Home / Fiksi / Cerbung / 4. Hati yang Kau Pilih

4. Hati yang Kau Pilih

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
1
This entry is part 5 of 21 in the series Sebiru Langit Casablanca

Hicham, Karima, Ghadia mengunjungi tempat tinggal  Yazid di Centre Rue yang berjarak dekat dengan tempat tinggal mereka. Yazid merasa senang dengan kedatangan mereka, dia dan Huwaida,ibunya, merasa terharu. Huwaida kini merasa tidak sendiri lagi. Kedatangan Hicham dan keluarganya ibarat obat penyembuh dan juga kekuatan baru baginya.

“Alhamdulillah, kita masih diberikan umur panjang sehingga bisa bertemu lagi, Huwaida.” Hicham merasa iba dengan kondisi Huwaida sekarang.

“Alhamdulillah, iya, Hicham. Meski dengan keadaan yang begini, aku dan putraku  selalu bersyukur,” ujarnya lemah. Gurat-gurat lelah terlihat dari wajahnya yang tirus.

“Aku  belum bisa berjalan sepenuhnya, Hicham. Beberapa bulan ini, aku terkena stroke ringan. Aku merasa menjadi beban untuk putraku. Dia tidak hanya bekerja keras untuk menghidupi kami, tetapi juga menjagaku.”

“Iya,Karima sudah bercerita padaku tempo hari. Putramu yang bercerita kepadanya tentang kondisimu. Mereka sudah bertemu beberapa kali di bawah.”

“Iya. Dia juga bercerita yang sama. Dia menemukan gantungan kunci Karima terjatuh, dan itu mengingatkan mereka pada perjumpaan mereka masa kecil yang singkat.”

“Putramu pria yang baik,  kau harus bangga dengannya.”

“Tentu saja, Hicham. Dia harapanku satu-satunya.”

“Kita takkan pernah tahu  kemana arah hidup ini, Huwaida. Hanya tinggal menjalani dan melakukan yang terbaik.”

Huwaida tersenyum samar, dengan keadaannya yang seperti ini justru tidak membuat semangatnya meredup. . Justru di saat-saat seperti ini kehadiran Karima dan Hicham ibarat cahaya baru dalam hidupnya. Menjadi penyemangat baginya untuk sembuh.

Karima dan Yazid bicara di ruang tamu.Mereka membicarakan banyak hal, terutama masalah pekerjaan dan pendidikan. Kedua orang tua mereka diam-diam menyadari sesuatu.

“Aku bersyukur, kau memang layak mendapatkan beasiswa, Karima. Kau gadis yang cerdas, mandiri, dan juga mudah bergaul.”

“Sebenarnya, aku masih sedih dengan kepergian ibu. Kau tahu tidak, saat aku ingin memberitahu ibu dan ayah tentang kelas baru dan beberapa prestasiku, ibu pergi untuk selamanya. Dia belum sempat melihat beberapa catatan prestasiku dari sekolah.” Raut muka Karima berubah mendung.

“Kau masih memiliki ayah, nenek, dan juga… aku. Aku akan selalu bersamamu, Karima.”

“Terima kasih, Yazid. Kau sahabat yang baik.”

‘Mengapa kau hanya menganggapku sahabat, Karima. Apakah di hatimu sudah ada orang lain?’ Diam-diam pemuda itu memperhatikannya. Karima kecil yang dulu dikenalnya memang cantik, tapi kini jauh lebih cantik dengan balutan hijabnya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Yazid?”

“Sejauh ini lancar. Terkadang, aku pergi ke luar kota beberapa hari dan meninggalkan ibu bersama bibi Lorraine.”

“Bibi Lorraine? Siapa dia?”

“Oh, dia bekerja di sini sejak ibuku sakit dan sudah kami anggap keluarga sendiri. Suaminya pun sudah tiada.”

Percakapan keduanya berakhir beberapa menit kemudian. Hicham berpamitan pulang kepada Huwaida dan Yazid. Ada kebahagiaan dengan pertemuan singkat itu setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Terutama Yazid dan Karima. Pertemuan singkat mereka di masa kecil telah terulang kembali.

Sepeninggal kepergian Karima,  Yazid kembali menemani ibunya. Raut wajahnya yang mulai menua melancarkan sedikit harapan.

“Bersyukur sekali, ternyata takdir mempertemukan kita dengan Hicham dan keluarganya. Meski dulu kita hanya beberapa jam bersama mereka.” Huwaida bersyukur mengenal keluarga itu,terutama Yasmin yang  juga telah tiada.

“Ibu beristirahatlah, lusa kita akan terapi lagi ke rumah sakit. Aku  akan keluar sebentar.”

“Karima, tunggu!”Dari arah taman perpustakaan, seseorang berteriak manggilnya.

Gadis itu menoleh.”Youssef, ada apa?”

Pemuda itu berjalan dengan langkah cepat ke arahnya.

“Aku ingin bicara denganmu, Karima. Sebentar saja.”

“Maaf, Youssef. Aku  tidak ada waktu, sebentar lagi akan ujian. Aku harus fokus belajar.” Karima meninggalkan Youssef sendiri. Pemuda itu mengejarnya.

“Mengapa kini kau selalu menghindar, Karima? Apa salahku padamu?”

Pemuda itu berdiri menghadang jalannya.

“Maaf, Youssef. Aku harus segera pulang. Hari sudah sore. Banyak pekerjaan di rumah yang harus aku selesaikan,” jawab Karima memberi alasan.

“Apakah ini karena Sabrina?”

Karima tidak mengingat perkataan Youssef. Dia tidak ingin mendengar apapun.

“Karima! Karima!”

Karima terus berjalan tapa menoleh lagi ke belakang. Dia berniat membelikan buah-buahan untuk Huwaida. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju toko buah yang berada di ujung jalan.

“Tuan, parcel buah ini berapa harganya?”

“20 franc, Nona,” jawabnya ramah.

“Baiklah, saya ambil dia, Tuan.” Karima mengambil uang untuk membayar. Satu suara mengagetkannya. Dia menoleh.

“Yazid?” Mata Karima berbinar, dia tersenyum melihat sahabatnya itu.

“Kau baru pulang?”

“Iya. Tuan Leon menyuruhku ke rumahnya nanti malam. Bisa kubantu membawakan?”

“Boleh. Ini untuk ibumu satu, Yazid.”

“Kau sangat perhatian, Karima. Terima kasih banyak.”

“Kita adalah sahabat lama, Yazid. Meski kita dulu hanya bersama beberapa jam saja.”

“Iya, kau benar. Dan kini kita bertemu atas kuasa-Nya. Kuharap kita akan begini selamanya, ” Yazid ingin mengutarakan isi hatinya kepada Karima, tetapi masih dia tahan.

“Insya Allah, persahabatan kita akan abadi hingga kelak.”

“Aamin. Kuharap juga begitu.”

Keduanya berjalan menuju Centre Rue, apartemen Yazid.

“Sampaikan salamku untuk bibi Huwaida. Semoga Allah segera memberikannya kesembuhan.”

“Baik, terima kasih, Karima. Pasti kusampaikan pada ibuku.”

“Sampai bertemu lagi, Yazid. A la prochaine. “

“A bientot, merci Karima.”

Sepasang mata memandang tajam kebersamaan mereka dengan hati membara. Kedua tangannya terkepal kuat. Emosi telah menguasai akal pikirannya.

Yazid baru saja masuk rumah. Dilihatnya Lorraine masih berada di sana,menemani ibunya. Huwaida gembira melihat kedatangan putranya. Dia memperhatikan parcel yang dibawa Yazid.

“Kau membeli parcel buah itu untuk ibu, Nak?”

“Tidak,Bu. Ini dari Karima,” Yazid meletakkan parcel buah itu di meja dekat pembaringan ibunya.

“Karima yang membeli?”

“Iya. Tadi kami bertemu di bawah.”

“Masya Allah, baik sekali gadis itu.”

Yazid duduk di samping ibunya, menggenggam tangan wanita pertama dalam hidupnya itu dengan n penuh kasih sayang.

“Dia menyampaikan salam untuk Ibu dan berharap Ibu segera sembuh.”

Huwaida terharu mendengarnya.

“Tolong jawab Ibu dengan jujur, Nak.”

Huwaida menatap mata putranya lekat-lekat. Ada pancaran kebahagiaan terlihat di sana.

“Iya, Ibu. Aku akan menjawabnya.”

“Jujur?”

“Tentu saja, Bu. Aku akan jujur menjawab.”

“Kau menyukai Karima,bukan?”

Pemuda itu tersentak. Tidak menyangka jika ibunya bisa menebak isi hatinya.

“Bukan begitu? Kau menyukainya?” desak Huwaida lagi.

“Bagaimana Ibu bisa tahu perasaanku?”

“Kau putra Ibu. Aku mengerti karena aku ibumu. Cerita kalian yang beberapa jam dulu, beberapa tahun lalu pun masih kuingat.”

Yazid tidak menyangka. Gemuruh dadanya kian kuat.

“Ya, Ibu. Aku menyukai Karima. Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku.”

“Kau harus berkata jujur padanya tentang perasaanmu.”

Youssef merasakan api cemburu tengah membakar dirinya. Dia tidak menyangka jika Karima dekat dengan seorang pemuda yang sangat akrab dengannya yang diketahuinya sebagai Leon d’Oro, atau si Singa Emas.

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Leon?” pertanyaan Youssef mengejutkan Karima ketika gadis itu berada di perpustakaan. Matanya terbeliak menatap Youssef yang penuh kemarahan.

“Youssef tolong mengertilah, ini perpustakaan. Kita berada di tempat belajar, jangan membicarakan hal-hal lain.” Karima meletakkan kembali buku yang baru saja akan dia ambil. Ditinggalkannya Youssef sendiri.

Pemuda itu masih berdiam di tempatnya. Dia segera meninggalkan tempat itu setelah tubuh Karima menghilang dari pandangannya. Youssef ingin menyelidiki sejauh mana hubungan Karima dengan orang yang telah dianggap sebagai seniornya itu.

Karima terus berjalan menuju apartemennya. Langkahnya pasti. Dia ingin segera beristirahat setelah beberapa hari ini menjalani ujian.

***

Zaragosa, Spanyol

“Bagaimana hasil penyelidikanmu selama ini, apakah ayahku masih hidup?” pria bermata tajam bak elang itu tampak serius bertanya  kepada salah seorang anak buahnya. Jarak mereka berdua sangat dekat.

“Ayah Anda baik-baik saja, Tuan. Justru sekarang,  perubahan  milik Tuan Besar sedang berkembang pesat.”

“Hmm, kau tahu mengapa?”

“Semuanya berada dalam kendali seseorang, Tuan.”

“Lalu, siapa yang sudah ‘mengambil alih’ bagianku? Hingga aku dan bagianku bahkan tidak diakui oleh ayah kandungku sendiri?”

“Saya kurang tahu, Tuan. Tapi… dia seorang pemuda handal yang tinggal agak jauh dari tempat tinggal ayah Anda sekarang.”

Dia menundukkan pandangannya ke lantai.

“Selidiki dia. Berikan data-datanya jika kau sudah mendapatkannya. Kau paham?” Pria itu mendorong hingga hampir terjatuh. Dia hanya mengangguk.

“Jika perlu, habisi saja dia. Pastikan bahwa kau memiliki orang-orang keperluan yang bisa diandalkan.”

“Baik, Tuan.”

Ada rencana besar yang sudah direncanakannya, rencana yang mungkin saja akan mengubah hidupnya. Dia tidak ingin menjalani kehidupan semu, sementara di sisi lain dia masih memiliki pengaruh dan juga sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai putra d’Oro.

***

Hicham menerima tamu spesial hari itu. Seorang pemuda sukses yang sederhana dan rendah hati.Dia menyambutnya dengan sangat senang. Setelah berbicara beberapa saat, akhirnya pemuda itu mengutarakan maksud dan tujuannya.

“Paman, jika paman ijinkan, aku ingin menikahi putri paman, Karima.” Dengan penuh percaya diri, dia menyatakan keinginannya pada Hicham.

Hati Hicham tersentak. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Beberapa saat mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Yazid, apakah kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu?” Hicham meyakinkan.

“Ya, Paman. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak ingin bermain-main. Aku mencintai Karima.”

Hicham terharu dengan ucapan pemuda itu.  Ada nada kesungguhan dan juga ketulusan yang dirasakannya.

“Aku… tidak bisa menjawabnya. Tunggulah Karima, sebentar lagi dia akan datang. Dia yang lebih berhak menjawabnya.”

“Baiklah, Paman. Aku akan menunggunya pulang. Apapun keputusannya, aku akan siap.”

“Aku menyukai keberanian dan kejujuranmu, Yazid. Kau anak yang berbakti dan juga pemuda pekerja keras. Aku kagum padamu, namamu sesuai dengan kepribadianmu, selalu menerangi orang-orang sekitarmu.”

Yazid tersipu malu, ia menjawab,”Paman terlalu berlebihan. Aku bisa melakukan semua ini karena Allah, Paman.”

“Masya Allah, kau sungguh membuatku bangga.”

Sebiru Langit Casablanca

. Sepenggal Kisah . Ya atau Tidak!

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image