(Gambaran antara Kata dan Realitas)
Dahulu kala saya belia
merah muda dan gambar hati simbol asmara
diimbuhi kisah-kisah sejoli syahdu lewat kata
berapa ratus kalimat mutiara tercipta
berapa juta sajak berderet sepanjang rel kereta
berapa banyak buku, film, dan novel cinta
nyaris kuikat mati simpulan tentangnya
manis nian mabuk cinta
di tengah keasyikan meniti titian nan hijau
layar terkembang tayanglah cerita memukau
aku berdiri di tepian pantai
sebuah bahtera bergoyang-goyang bak dimainkan irama
prahara nyaris menjatuhkan segala isi
karam tenggelam dalam-dalam ke dasar kelam
mana jambon yang dilukiskan itu?
masih berjalan di lapang hijau
kudengar kabar sebuah istana yang kacau balau
menyisakan bayangan kelu dan bisu
bangunannya runtuh, berdebu, kelabu
ke mana jingga itu?
detik waktu bertahap mengenalkanku pada realitas
selaras fase pubertas
tali temali sepasang manusia hampir retas
api membakar egoisme sampai getas
seandainya tiada yang mengalah menelan bara panas
ke mana kidung rindu itu?
lantas jiwa menapak batas dewasa
daya analisis mengurai kausa
dua orang bermain-main cinta
membutakan nurani mengenyahkan norma
suka cita canda tawa berakhir dilema
dua sisi menghunuskan luka
dua pasang mata memancarkan mata air duka
silang selimpat membelit kepala sang pria
ke mana rupa ceria cinta?
aku melihat satu biduk di sebuah daerah
mereka bangun dan larungkan di atas cinta
layar belumlah terkembang sempurna
riak perairan dangkal baru bermula
perahu pecah lalu karam dengan lubang luka menganga
aku menyaksikan seorang bidadari yang patah sayap
sekujur hatinya basah kuyup oleh air mata
sedangkan cinta antara mereka teramat kuat
namun tali ikatan tinggal menunggu sekali sayat
rapuh jua rentan tidak terlihat
di sebuah kota puisi rindu mengudara
memberlakukan slogan klasik cinta membara
sehidup semati kan selalu bersama
selepas perahu mengarung ke samudra
limbung diembus prahara
gaung perpisahan menggema bersahut gelora
sementara di serata negeri
mengungkap data runtuhnya sebuah rumah sebab ekonomi
di kota ini sepasang manusia bergelimang materi
tahta mereka miliki
di balik dinding aku mengetahui
seribu retak dan luka di sana-sini
bila kalian menyimpan hipotesis
patah tumbuh hilang berganti
cinta tidak terikat peribahasa
seorang pria menggelar kisahnya
setangkai mawar yang ia jaga
memilih layu dan meluruh meninggalkan kenangan
sedangkan melati ia jumpai menawarkan asa
melipur duka episode lama
sama-sama menyerbakkan kecewa menyesakkan dada
satu sudut kota membocorkan cerita cinta
hedonisme membuka lembaran pertama
laksana penjajahan Jepang di Indonesia
babak drama lekas menyudahi opera tanpa diduga sang sutradara
awal gemerlap, akhir gelap
singkat, tamat
cinta memang punya kejutan
kalian tentu sukar percaya tetapi aku tidak
seorang pemilik sejuta tawa
segunung gurau senda
ada jurang derita
karena cinta
si bunga
memeti-eskan aib membekukan hati
pintunya terkunci sekadar menyusupkan maaf
sekali lagi kalian kan terperangah
di selubung tirai megah
ada roman yang tak indah
segaris senyuman ialah sesendok penawar luka
tawa membahana adalah pengobat jiwa sekarat
namun ia tetap hidup
mengidap bisa cinta sepahit empedu
cinta tidak seindah pelangi di pagi hari
cinta tak seelok senjakala
cinta tak sefasih tuturan kata-kata
sebab itu aku menyederhanakan mimpi dan cinta
agar akhir dari hikayat kita bukan hiperbola
namun utuh laksana prasasti
cinta menjadi nilai eksistensi
hingga para sang pengucap ikrar, mati.
Bogor, 31 Agustus 2025 (21.12)
#puisipanjang












2 Komentar
Teruslah berkarya….
Terima kasih atas dukungan dan semangatnya….