Home / Genre / Komedi / Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 1)

Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 1)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 10 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

“Bahkan jika kau benar-benar penjahat kejam yang akan membunuhku usai menolongmu, aku akan tetap menolongmu dan siap untuk bertaruh nyawa. Tapi jangan harap aku mandah untuk dibunuh begitu saja. Aku akan melawanmu dengan segenap kemampuan yang kupunya.”

“Mengapa?” heran Bay.

“Karena kita memang tak perlu mencari alasan untuk…”

***

Semua tentangmu
adalah pilu
Semua tentangmu
adalah ngilu

terus berusaha, kaubilang
karna usaha ini takkan begitu saja hilang
semua tertuang
dalam buku catatan amal kita kelak saat telah berpulang

Luput dari Kematian

Bay merasa seperti ada petir yang menggelegar di tengah benak ketika sebuah tumbukan menghantam belakang kepalanya. Kakinya tak lagi kuasa menahan beban tubuh, sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Hitam.

Entah berapa lama Bay tak sadarkan diri, ketika lamat-lamat dia seperti mendengar suara kim dipetik dengan nada yang amat sendu lalu sunyi kembali, berganti dengan mengalirnya cairan ke dalam mulutnya. Kadang terasa manis dan berbau harum, walau tak jarang begitu pedas, pahit juga membakar tenggorokan. Hingga suatu ketika ia merasa tubuhnya segar luar biasa.

Perlahan dia membuka mata. Tapi pemandangan di hadapannya langsung membuatnya terkesima.

Alangkah cantiknya patung wanita yang ada di hadapanku ini, bathin Bay. Ditatapkan patung cantik itu dengan sorot mata yang amat memuji.

“Akhirnya kau sadar juga.”

Agak terlonjak Bay mendengar patung yang tengah dikaguminya itu berbicara, membuatnya kembali tertegun untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kesadaran menyeret nalar untuk kembali bekerja.

“Ah, maafkan ketidak sopanan cayhe… cayhe pikir Inkong sebuah patung hingga cayhe berlaku amat tidak sopan,” rikuh Bay langsung mengalihkan tatapan ke arah lain, membuat nona di depannya tertawa kecil. Dan nona itu kembali tertawa ketika perut Bay tiba-tiba mengeluarkan suara khas pertanda lapar.

“Makanlah dulu. Sudah tiga minggu kau tak sadarkan diri,” tawar si nona seraya menunjuk meja di samping Bay.

Ikan asin, sayur lodeh, beberapa jenis lalapan segar serta sambal rawit yang masih berada di atas cobek tertata apik di meja yang terbuat dari pualam hijau tersebut. Benar-benar hidangan yang amat menantang rasa keperutan Bay.

Tanpa sadar Bay menelan ludah, membuat si nona kembali tertawa sebelum akhirnya melangkah ke luar.

“Jangan sungkan, aku sudah makan dua menit yang lalu,” ucap si nona dengan senyum dikulum, sesaat sebelum melewati pintu ruangan.

Sepeninggal si nona, Bay langsung menyantap hidangan dengan rakus, hingga tak butuh waktu lama untuk semua benda menggiurkan tersebut pindah ke dalam perutnya.

“Alhamdulillah ‘ala kulli hal,“ gumam Bay sambil mengelus perutnya yang bahagia. Dan kebahagian perutnya semakin lengkap ketika mengetahui bahwa cawan yang disediakan ternyata berisi teh tawar hangat dengan harum melati yang amat lembut.

Hmm… Sluuurrrppp.

Setelah puas makan, Barulah Bay merasakan nyeri di punggung tangan. Dibukanya perban yang melilit, ditekan-tekan mulut luka yang mulai merapat itu, untuk kemudian kembali bersyukur sebab jika dia tak ditolong oleh si nona entah siapa itu, niscaya racun pukulan berbisa di lengannya akan langsung menyeretnya ke alam baka… kurang dari satu jam!

Segara Bay bersuillan dan mengerahkan hawa murni guna menggiring sisa racun di lengan, untuk kemudian mengeluarkannya secara amat perlahan melalui ujung jari yang biasa dipergunakan untuk memberi like ke teman-teman maya.

Bau busuk luar biasa menguar memenuhi ruangan ketika proses detoksifikasi tersebut berlangsung, membuat kepala Bay sedikit pening terpapar hawa beracun yang menguap. Baru sepeminum kopi kemudian sisa racun yang ada di lengan musnah, membuat Bay semakin khusuk bersemedi hingga berada pada keadaan tidak sadar sama sekali.

***

Kopi Peram, Waktu Indonesia Bagian Segar

Creng! Creng!

Petikan khim yang melengking mengembalikan kesadaran Bay dari suillannya, membawa serta pendar keemasan matahari sore yang memancar dari jendela di samping pembaringan.

Perlahan Bay bangkit, berjalan menuju asal suara khim yang terdengar kian tinggi dan melengking, mengingatkan Bay pada lolong anjing yang terkaing-kaing kesepian. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak melihat kehebatan arsitektur yang terpahat pada lorong batu yang dilaluinya itu, yang siapa sangka hanya sebuah gua yang menjorok pada sisi sebuah tebing curam?

Hup! Bay melompat dari mulut gua dengan gerakan Tak Ada Bayang Tanpa Cahaya yang merupakan gerakan dasar dari Langkah Bayangan Mengejar Sinarandalannya. Tubuhnya melayang seringan kapas, untuk kemudian mendarat halus di tanah berumput tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Tapi suara khim mendadak berhenti, bersamaan dengan lambaian tangan nona penolongnya yang duduk menyanding khim di tepi danau, membuat Bay terperanjat dengan kemampuan si nona dalam mendeteksi gerakan. Padahal waktu melompat tadi dia telah mengeluarkan ginkang sebesar delapan bagian, yang bahkan pendekar kelas wahidpun belum tentu mampu mendeteksinya!

“Mari minum bersama,” tawar si nona melemparkan buli-buli yang disandingnya, membuat Bay kembali terkesiap sebab kecepatan serta tenaga yang menyertainya tak kalah dari sebuah amgi.

Tak sempat mengelak, Bay menggerakkan tangan setengah melingkar di depan dada, untuk kemudian menyelentik ke depan dengan jurus Menyentil Pengelola Agar Lebih Adil dan Bijak dalam Bersikap yang pernah dipelajarinya secara tak sengaja dari kitab kuno aliran Chin Yung.

Trak!

Jari Bay terasa agak ngilu tergetar tenaga dalam yang menyertai buli-buli. Sementara di tepi danau, tubuh si nona sedikit bergerak menerima arus hawa sakti selentikan Bay yang menghantam balik, membuat keduanya sadar bahwa iwekang mereka setanding tingkatannya.

Buli-buli melayang kembali ke tempat asal, berbarengan dengan tibanya tubuh Bay di hadapan si nona.

 “Maaf, Inkong, agama cayhe melarang minum arak,” tolak Bay halus sambil mengibas jari yang digunakan menyelentik tadi untuk mengurangi rasa ngilu.

 “Langkah Bayangan Mengejar Sinar!” seru si nona agak terkejut. “Ternyata kau yang bernama Bay,” ucap si nona antusias, membuat Bay berbalik melengak.

“Dari mana Inkong mengenal nama cayhe? Bukankah kita tidak pernah bertemu sebelumnya?”

Bukannya menjawab, si nona justru memandangi tubuh Bay dari atas ke bawah, membuat Bay merasa agak tak nyaman.

“Dari situs sebelah tempat berkumpulnya pendekar aksara negeri ini, kudengar ada seorang pendekar fiksi tengil yang membuat Cerita Silat Semau Gue yang usil menyentil. Ternyata kau yang menjadi tokoh utamanya,” kembali si nona memandangi Bay seperti ingin membedah tubuhnya dan meneliti jeroannya satu demi satu. “Dan kemampuanmu ternyata bukan sekedar omong-kosong belaka,” lanjutnya.

“Ah, cayhe tak berani menerimanya. Semua itu hanyalah gelaran yang diberikan oleh sahabat-sahabat terbaik cayhe di dunia maya, walau tak seorangpun dari mereka pernah kopi darat dengan cayhe,” elak Bay merendah sambil menceritakan tentang kekecewaannya yang kian menggumpal buah takdirnya yang seakan hanya selalu menjadi keset dan bukannya asset, dalam blog bersama mana pun yang dia bantu untuk lebih semarak suasana silaturahimnya di antara sesame member namun tak pernah beroleh sedikit saja penghargaan dari para petinggi yang bermaqom super hebat itu.

 “Ooh… Ternyata kembali kau mengalami hal itu, ya? Bisa saja kau bergiat di tempat yang salah atau mesin ujicoba yang digunakan oleh media keroyokan ini amat bobrok, hingga tak mampu mendeteksi mana member ‘penyulut api’ yang gemar kelalang-keliling sejak mula mendobrak kesunyian kuburan ini serta mana yang sekedar follower gayamu, Bay. Hanya saja agak terasa janggal jika hal sesederhana itupun tak terpantau oleh para pendekar IT-nya, hingga mereka hanya mengandalkan pengamatan manual parsial, yang itupun tak setiap waktu mampu mereka lakukan,” timpal si nona dengan intonasi yang kurang percaya.

“Cayhe pikir Inkong tak usah memepermasalahkan takdir tersebut. Biarlah itu menjadi urusan sang dalang, karena bagaimana pun juga, kita tak lebih dari sekedar wayang yang hanya butuh untuk melaksanakan semua peran dengan sebaik-baiknya,” jawab Bay dengan setengah berfilosofi.

Sejenak nona yang amat cantik itu tercenung mendengar paparan Bay.

“Kau benar, Bay, kita memang cuma wayang di postingan ini. Begitu juga pengarang dan para tokohnya, yang tak lebih hanya lakon di kehidupan dunia nyata yang amat fana,” ucap sang nona dengan wajah yang agak masygul, sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Tapi by the way, bisakah kau tak lagi memanggil inkang-inkong segala macam kepadaku?”

Bay menggeleng ragu.

“Inkong telah menyelamatkan cayhe dari kematian, mana berani cayhe bersikap kurang hormat dan tak memiliki liangsim?” ucap Bay dengan penuh hormat serta perasaan berterima kasih yang mendalam.

“Tapi tahukah kau, Bay, bahwa di negeri ini, ucapan inkong berhomofon dengan kingkong. Juga penggunaan cayhe sebagai pengganti saya, yang sejak tadi membuat gatal otakku karena membayangkannya sebagai persilangan antara cabe dengan jahe,” kikik si nona, membuat Bay menggaruk rambut gondrongnya yang tak gatal karena turut merasa geli mendengar guyonan si nona yang lincah menggoda.

“Baiklah In… eh, Nona…”

“Juga tidak perlu bernona-nona seperti inlander,” kembali si nona tertawa.

“Tapi… cayhe… ehm… saya harus memanggil apa?” bingung Bay.

“Huuu… bilang saja ingin berkenalan,” jawab si nona sengaja mengerjapkan sebelah mata, menyulap Bay menjadi seperti remaja ingusan yang amat perikuh.

“Panggil aku Na saja,” saran si nona.

Bay mengangguk grogi.

“Eh… Kau bisa bermain saron, Bay?” tanya Na dengan amat tiba-tiba. Dan tanpa menunggu jawaban, Na langsung menyodorkan sebuah benda tanggung berbentuk prisma kepada Bay, membuat Bay mau tak mau menerimanya.

“Kita nge-Jam Session,” ajak Na, yang langsung memetik khim dengan cara dikocok.

Ah, dangdut, pikir Bay bingung, sebab aslinya dia kurang menyukai musik yang sejatinya amat merakyat itu.

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 3) Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 2)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image