“Est-ce que ça va, Maman?” Elaine terlihat panik melihatku berjalan dengan tatapan kosong. Gadis itu menguncang lenganku dengan cemas, aku tersenyum kecut. Tak ingin Elaine tahu isi kepalaku saat ini.
“Je vais bien,” jawabku.
“Dans ce cas, Dieu merci,” ujar Elaine lega.
“Apakah Maman masih mengharap dia kembali?” tebaknya. Aku menoleh jengah, mengembuskan napas panjang. Apakah dia juga melihat sosok laki-laki itu?
“Dunia terus berubah. Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Perasaan pun tumbuh dan musnah tanpa rencana. Situasi silih berganti tiba-tiba. Semua fana, sementara.”
“Je sais.” timpal Elaine
“Semua ketidakpastian membuat hati manusia mudah patah dan kecewa. Tapi jangan khawatir, ada satu yang tetap sama, kemarin, besok, hari ini, dan selamanya. Abadi, adalah Allah,” ujarku menambahkan sambil terus melajukan mobil.
“Jadi jangan berharap pada yang fana apa yang hanya bisa dilakukan oleh penciptanya. Berharap pada Allah saja, agar hatimu tak patah, supaya harapanmu tak musnah,” lanjutku. Elaine mengangguk, tersenyum tipis.
Mobil terus melaju, jalanan Magelang selalu sejuk, panas yang terik tak pernah benar-benar menyengat. Semilir angin mengimbangi cuaca siang hari dengan suhu berkisar 28-29 Celcius, cuaca khas perkotaan yang dikelilingi pegunungan.
Saat melintas dari arah Tidar, tampak beberapa warga hendak berziarah ke kompleks pemakaman yang tersembunyi di antara deretan toko di Jalan Ikhlas, Kelurahan Magersari, Kota Magelang.
Aku mengikuti kelompok tersebut, mencari tempat parkir dan bergabung dengan warga. Jalan masuk menuju pemakaman tersebut hanya berupa gang kecil dengan lebar sekitar 2 meter. Begitu melewati jalan itu, maka tampak kompleks pemakaman dengan luas sekitar 12 x 15 meter.
“Tempat apa ini?” tanya Elaine.
“Sepertinya makam, tapi jujur aku juga belum pernah ke sini,” jawabku sambil mengedikkan bahu. Mengingat lokasinya tidak mudah ditemukan dan ukuran makam yang tidak terlalu luas, tentu mengulik rasa penasaran, siapa gerangan yang terbaring di pemakaman tersebut. Jika melihat antusias warga, pasti yang dimakamkan bukan orang biasa.
Aku mengikuti melakukan ziarah. Menurut warga setempat yang dimakamkan di tempat itu adalah Johannes Van der Steur, seorang pendiri panti asuhan yang memiliki jejak panjang sebagai tokoh kemanusiaan.
“Nama Johannes Van der Steur di negeri Belanda sangat masyur. Jika Pangeran Diponegoro di kalangan orang Belanda dianggap sebagai pemberontak, sebaliknya Johannes Van der Steur adalah pahlawan. Namun, bagi masyarakat Magelang keduanya memiliki nilai tersendiri.” Seseorang tiba-tiba menyelutuk di sampingku. Aku menoleh cepat, sepertinya wajahnya tidak asing, tapi aku belum dapat mengingatnya.
“Makam Johannes Van der Steur merupakan salah satu tempat bersejarah di kota Magelang yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dari berbagai negara, khususnya dari Belanda, kebanyakan adakah anak keturunan mereka yang dulu pernah tinggal bersama Johannes Van der Steur, mungkin kakek, nenek bahkan ayahnya,” lanjut laki-laki itu.
“Mas Bagus?” Akhirnya aku bisa menebak nama laki-laki itu. Bagus Priyatna–seorang pegiat komunitas Kota Toea Magelang ini.
“Apa kabar, Mbak Tantri?” jawabnya sambil terkekeh.
“Alhamdulillah baik, Mas.”
“Wah, ini dalam rangka apa? Eksplorasi untuk novel lagi?” tanya Mas Bagus.
“Begitulah, Mas. Penulis macam saya memang banyak melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide tulisan,” jawabku tersipu.
“Tapi tulisan Mbak Tantri itu keren, lho! Saya suka banget Novel Yogya I’m In Love, Gowes Cinta, dan yang terbaru Adyatma. Menarik dan penuh inspirasi.”
“Terima kasih, syukurlah kalo njenengan suka. Oya, Mas. Kalau saya lihat pengunjungnya kebanyak dari manca negara, ya?”
“Benar. Banyak pengunjung mancanegara memberi rasa kebanggan akan perjuangan sesosok Pa Van der Steur di masa Hindia Belanda. Kadang ada juga mahasiswa dari berbagai universitas yang datang untuk penelitian sekaligus tugas mata kuliah mereka, dan banyak juga masarakat umum yang berkunjung hanya sekadar ingin mengenal sosok pahlawan kemanusiaan tersebut.”
Aku mengangguk, bersama Elaine menyusuri komplek makam. Sejumlah photo perjalanan hidup tokoh Johannes Van der Steur, dipajang di kompleks makam. Konon, beliau datang dari Belanda ke Hindia Belanda pada 1892 dan berjasa mengasuh anak-anak yang kehilangan orangtua mereka akibat perang.
Menurut Mas Bagus, kompleks yang berisi 24 makam dan sebuah monumen itu dulu merupakan bagian dari kompleks Kerkhoff yang memiliki luas sembilan hektar. Kompleks makam Van der Steur adalah satu-satunya yang tersisa dari Kerkhoff di tengah Kota Magelang.
Di komplek pemakaman juga terdapat prasasti yang menempel di bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau, bangunan serta ornamen-ornamennya yang masih berdiri kokoh dan tak berubah, meski usianya sudah ratusan tahun itu didirikan oleh Johannes Van der Steur .
Kini salah satu ruang di bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau di Kecamatan Magelang Tengah tersebut digunakan oleh pekerja dari Dinas Sosial Kota Magelang.
Keberadaan bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau sangat penting untuk dipertahankan sebagai monumen atas jasa Van der Steur. Hingga saat ini semangat kemanusiaan tokoh Belanda ini terus memberi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa sosok Johannes Van der Steur begitu berjasa di Magelang di masa Hindia Belanda.
Menurut Mas Bagus,, setiap awal Juli, Komunitas Kota Toea Magelang melakukan bersih-bersih kompleks Makam Kerkhof. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati hari lahir Johannes Van der Steur yang jatuh pada 10 Juli.
Hingga kini makam itu masih mendapat perhatian dan selalu terawat meski usianya hampir menyentuh satu abad. Ada puluhan makam lain selain Van der Steur, seperti istri dan beberapa anak asuhnya.
“Lalu siapakah sosok Johannes Van der Steur sebenarnya?” tanya Elaine yang sejak tadi menyimpan rasa penasaran.
“Beliau adalah pejuang kemanusiaan yang lahir pada 10 Juli 1865 di Rozenprieel, Haarlem, Belanda, dan meninggal pada 16 September 1945 di Kota Magelang. Meski berkebangsaan Belanda, Van der Steur hidup serba pas-pasan bersama sepuluh saudaranya. Dibesarkan oleh keluarga Kristen Protestan yang sangat taat. Ketaatan itulah yang membuat nilai-nilai protestanisme dan kemanusiaan tumbuh dalam diri seorang Van der Steur,” papar Mas Bagus.
“Suatu hari dalam perjalanannya menyebarkan agama Kristen Protestan, Van der Steur bertemu dengan seorang serdadu yang baru saja kembali dari Hindia Timur di kota Harderwijk. Serdadu itu banyak bercerita kepada Van der Steur tentang pengalamannya di kota tersebut. Kenyataan yang didapat ternyata nasib para serdadu sangatlah tragis.” Mas Bagus melanjutkan penjelasannya.
“Lalu Van der Steur tergerak hatinya?” sela Elaine
“Benar. Dia bertekad untuk berkunjung ke Kota Harderwijk. Pada 10 September 1892 dia berlayar ke Hindia dari Kota Ijmuiden. Di tahun yang sama, Van der Steur tiba di Magelang. Sebagai seorang penyebar agama, Van Der Steur tidak datang dengan tangan kosong, tapi sekaligus membawa misi untuk membimbing para serdadu agar mengenal dan kembali ke jalan Tuhan dan mengawali misinya dengan bekerja sebagai pembantu di tangsi militer. Dalam tugasnya dia membagikan kertas yang berisi renungan nukilan ayat-ayat injil di atas tempat tidur.”
“Menarik kisahnya.” Komentar Elaine sambil terus mencatat dan merekam.
“Sampai pada suatu ketika, dia menemui tentara yang mabuk dan mengatakan bahwa di luar ada anak-anak telantar yang bapaknya sudah meninggal. Namun, dari pertemuan itu lagi-lagi Van der Steur menemukan fakta mengenaskan, bahwa praktik pergundikan marak terjadi di Hindia-Belanda kala itu.”
“Lalu apa yang terjadi?” Lagi-lagi Elaine menyela
“Van der Steur lalu mengirim surat kepada Directur Onderwijes, Eredienst, en Nijverheid atau Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Surat tersebut berisi desakan untuk melangsungkan pernikahan sebanyak mungkin agar praktik pergundikan bisa ditekan. Hingga suatu ketika, Van der Steur melakukan kunjungan di satu kampung. Dan dia prihatin menemukan fakta banyaknya anak-anak dari berbagai latar belakang yang terlantar karena orang tua maupun keluarganya meninggal akibat perang. Lalu dia tergerak untuk membantu dengan mengasuh empat anak telantar di sebuah rumah di daerah Menowo, Magelang. Makin hari anak asuhnya semakin bertambah banyak, hingga akhirnya Van der Steur menjual seluruh aset berharga di kampung halamannya, dan kembali lagi ke Magelang bersama istrinya.”
“Luar biasa,” sela Elaine.
“Benar, jiwa sosial Van der Steur memang luar biasa. Setibanya di Magelang, dia membeli lahan di Kampung Meteseh untuk didirikan panti asuhan yang bisa menampung anak-anak telantar pada tahun 1892. Lambat laun anak asuhnya semakin banyak hingga ribuan. Mereka berasal dari berbagai suku dan daerah. Seperti Maluku, Ambon, Manado, dan sebagainya,” lanjut Mas Bagus lagi
“Dan istimewanya, anak-anak itu bukan hanya sekadar diasuh, tapi juga diberi keterampilan seperti menjahit dan memasak untuk perempuan. Sedangkan laki-laki, diajarkan pertukangan, membuat sepatu, dan tentu saja disekolahkan dengan baik. Harapannya, anak-anak yang kurang beruntung itu bisa memiliki derajat dan mengenyam pendidikan yang layak supaya kelak menjadi anak yang mandiri.”
“Apakah setelah Belanda pergi panti asuhannya masih berjalan?” tanya Elaine.
“Sayangnya saat Jepang datang di Magelang, Van der Steur dibawa ke Cimahi pada 1942. Hal tersebut membawa dampak yang luar biasa pada kondisi panti asuhan hingga tahun1945. Setelah Jepang menyerah, Van der Steur kembali ke Magelang dan dinyatakan meninggal pada 16 September 1945.”
“Apakah Van der Steur memiliki anak?”
“Van der Steur dan istrinya tidak memiliki anak. Bagi mereka, ribuan anak-anak asuh dianggap sebagai anak kandungnya. Kasih sayang Van der Steur membuat anak-anak asuhnya maupun generasi kedua dan ketiga, tetap mengenang dan beberapa kali berziarah ke makam Van der Steur hingga sekarang,” pungkas Mas Bagus, lalu pamit bersama rombongan peziarah yang hendak melanjutkan perjalanan.
***
Note :
Est-ce que ça va: apakah kamu baik-baik saja
Je vais bien: aku baik-baik saja
Dans ce cas, Dieu merci: Syukurlah kalau begitu










