Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Natal, Saatnya Detoks Digital?

Kehidupan Kristen: Natal, Saatnya Detoks Digital?

Kehidupan Kristen 20251212
3

Natal bukan hanya sekadar merayakan hari kelahiran Yesus Kristus saja namun juga merupakan bagian dari sebuah tradisi musim liburan menjelang tahun baru di hampir seluruh bagian dunia. Banyak konten Natal berlomba-lomba dibuat di media massa atau media sosial entah berupa event-event hingga liputan Natal. Apakah ini sebuah peluang emas atau malah menjauhkan kita, Orang Percaya, dari makna sejati Natal itu sendiri?

  1. Boleh-boleh saja merayakan Natal dengan segala keistimewaannya setahun sekali bahkan dengan megah-meriah, namun jauh lebih baik terlebih dahulu memperingati Natal dengan khidmat dan bersahaja. Jika memang sedang bertugas meliput atau live streaming kebaktian tentu saja boleh, akan tetapi lakukanlah sebagai bagian dari pelayanan, bukan demi view, rating tinggi apalagi bertujuan menjaring pendapatan tinggi belaka.
  2. Detoks digital saat Natal? Tentu saja boleh. Selain menghindari oversharing, kesempatan ini sebaiknya diisi family time dan kebersamaan real life, quality time bersama keluarga kecil-besar dan sahabat. Akan tetapi jangan lupa berbagi ucapan hingga kebaikan dan kasih sayang kepada sesama manusia (siapa saja). Apabila diperlukan, berkomunikasilah, akan tetapi ingat juga pada tempat dan waktu.
  3. Satu hal yang penulis perhatikan masih sering kita lakukan; beberapa sering membuka ponsel saat di gereja. Bukannya tidak boleh sama sekali, apalagi jika Anda sudah terbiasa membaca Alkitab pada saat pelayanan Firman Tuhan melalui aplikasi. Akan tetapi hendaklah kita mengendalikan diri untuk tidak melulu cek ponsel/gawai (membalas pesan atau belanja, apalagi chatting dan gaming).

    Apabila sedang bersama bos di kantor, atau pejabat/orang yang dihormati saja kita tidak berani sembarangan main hape bahkan bersikap cuek, lantas mengapa tidak saat berkunjung ke Rumah Tuhan? Tuhan memang tidak kelihatan secara fisik, akan tetapi Dia Maha Ada, Maha Tahu dan Maha Menilai.
  4. Kita boleh saja melakukan detoks digital, namun jangan lupa juga untuk mendetoks ‘dosa-dosa lama’, alias lakukanlah pertobatan. Bertobat bukan berarti sekadar minta ampun atau maaf kepada Tuhan atau mengaku dosa saja lalu selesai, melainkan juga berjanji dan berusaha sepenuh hati untuk memperbaiki diri.

    Siapa dapat memampukan, bukankah beberapa kelemahan itu sudah jadi sifat alami kita sehingga tidak mudah melakukannya? Roh Kudus akan memberi peringatan indah sekaligus kemampuan melakukannya. Saat kita di ambang godaan untuk melakukan kesalahan, sebelum lagi-lagi jadi batu sandungan bagi orang lain, sebelum kita terjatuh dan gagal, Roh Kudus akan menegur kita. Roh Kudus ibarat pelindung dan rem, perisai atau shock breaker agar kita tidak terbentur lagi pada dinding-dinding kesalahan lama.
  5. Sebagai Orang-orang Percaya, utamakanlah kehidupan rohani dan kehidupan nyata kita terlebih dahulu di atas segalanya. Berdoa kepada Tuhan di awal dan di penghujung hari, berkomunikasi kepada-Nya setiap saat dalam hati, bawa Dia kemanapun kita pergi.

Dunia virtual/digital bagaimanapun hebat, canggih dan indahnya, jangan sampai menjauhkan kita dari Tuhan. Banyak rekan/keluarga menunggu jawaban/reply chat kita, urusan bisnis harus tetap berjalan, bahkan membuat konten hingga bermain boleh dilakukan, hanya saja hendaklah dilakukan dalam batas-batas kewajaran. Maukah kita belajar menahan diri untuk tidak melulu cek ponsel atau bermain sepanjang kebaktian/ibadah di gereja, juga tidak bermedia sosial dengan membuat konten-konten wah meriah demi viral belaka? Mari ‘detoks diri’ masing-masing dengan bijak agar semakin nyata kasih-Nya terpancar dari hati dan perilaku kita.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 12 Desember 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image