Home / Topik / Wisata / 5. Candi Ngawen, Venuvana di Tengah Saluran Irigasi.

5. Candi Ngawen, Venuvana di Tengah Saluran Irigasi.

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 6 of 33 in the series Ananta Kama

Cuaca sangat panas, larik-larik jalanan cukup padat meski tak sampai menimbulkan kemacetan. Aku melajukan motor dengan hati-hati, tidak seperti biasanya yang memacu kecepatan hingga membuat adrenalin meningkat. Rasanya aneh saja, membonceng laki-laki yang ukuran badannya jauh lebih besar, apalagi bule. Kalau menurutkan hobi ngebut, jangan-jangan bule ini akan berpikir kalau cewek Indonesia semuanya brutal di jalanan. Waduhhh ….

“Ik hou van dit soort wandelingen,” ucap Zack di sela bisingnya lalu lintas.

“Echt?” tanyaku tak percaya. Heran saja, kok bisa dia menyukai perjalanan dengan motor tuaku.

“Maar het is zo warm,” imbuhku lagi.

“Geen probleem, ik vind het heerlijk.” Zack menjawab setengah berteriak, bersaing dengan deru kendaraan yang berlomba saling mendahului.

“Waar gaan we heen?” tanyanya lagi.

“Aku akan mengajakmu ke candi yang masih memiliki hubungan dengan ketiga candi tadi,” jawabku berusaha tetap fokus pada jalan.

Motor yang dikendarai mulai memasuki desa Gunung Pring. Melewati  sebuah makam yang  merupakan salah satu wisata religi yang cukup tersohor dan ramai dikunjungi oleh wisatawan untuk melakukan ziarah. Namun, tujuanku bukan tempat wisata religi yang berada sekitar 400 mdpl tersebut.

Motor terus melaju pada jalur wisata makam Aulia tersebut, hingga aku membelokkan motor dan berhenti tepat di dekat Kantor Balai Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Zack bergegas turun dari motor, memindai sekeliling dengan takjub pada candi yang terdiri dari 5 buah candi berderet sejajar menghadap ke timur.

“Ini Candi Ngawen, diberi nama sesuai nama desa tempat candi berada. Awalnya terdiri dari 5 candi, tapi sayang hanya tinggal 1 candi yang masih utuh, 4 lainnya hanya tinggal kaki candi.” Aku menjelaskan.

“Ini Candi Budha juga?” tanya Zack.

“Benar, candi ini berlatar belakang Buddha, dibuktikan dengan keberadaan arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa dan arca Dhyani Buddha Amithaba.  Berdasarkan gaya arsitektur bagunannya, candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad IX – X Masehi.” Aku menunjuk pada dua buah arca yang masih utuh. Kami berjalan mendekati area reruntuhan candi.

“Keberadaan Candi Ngawen yang di tengah-tengah saluran irigasi membuat candi ini memiliki keunikan dan daya tarik dibanding candi-candi lain,” lanjutku menjelaskan.

“Mengapa ada arca singa disini ?” tanya Zack saat mendekat pada candi kedua.

“Ditempatkannya arca singa di sudut-sudut candi, khususnya di candi kedua dan keempat adalah salah satu ciri khas yang tidak umum ada pada candi lain di Indonesia. Arca-arca ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai saluran pembuangan air.”

“Bukankah saluran air itu seperti Jaladwara?” tanya Zack, rupanya dia masih mengingat penjelasan tentang Jaladwara di candi Mendut yang merupakan saluran air. 

“Bentuk dan fungsinya berbeda. Jaladwara biasanya terdapat di bagian atas candi, fungsinya mengalirkan air dari bagian atas candi ke bagian bawah. Sedangkan pada arca ini fungsinya sebagai tempat pembuangan air.” ujarku berusaha menjelaskan, jujur aku sendiri kurang paham perbedaannya.

“Candi Ngawen memiliki arca Buddha Dhyani, yang merupakan simbol dari lima elemen kosmos dalam kepercayaan Buddha. Dua candi dihiasi arca singa jantan yang kokoh berdiri dengan dua kaki belakangnya. Di candi utama, terdapat patung Buddha dalam sikap duduk dengan gestur tangan Dyani Budha Ratna Sambawa. Posisi tersebut melambangkan momen ketika Buddha Gautama memohon bantuan Dewi Bumi untuk mengusir bahaya saat beliau bermeditasi di bawah pohon Bodhi.” Aku menjelaskan sisi candi yang lain, berusaha mengalihkan topik tentang pembuangan air. Takut kalau Zack mengulik lebih dalam karena aku tidak terlalu paham. Aku akan mencoba mencari detailnya nanti dan akan kukoreksi jika ternyata salah. 

“Menurutku Candi ini memiliki perpaduan gaya Buddha dan Hindu,” ujar Zack. Aku mengerutkan alis, ternyata laki-laki ini cukup kritis juga

“Kamu tahu candi Hindu?” pancingku. Zack mengedikkan bahu dengan sudut bibir terangkat.

“Sedikit, biasanya candi Hindu bentuknya ramping, sedang candi Buddha gendut,” jawabnya dengan mimik yang lucu. Aku tersenyum.

“Kamu benar. Candi Ngawen ini perpaduan gaya arsitektur Hindu dan Buddha yang merupakan keistimewaannya. Hal ini bisa dilihat dari bentuk candi yang mengerucut ke atas. Serta adanya stupa di atap candi.”

“Ini ukiran burung?” tanya Zack lagi, matanya meneliti bentuk manusia setengah burung.

“Itu Kinara-Kinari, ingat?”  pancingku. Zack tertawa sambil mengangguk

“Keindahan Candi Ngawen semakin lengkap dengan ukiran Kinara-Kinari yang diapit oleh kalpataru, pohon kehidupan abadi. Dahan-dahan kalpataru digambarkan menjuntai penuh dengan berbagai perhiasan indah,” lanjutku.

Zack mengamati dengan saksama, sementara aku menjelaskan tentang hiasan lain yang tak kalah menarik berupa motif tumbuhan sulur gelung. Tanaman menjalar dengan pola ikal berulang menghiasi pelipit bagian atas dan kaki candi. Di sisi luar kaki candi, terdapat pula relief bunga matahari di dalam lingkaran, menambah pesona Candi Ngawen.

Menurut yang pernah kupelajari dari sebuah literasi sejarah, diduga Candi Ngawen merupakan bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Karang Tengah. Menurut Prasasti Karang Tengah, Candi Ngawen didirikan pada tahun 824 M oleh Dinasti Syailendra pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti tersebut, Candi Ngawen juga mendapat julukan Venuvana yang berarti hutan bambu.

Konon pada masanya  Candi Ngawen digunakan sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan keagamaan bagi umat Buddha. Candi ini juga memiliki relief-relief yang menggambarkan ajaran Buddha, serta arca-arca Buddha yang menjadi ciri khas candi bercorak Buddha Mahayana.

Beberapa arca Buddha ditemukan dalam posisi dhyana mudra atau posisi meditasi dan dharmachakra mudra atau posisi mengajarkan dharma, yang mencerminkan fungsi keagamaan candi ini.

Seperti kebanyakan candi-candi yang ditemukan di sekitar Magelang, Candi Ngawen pertama kali juga ditemukan dalam keadaan runtuh dan terkubur sebagian oleh tanah. Pada sekitar tahun 1920 pemugaran candi dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, hingga kini, beberapa bagian candi masih dalam kondisi rusak, meski upaya pelestarian terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Candi yang merupakan bagian dari situs-situs peninggalan budaya Mataram kuno ini memiliki nilai sejarah yang penting dan menjadi salah satu bukti kekayaan sejarah dan budaya Indonesia, menarik perhatian para wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur kuno. Keberadaan yang tidak sulit dijangkau memiliki potensi sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Magelang yang bisa dikunjungi bersama dengan candi-candi lain di sekitarnya.

Keberadaan Candi Ngawen memang cukup memberikan kontribusi yang penting dalam memahami perkembangan agama Buddha di tanah Jawa karena merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddha, sekaligus memberikan informasi tentang kehidupan dan kebudayaan pada masa itu.

Keberadaannya  yang berada tak jauh dari Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat keagamaan dan budaya yang signifikan pada masa lalu.

Zack tampak puas berkeliling, keindahan Candi semakin lengkap dengan taman cantik disekitarnya. Pohon-pohon palem dan tanaman hias sepertinya sengaja ditanam  untuk menciptakan suasana sejuk dan asri. Menjadikannya tempat yang cocok untuk bersantai dan berwisata bersama keluarga. Meskipun lokasinya yang tidak tepat berada di lereng Gunung Merapi, tapi udara segar yang menyejukkan, pemandangan dengan spot Merapi yang gagah, membuat suasana asri yang nyaman.

“Menurutku sebagai tempat wisata sejarah, Candi Ngawen  bukan hanya sebuah situs bersejarah, dia juga harus dijaga agar tidak semakin hilang dari peradaban,” ujar Zack saat kami mengakhiri kunjungan.

“Aku akan mengantarmu kembali pada rombonganmu.” ujarku saat kami berada di parkiran.

“Aku masih ingin berkeliling lagi,” jawab Zack

“Wat? Nanti aku akan disalahkan jika mereka mencarimu,” tolakku. Bukan keberatan dia ikut bersamaku, tapi lebih tepatnya khawatir dia tertinggal rombongannya.

“Tidak masalah, aku bosan ikut dengan orang tua-tua, aku bisa kembali ke hotel sendiri,” kilahnya.

Aku hanya menggelengkan kepala, “Baik, satu tujuan lagi, setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke rombongan,” tegasku. Zack tertawa menang sambil melompat ke boncengan motor.


Note :

Ik hou van dit soort wandelingen: Aku suka jalan-jalan seperti ini

Echt: benarkah

Maar het is zo warm: Tapi cuaca sangat panas.

Geen probleem, ik vind het heerlijk: Tidak masalah. Aku menyukainya.

Waar gaan we heen: Kita mau kemana

Ananta Kama

. Candi Pawon Tempat Pa-awu-an. . Situs Plandi, Sebuah Bukti Perkembangan Hindu

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image