Era teknologi baru di dunia digital memasuki tahapan baru yang lebih canggih. Yaitu, dengan munculnya keberadaan AI atau Artificial Intelligence, atau dalam bahasa Indonesia disebut Kecerdasan Buatan. Ada pula yang menamainya sebagai Akal Imitasi. Mengapa bisa terjadi demikian? Tentu saja, hal ini sangat relevan seiring dengan perkembangan dan kondisi keberadaan AI saat ini.
Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Di mana, hal itu bisa menjadi penyangga dan juga penunjang, tetapi juga sebaliknya akan menjadi sesuatu yang menantang.
Tidak hanya itu, kecerdasan buatan perlahan-lahan mulai menggeser bahkan menggantikan peranan dan pekerjaan manusia. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak yang luar biasa. Bisa jadi di salah satu sisi dari segi penguasaan teknologi dijadikan sebagai sarana efisiensi, akan tetapi menjadi salah satu penghambat bagi tenaga manusia di bidang industri.
Menyikapi hal ini, muncul kekhawatiran dari berbagai kalangan, terutama para pekerja yang berhubungan dengan dunia kepenulisan, seperti wartawan dan juga penulis-penulis lainnya. Kehadiran AI tidak hanya dikhawatirkan menjadi pesaing, tetapi juga sebagai momok yang sewaktu-waktu bisa mengaku bahwa tulisan yang telah mereka tulis adalah buatan AI. Miris bukan?
Begitu pula dalam dunia fotografi, animasi, desain grafis, yang selama ini mengandalkan daya kreativitas kini dengan begitu mudahnya dibuat dengan bantuan AI.
Beberapa orang terang-terangan menolak kehadiran AI, meski tak dapat dipungkiri keberadaannya jika sekarang AI telah merebak dan menjadi tren tersendiri di kalangan generasi sekarang.
Fenomena ini sempat juga membuat beberapa penulis, terutama yang sudah senior meradang. Dikarenakan, dalam dunia kepenulisan, penulis yang terbiasa menulis dengan bantuan AI akan dengan begitu mudahnya menuliskan sekian ribu kata hanya dalam waktu yang singkat. Begitu pula dalam dunia sastra. Ketika seorang pemuisi atau penyair yang terbiasa menulis puisi melalui perenungan-perenungan serta memiliki diksi-diksi indah, kini dengan mudahnya tersaingi dengan bahasa puisi ala-ala AI yang dirasakan kurang menjiwai bahkan cenderung tak bernyawa. Nilai estetika dari diksi tersebut terasa hambar.
Di sisi lain, ada pula penulis yang hanya menggunakan bantuan AI sekadar untuk membuat ilustrasi visualisasi tokoh atau topik yang akan mereka tuliskan ke dalam karya tulis mereka, tetapi untuk outline atau kerangka, ide, serta bahasa yang digunakan murni berasal dari pemikiran sendiri. Hal itu terasa lebih bijak.
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk berkenalan dengan AI agar apa yang tercantum dan tertera dari berbagai pendapat para pegiat literasi, penulis, desainer grafis, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengannya.
Fenomena maraknya AI sempat membuat beberapa penulis (senior) meradang. Bagaimana tidak? Keberadaan AI yang mengejutkan dan tiba-tiba mengambil alih apa yang telah mereka tuangkan dalam bentuk tulisan. Kehadiran AI seperti merebut paksa apa yang selama ini mereka miliki.
Meski begitu, ada juga penulis netral, yaitu sebagaimana telah tertulis di atas bahwa mereka hanya menggunakan AI sebagai alat bantu menggambarkan ilustrasi pada tulisan mereka sebelum mereka unggah ke website ataupun ke blog yang mereka miliki, tetapi ide tetap murni dari dalam hati dan hasil pemikiran sendiri.
Namun, di dunia penerbitan, pemakaian cover atau ilustrasi dengan bantuan gambar AI masih belum terlalu kentara. Kehadiran ilustrasi dari AI pun belum ada undang-undangnya.
AI sebenarnya tidak perlu ditakuti, justru bisa dijadikan peluang pengembangan keahlian untuk membantu beberapa bidang, terutama untuk UMKM yang sangat memerlukan ini. Yang perlu ditakuti adalah plagiator karya orang lain yang diakui sebagai karya sendiri, termasuk apabila ada orqng yang memanfaatkan AI untuk menulis dan dia hanya tinggal salin tempel saja dan diakui sebagai karyanya.
Intinya, dalam pandangan bijak, AI hanyalah alat bantu yang takkan bisa menggantikan otak manusia. Terutama ketika manusia tersebut mampu berpikir kritis.
AI dalam pandangan bijak bisa digunakan sebagai alat bantu untuk menangani penyakit medis yang bisa dilakukan dari jarak jauh. Inilah manfaatnya di bidang kesehatan. Selain itu, AI juga bisa digunakan sebagai alat bantu untuk mengejar tenggat waktu pekerjaan yang menumpuk dan harus segera terselesaikan di suatu instansi atau perusahaan. Kuncinya adalah terletak pada diri manusia itu sendiri, bagaimana dia bisa menghargai diri sendiri dan tidak terlalu menggantungkan pemikirannya pada teknologi.












Satu Komentar
Izin share. Sangat bermanfaat