Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Sekali Lagi tentang Manfaat Nyata Berdoa & Memuji Tuhan, Gak Kaleng-Kaleng!

Kehidupan Kristen: Sekali Lagi tentang Manfaat Nyata Berdoa & Memuji Tuhan, Gak Kaleng-Kaleng!

Kehidupan Kristen: Sekali Lagi tentang Manfaat Nyata Berdoa & Memuji Tuhan, Gak Kaleng-Kaleng!
3

Berdoa bukan hanya sekadar rutinitas atau kewajiban belaka, begitu pula menyanyi (memuji Tuhan lewat lagu). Banyak orang Kristen merasa malas berdoa atau memuji Tuhan dengan berbagai alasan. Lebih suka bicara dengan ‘yang kelihatan’-lah, takut disangka sok religius/alim-lah, segan karena sedang ada bos/teman di sekitar dan lain sebagainya. Demikian pula dengan memuji Tuhan lewat suara (menyanyi). Suara masih belum cukup bagus (gak pintar nyanyi), lupaan pada teks lagu, dan lain sebagainya.

Mengapa berdoa dan memuji Tuhan patut kita jadikan kebiasaan baik bahkan lakukan setiap saat, apa saja manfaatnya bagi kehidupan?

  1. Kita tidak hanya sekadar berkomunikasi dengan yang kelihatan (sesama manusia hingga alam sekitar), namun juga berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta. Jika bisa berkomunikasi dengan orang top/terkenal aja kita rentan merasa ‘besar kepala’, misalnya diajak DM-an dengan selebriti, wah senangnya luar biasa, langsung SS-in (screenshoot) dan cerita ke mana-mana “Si Itu notice saya, lho!” namun ironisnya kita enggan bicara dengan Tuhan. Jika dengan friends in high places saja kita berbahagia, apalagi jika di-notice dan diresponsTuhan! Luar biasa bangga serta bahagianya, bukan?
  2. Dengan berdoa, kita bukan hanya ibarat membuka jalur komunikasi formal atau sekadar menyetor kata-kata ‘lapor, Bos! Sekian dan terima kasih!’ semata-mata, satset gercep dilakukan lalu selesai tanpa hasil nyata. Jika kita bersungguh-sungguh menaikkan doa kita, apapun isinya entah permintaan/keinginan, pengaduan, ucap syukur hingga pengakuan dosa/permohonan ampun, percayalah jika apapun/semua isinya memiliki efek/hasil nyata. Tidak selalu berupa ‘ya’ atau terkabulnya doa secepat kilat atau secara instan, melainkan segala yang diizinkan-Nya terjadi dalam hidup!
  3. Memuji Tuhan lewat nyanyian bukan hanya sekadar formalitas/ritual kebaktian belaka, melainkan mengakui/mengafirmasi setiap kata demi kata serta mengizinkannya (bukan mendesaknya) terjadi dalam hidup kita. Ibarat mengalunkan mantra atau chant yang bisa enchanting atau ‘memikat’, atau spell yang binding atau ‘mengikat’, lagu/nyanyian memuji Tuhan, seperti nama-Nya, kita tujukan untuk memanggil hadirat-Nya, mengakui kuasa-Nya, berserah kepada-Nya. Tidak harus hanya di ruang ibadah, melainkan bisa di mana saja, sendiri atau bersama-sama.
  4. Doa dan puji-pujian seperti yang dinaikkan Daniel hingga Paulus-Silas dalam Alkitab tidak hanya sekadar ‘untaian kata-kata indah’ melainkan sangat berdampak, sebuah game changer. Apabila Daniel enggan/malas berdoa, ia takkan lepas dari cengkeraman mulut-mulut singa lapar. Apabila Paulus dan Silas urung memuji Tuhan, mereka takkan pernah bebas dari penjara. Memang pada awalnya seolah-olah Tuhan cuek, tidak adil, bahkan tega membiarkan mereka ‘terjatuh ke dalam pencobaan’, akan tetapi Tuhan sesungguhnya sedang menguji ketaatan mereka. Mungkin doa Daniel tidak ‘heboh’ atau hebat sekali isi kata-kata hingga suaranya, suara/vokal Paulus-Silas juga gak sebening-merdu seorang idol, akan tetapi seruan hati yang mereka panjatkan didengar Tuhan.
  5. Ada satu hal ironis (dan mungkin juga agak lucu) yang sering terjadi. Kita seringkali takut dan percaya pada apa yang tidak kelihatan. Di sini ada hantu! Atau, jangan macam-macam, jangan begini-begitu, di tempat itu ada penunggunya! Jika pada ‘yang demikian’ tak terlihat saja kita mudah merasa takut, keder, seram, enggan atau baper, lantas mengapa tidak takut kepada Tuhan? Jelas Tuhan jauh lebih besar dan berkuasa, Dia terlebih lagi perlu kita takuti dan percayai! Mengapa kita masih kerap sembunyi-sembunyi berbuat hal negatif seakan-akan Dia tidak hadir atau tidak ada? Bertobatlah dan kembalilah sadar, berdoa dan pujilah Dia.
  6. Hal yang sering menghambat bukan hanya jarang atau lupa berdoa/memuji Tuhan, melainkan ketidakyakinan. Seperti Simon (Petrus) yang malah tenggelam saat mencoba berjalan di atas air menuju Tuhan Yesus, demikianlah kita seringkali gagal menemukan-Nya. “Ah, saya ‘kan manusia biasa, gak bakalan bisa!”, “Mustahil!” dan sebagainya. Setiap kata hati adalah afirmasi, jika kita sedari awal sudah mengeklaim tidak bisa, maka tidak akan pernah bisa karena sudah terlebih dulu membatasi diri dan kemampuan Allah. Karena itu, klaim sendiri keberhasilan Anda.

Doa dan bernyanyi memuji Tuhan Allah kita bukan hanya rangkaian kata-kata indah rutin atau nada-lagu belaka, melainkan bisa jadi ‘senjata andalan’ luar biasa dalam menghadapi peperangan/pergumulan hidup. Cobalah dengan sepenuh hati, pasrahkanlah, yakinlah Tuhan selalu menolong, alamilah perubahan luar biasa dalam hidup.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 22-23 September 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image