Home / Non Fiksi / Ulasan / Babu (Baca Buku): Panasnya Piala Dunia

Babu (Baca Buku): Panasnya Piala Dunia

Setelah Argentina Juara

Jelang laga semifinal Piala Dunia 2026 suasana terasa makin memanas. Bukan saja dikarenakan wilayah AS dihantui cuaca gelombang panas ekstrem, tapi juga tersebab oleh suhu persaingan memperebutkan tiket ke babak final.

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di tiga negara sekaligus (AS, Kanada dan Meksiko) dari awal sudah panas dipicu oleh perang AS vs Iran. Timnas Iran paling merasakan sengatan panas dengan tidak diijinkannya untuk bermarkas di wilayah AS dan terpaksa harus bolak-balik dari Meksiko ke AS setiap bertanding di babak fase grup.

Situasi pelaksanaan Piala Dunia 2026 semakin memanas ketika presiden AS Donald Trump diduga mengintervensi FIFA untuk meninjau ulang keputusan pemberian kartu merah oleh wasit kepada pemain andalan tuan rumah Folaris Balogun.

Tentu saja asosiasi sepakbola Belgia, yang menjadi lawan timnas AS di babak 16 besar, mencak-mencak atas keputusan nyleneh Komdis FIFA tersebut. Beruntungnya timnas Belgia berhasil membungkam AS dengan skor telak 4-1.

Isu lain yang turut memanaskan gelaran Piala Dunia 2026 adalah FIFA disinyalir membuat skenario untuk memenangkan Piala Dunia 2026 ini. Hal ini mencuat setelah Argentina melakukan ‘comeback’ ketika melawan timnas Mesir dengan kemenangan 3-2, setelah sebelumnya ketinggalan 0-2.

Kontroversi Piala Dunia

Panasnya Piala Dunia bukan hanya kali ini saja. Kontroversi senantiasa menyertai setiap penyelenggaraan ajang sepakbola paling akbar di dunia ini. Setidaknya seperti yang tercatat dalam buku Mahfud Ikhwan ‘Setelah Argentina Juara’.

Buku berisi delapan catatan sepakbola karya Mahfud Ikhwan yang diterbitkan oleh Penerbit JBS (2023) menggambarkan kasak-kusuk di belakang pada gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar. Pada edisi Piala Dunia 2022 itu timnas Argentina yang dimotori Lionel Messi meraih gelar juara dunia. Akankah kali ini Lionel Messi akan kembali mengangkat tropi Piala Dunia 2026?

Untuk menggambarkan kebobrokan Piala Dunia 2022, penulis yang juga dikenal sebagai novelis ini, menuliskan:

Tapi tak ada sejarah sepakbola yang lebih besar dibanding Mohammed bin Hammam. Dan itu adalah sejarah aib (halaman 22). Dijelaskan bahwa penunjukkan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah hasil dari permainan kotor di belakang meja.

Lebih lanjut Mahfud Ikhwan menulis:

Jadi, jika Qatar kotor, FIFA adalah biangnya kotor. Dan sepakbola, dengan berat hati mesti dikatakan, tak lebih bersih dibanding organisasi yang mengelolanya.

Dalam catatan lain yang berjudul  ‘Kekalahan Maroko dan Empat Hikmah’ penulis menyampaikan; Sejarah harus diciptakan. Tradisi mesti diawali. Dan karena itu beberapa tim berusaha dengan sangat keras, kadang dengan segala cara, bisa mendapatkannya (halaman 75). Catatan ini menegaskan bahwasanya juara Piala Dunia mestilah harus negara-negara yang memiliki sejarah sepakbola dan sudah pernah menjuarai Piala Dunia. Di luar itu jangan berharap!

Sejarah Baru?

Semifinal Piala Dunia 2026 diikuti oleh Spanyol, Inggris, Perancis dan Argentina. Akankah ada sejarah baru yang harus ditulis atau sejarah lama kembali mewarnai juara Piala Dunia 2026?


Jkt, 140726

Penulis

  • Mas Sam

    Seorang guru yang hobi baca dan suka nulis.

    Menamatkan pendidikan di IKIP Negeri Yogyakarta dan berprofesi sebagai guru sejak 1996 sampai sekarang.

    Tulisannya dapat dibaca di platform kompasiana.com dan opinia.id.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image