Sebelum matahari terbit, Youssef pergi bersama Karima meninggalkan apartemennya menuju suatu tempat yang masih dirahasiakan.
“Mengapa kau mengajakku sepagi ini, Youssef? Dan kita akan ke mana?” protes Karima,”Lebih baik kau kembalikan aku bersama ayahku, kau tidak akan mendapatkan masalah.”
“Tentu saja aku akan mengembalikanmu. Nanti setelah ini kau akan tahu.”
Senyum Youssef menghias di bibir tipisnya, dia sangat merindukan seseorang.
“Aku ingin menemui seorang wanita, Karima, di perbatasan Avignon ini.”
“Avignon? Bukankah ini sangat jauh dari Marseille,Youssef?Tolong kembalikan aku kepada ayahku. Jangan buat hidupnya makin menderita!”
“Mengapa kau marah-marah, Karima? Apakah kau cemburu?”
“Tidak! Aku tidak cemburu, Youssef. Jangan terlalu berbesar rasa.”
“Aku kira kau akan cemburu.” Goda Youssef tersenyum penuh kemenangan.
“Tidak!”
“Tentu saja kau tidak cemburu, karena aku bukan pilihan hatimu, benar bukan?”
“Hentikan semua ini, Youssef! Kembalikan aku kepada ayahku, atau kau akan masuk penjara selama-lamanya karena telah menculikku.”
“Tidak apa-apa. Tidak masalah.” Youssef menambah laju kecepatan kendaraannya melewati beberapa tempat yang sangat indah dan sejuk di pagi itu. Karima hanya terdiam,menikmati pemandangan yang begitu memakai pandangannya.
Mobil Youssef menuju salah satu desa kecil di balik bukit. Di ujung desa itu terdapat rumah sederhana yang yang sangat asri. Sekeliling rumah itu ditumbuhi pepohonan hijau yang menambah asri suasananya. Youssef memarkir mobilnya di garasi alami di sebelah rumah.
“Ini rumah siapa, Youssef?”
Youssef tersenyum, dia menjawab, “Rumah cinta pertamaku, wanita terbaik dalam hidupku.”
” Youssef… sebaiknya aku pergi, tidak baik jika kau ingin menemui seorang wanita jika bersamaku.”
“Emmm… tidak apa-apa, jangan khawatirkan itu. Dia tidak akan berprasangka buruk pada kita.”
“Kepada kita? Apa maksudnya?”
“Ayolah masuk! Kau akan tahu yang sebenarnya nanti.”
Dengan sedikit terpaksa, Karima mengikuti langkah Youssef dengan berat. Youssef membuka pintu rumah yang tidak terkunci itu pelan-pelan m
Karima terpana melihat beberapa benda yang ada di sana,termasuk ukiran-ukiran khas Berber yang juga pernah dibelinya saat perayaan Yannayer, tempo lalu.
Sementara Youssef masih mencari-cari seseorang, tapi belum diketemukannya. Hingga di halaman belakang, dia melihat seorang wanita sedang duduk sambil membaca buku. Youssef mendekatinya.
“Salam, Ibu,” ucapnya singkat.
Wanita itu menoleh dan tersenyum,”Salam, Nak.” Dia berdiri lalu memeluk Youssef.”Aku merindukanmu.”
“Aku juga, Ibu.”
Wanita itu melihat Karima yang muncul di ambang pintu, membuatnya penasaran. Kini Karima tahu maksud ucapan Youssef.
“Siapa gadis cantik itu, Nak?”
Youssef menoleh padanya. “Temanku, Bu.”
“Teman?”
“Iya, dia temanku.”
Raut muka wanita itu berubah mendengar ucapan Youssef.”Jangan pernah pergi membawa wanita, kau mengerti?”
“Maafkan aku, Bu. Jujur aku mencintainya, tapi entahlah dengannya. Aku membawanya pergi dari orang tuanya.”
Wanita itu sangat terkejut. Lamyya adalah ibu Youssef yang sangat disayanginya. Dia tidak mengira putranya akan berbuat seperti itu. Ada bias kemarahan pada wajahnya.
“Kau sungguh keterlaluan, Youssef!”
Youssef hanya bisa menundukkan pandangannya.
Saat itulah, mata Lamyya beradu pandang dengan mata Karima. Gadis itu kemudian mendekati mereka.
“Salam, Bibi. Aku Karima.”
“Salam, Karima. Aku ibu Youssef, Lamyya.”
Lamyya mempersilakan Karima duduk. Dia menyuguhkan makanan kecil beserta minuman untuk mereka bertiga. Lamyya ingin mengetahui lebih jauh tentang gadis cantik yang murah senyum itu dengan pipinya yang putih merona kemerahan. Sementara Youssef pergi keluar. Tak lama dia membawa beberapa barang yang diambilnya dari bagasi mobil.
“Apakah kalian sudah lama berteman?” selidik Lamyya.
Dengan sedikit gugup Karima menjawab,”Iya, Bibi.” Setenang mungkin dia menjawabnya, agar Lamyya tidak menaruh curiga.
“Apakah putraku memperlakukanmu dengan baik? Ataukah dia selalu berbuat tidak baik denganmu?” pancing wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Karima menggeleng.”Tidak, Bibi. Dia pemuda yang baik dan memperlakukanku dengan baik, Bibi jangan khawatir.” Senyum Karima adalah senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Lamyya bisa merasakan itu, meski sebenarnya Karima sekadar membuat Youssef merasa bernilai tambah di mata ibunya.
“Karima, tolong jawab dengan jujur. Apakah putraku melarikanmu dari orang tuamu?” tanya Lamyya seraya mendekat kepada Karima dengan nada lirih agar Youssef tidak mendengarkannya.
Meski Karima terkejut dengan ucapan Lamyya, tetapi dia berusaha mengatur hatinya. Bagaimana pun juga dia harus membuat Lamyya berpikiran baik tentang putranya, Youssef.
Youssef yang sedang melintas mendengar percakapan mereka meski lirih Dia tidak menyangka jika Karima akan berkata ‘bohong’.
“Aku yang ingin ikut dengannya kemari, Bibi jangan khawatir. Dia tidak akan berani melakukan hal itu, bukan?” Karima menguasai hatinya yang kini entah mengapa ingin menyembunyikan suatu kebenaran.
“Apakah kau berkata jujur?” Lamyya masih terus menyelidiki.
“Ya, tentu saja, Bibi. Youssef tidak akan berani berbuat itu padaku atau kepada gadis lain. “
Lamyya tersenyum. Dia bisa merasakan kejujuran Karima yang ditutupi kebohongan.
“Ayo,kita berbicara di taman belakang sambil menikmati udara segar, ” ajak Lamyya.
“Baik, Bibi.”
Keduanya berbicara sambil berjalan- jalan mengitari taman itu. Aneka bunga cantik terhampar meghiasi taman kecil yang kini membuai pandangan Karima.
Wanita itu mulai berkisah,”Youssef adalah putraku satu-satunya. Aku sangat menyayanginya, meski… selama ini aku hanya hidup berdua dengannya. Seseorang di masa lalu tidak mau bertanggungjawab atas hidupku dan Youssef, hingga aku meninggalkan tanah kelahiranku, Tunisia, hanya untuk mencari pria itu. Mencari satu kebenaran dan keadilan atas apa yang diperbuatnya padaku, tetapi Lamyya terdiam sejenak, merasakan matanya yang kini mulai memanas, wajahnya pias membuat Karima iba. Dia teringat almarhum ibunya. Diraihnya tangan wanita itu, “Ceritakanlah padaku, Bibi.”
“… dia meninggalkanku, kembali ke Zaragoza dan menikah dengan wanita lain. Sedangkan aku, hidup terlunta-lunta di jalanan dalam keadaan hamil tua. Hingga ada suami istri yang menemukanku di jalanan. Mereka tidak mempunyai anak, lalu dipungutlah aku menjadi anak angkat mereka. Aku melahirkan putraku tanpa seorang pendamping, aku sadar itu semua karena aku dibutakan cinta yang menjerumuskan.”
Karima menggenggam tangan Lamyya kuat-kuat. Tak pernah terbayangkan jika memang Youssef adalah anak yang tidak pernah diakui dan tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.
“Aku selalu berpesan pada putraku jangan pernah menyakiti wanita, ataupun membuat hati wanita terluka.” Lamyya memandang wajah Karima dengan lekat dia melanjutkan,” Terima kasih kau telah menjadi temannya, semoga sakitnya selama ini terobati.”
***
“Pak, saya menemukan jejak Youssef, Pak.” Ezio, salah seorang anak buah Yazid memberitahunya di markas mereka.
“Apakah kau yakin, Zio?”
“Saya sangat yakin, Pak? Dari hasil penyelidikan beberapa waktu lalu bersama teman-teman yang saya sebar, Pak.”
“Di mana mereka berada?”
“Sebuah apartemen di daerah pinggiran.”
“Baiklah. Kita akan segera bergerak ke sana agar Karima secepatnya bisa ditemukan.”
***
Hari menjelang siang, Lamyya mempersiapkan makan siang untuk mereka bertiga. Suasana kekeluargaan tampak terlihat di wajah mereka bertiga Sesekali Lamyya mencuri pandang ke arah Youssef dan Karima bergantian. Merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
“Setelah ini beristirahatlah kalian. Kebetulan aku sudah membersihkan kamar di lantai atas. Jadi kalian bisa beristirahat di sana.”
“Aku tidur di kamar lamaku saja, Ibu. Biarlah Karima di atas bersama ibu. Aku lebih nyaman di sini.”
“Baiklah. Sekarang aku ingin membereskan semua ini.”
***
Lamyya menunjukan Karima kamar di lantai atas. Kamar itu terasa hangat dengan lantai kayu yang di desain begitu indah. Karima memandang sekeliling rumah itu dari jendela kamar. Di ujung jalan belakang, dia melihat ada jalan setapak menuju ke suatu tempat. Karima turun,lalu berjalan ke arah pagar belakang berjalan-jalan di sekeliling rumah itu. Ternyata, selain luas dan asri, ada beberapa tempat yang membuatnya tertarik. Apalagi ketika dia tahu ada sungai kecil berair jernih yang terletak di belakang kediaman Lamyya. Ada bangku panjang di sana. Dia duduk dan memandang riak-riak air kecil yang mengalir.
Sungguh tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. Gumam hati Karima.
Di dalam rumah,Lamyya mengungkapkan kekesalannya kepada Youssef.
“Aku kecewa padamu, Nak. Sangat kecewa. Aku tahu gadis itu sudah berbohong di depanku karena dia tidak ingin melihat keburukanmu di mataku. Ibu minta, kembalikan dia pada orang tuanya, cepat atau lambat! Dan bersikaplah sebagai pria sejati.”
Youssef terdiam,pikirannya mencerna setiap perkataan ibunya. Ada baiknya; iya. Tetapi di sisi lain dia tidak ingin kehilangan Karima. Rasa cinta dan rasa nyaman yang didapatkannya selama bersama Karima, membuatnya kini menjadi seseorang yang ingin berubah. Dari rasa sakit hati menjadi rasa syukur.
“Apa pun nanti resikonya, kau harus menjalani dan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu.”
“Sekalipun aku harus masuk ke dalam penjara, Ibu?”
“Ya, tentu saja! Untuk menebus semua kesalahanmu. Tentunya pihak berwajib tidak tinggal diam dengan semua ini. Mereka pasti terus mencari keberadaan kalian berdua.”
Youssef menunduk, hatinya berkata; tidak rela jika harus berpisah dengan Karima.Tidak tahu apa yang ada dalam benaknya jika dia tidak bisa memilikinya.
Ibunya memang wanita terbaik yang pernah dimilikinya. Wanita tangguh yang selalu tegar menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Wanita yang selalu setia pada satu pria meski hidupnya penuh dengan derita. Dan kini, setelah beberapa tahun berlalu, pertemuan mereka terjadi karena garis takdir.
***
Karima masih terus menikmati pemandangan di sana. Langkahnya semakin jauh menuju arah lembah. Di sana, ada danau yang begitu membuatnya takjub. Tak pernah menyangka, jika di tempat seperti ini, ada keindahan tersembunyi yang selama ini jarang dijumpainya.
Beberapa orang bersama anak-anak mereka tampak menikmati keindahan danau itu. Mereka terlihat sangat bahagia. Kembali bayangan ibunya menyapa Karima bersama kenangan-kenangannya saat di Ifrane dulu, pertama kali dia bertemu Yazid saat masih kecil.
“Kau suka tempat ini?”
Suara itu mengejutkannya. Youssef telah berdiri di belakangnya. Tubuh pemuda itu bersandar pada sebatang pohon yang daunnya cukup rindang.
Karima menoleh,”Ah, iya. Tempat ini sangat indah. Tak kusangka jika kau memiliki tempat nyaman untuk melepaskan kepenatan.”
“Ini adalah tempat di mana ibuku mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.”
Percakapan mereka berlanjut hingga menjelang sore. Hujan menyapa dengan deras. Youssef mengajak Karima segera kembali ke rumah.










