuatan tak seimbang. Beberapa pasukan melawan Hizir, dan Horozcu. Sementara beberapa lainnya menyasar kepada tawanan. Namun, pada saat Knight of Rhodes hendak menyerang para sandera, dengan sigap, Bülbül melemparkan belatinya pada seorang Knight of Rhodes. Lemparan itu tepat mengenai punggungnya. Mengetahui ada serangan mendadak, Knight of Rhodes, Hizir Reis, dan Horozcu terkejut. Semuanya menoleh ke arah serangan belati tersebut.
Mengetahui serangan itu dilakukan oleh Bülbül, Hizir Reis, dan Horozcu pun tersenyum senang.
“Masya Allah, pemberaniku.” Kata Hizir Reis.
“Hizir Reis! Kami tak akan pernah meninggalkanmu sendirian.” Teriak Bülbül.
“Bülbül, ayo kita bereskan mereka.” Ajak Yareli.
“Ayo. Çoban, bersiaplah, dan seraaaang!” Bülbül memberi aba-aba.
Mereka pun berlari menuju tempat pertarungan Hizir Reis, yaitu halaman penjara. Ketika pertarungan terasa begitu sulit dimenangkan, tapi, dengan kedatangan Bülbül, dan sahabatnya, itu menambah kekuatan, dan pertarungan pun berjalan begitu singkat karena mudah. Setelah delapan Knight of Rhodes dikalahkan, Hizir Reis, dan yang lainnya membawa para tawanan menuju tempat Oruç Reis bertarung.
“Mari kita bantu kakakku, Oruç Reis.” Jawab Hizir Reis, setelah Bülbül menceritakan situasinya kepadanya.
Mereka pun akhirnya berjalan.
Sesampainya di salah satu tempat, Hizir Reis terkejut. Sebab, ada lima orang Knight of Rhodes terkapar disana. Yareli pun menceritakan situasinya, bahwasanya mereka diikuti oleh lima orang Knight of Rhodes itu atas perintah Enrico. Hizir Reis, hanya bisa mengangguk, dan mengajak semuanya untuk berjalan lagi.
Di pertengahan jalan, Hizir Reis melihat Oruç Reis yang menyusulnya. Pada saat bertemu, keduanya berpelukan senang, karena selamat dari situasi genting berkat kedatangan Piri Reis. Setelah itu, Hizir Reis menceritakan perjalanannya, dan penemuan penjara kepada Oruç Reis, dan membawa seluruh tawanan yang dipenjara tersebut untuk diselamatkan, karena mereka saudara seiman. Setelah Oruç Reis mengerti situasinya, maka mereka membawa para tawanan itu menuju titik kumpul, yaitu gua persembunyian untuk melakukan sedikit recovery.
Pada saat pertempuran antara Oruç Reis, dengan Enrico, semua Knight of Rhodes, beserta Enrico tak dapat selamat. Mereka, tewas semua di tangan Oruç Reis,dan Piri Reis. Namun, di pulau Rhodes tersebut, ada satu orang yang tak pernah terlihat. Ia lebih sering berada di tempat tersembunyi, di balik dinding-dinding Kastil Rhodes, yang bernama Kastil Archangelos. Dia adalah, Giovanni, sang tabib, dan peracik ramuan dari Italia. Ia direkrut oleh Poseidon untuk merawat pasukan Knight of Rhodes yang terluka.
Giovanni, melihat semuanya di tempat persembunyian, yang tertutup semak-semak dan pepohonan. Ia begitu marah, dan sedih, karena tak mampu menyelamatkan Enrico. Maka, ia pun melakukan sesuatu untuk membalaskan dendam. Ia, mengikuti diam-diam kemana pun Oruç pergi. Dari Oruç menyusul Hizir Reis, hingga sampai di tempat persembunyian barbarossa bersaudara.
“Aku akan menghancurkanmu, Oruç!” Gumam Giovanni, seraya pergi menuju kastil.
Di dalam kastil, Giovanni menemui anak buahnya, Radko.
“Radko, ambil bubuk hitam yang berada di gudang. Lalu, masukan ke dalam tong.” Perintah Giovanni.
“Setelah itu, tong yang berisi bubuk hitam beri campuran minyak, dan juga pada mata anak panah-anak panah.” Sambung Giovanni.
“Untuk apa semua itu, Tuan?” Tanya Radko.
“Kau lakukan dulu apa yang kuperintahkan, Radko. Nanti kau akan tahu sendiri.” Jawab Giovanni.
“Baik, Tuan.”
“Ayo, kita tidak punya waktu.”
***
Pada malam hari, dengan membawa obor, Giovanni, dan Radko menuju gua—tempat persembunyian barbarossa bersaudara. Tong-tong yang berlumur minyak, dan berisi bubuk hitam disimpan berjejer, dan berdekatan di area gua. Lalu, Giovanni, dan Radko menuju tempat dengan jarak aman, tapi tak jauh dari gua.
Di tempat itu, Giovanni mengambil anak panah yang mata panahnya sudah dilumuri minyak, dan menyalakan mata anak panah itu dengan api dari obor yang mereka bawa. Dengan hati-hati, Giovanni, dan Radko mengarahkan anak panah ke gua tersebut. Giovanni memberi aba-aba kepada Radko untuk menembakan anak panah, dan…
“Sekarang!”
Dua anak panah melesat tepat ke tong yang berisi bubuk hitam. Ketika anak panah itu tertancap, terdengar suara ledakan yang keras,
“Baaaaam!… Duaaaar!…”
Lalu mengeluarkan api yang bergerak cepat mengelilingi, dan mengepung seluruh area gua. Tempat itu, tempat persembunyian barbarossa bersaudara terbakar hebat. Dari luar, terlihat tak ada jalan keluar bagi barbarossa bersaudara, karena apinya begitu besar hingga menutupi gua.
“Radko! Aku sudah membalas kematian Tuan Enrico, dengan membakar Oruç, dan saudara-saudaranya.” Kata Giovanni penuh gembira.
Radko hanya dapat menatap Giovanni, dengan tatapan terkejut. Seketika suasana menjadi hening, di tengah nyala api yang melahap gua.









