Home / Fiksi / Drama / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 19

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 19

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 20 of 28 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Setelah Efendi Kusuma pulang, Hermansyah juga mengajak keluarganya untuk pulang.

“Ayo kita juga pulang,” ajak Herman kepada istri dan anak-anaknya.

Herman melangkah lebih dulu dan diikuti istri dan anak-anaknya. Bodyguardnya mengikuti di kiri dan kanan Herman.

Sesampainya mereka di lobi restoran, sopirnya segera membukakan pintu mobil.

Tapi Herman tidak langsung masuk. Lelaki yang masih terlihat gagah dan berwibawa itu mempersilakan istri dan anaknya untuk masuk terlebih dahulu.

“Jalan, Yup!” Herman memerintahkan agar sopirnya yang dipanggil Ayup itu segera menjalankan kendaraan.

Sepanjang jalan, Tiara memperhatikan jalan yang ia lewati. Gadis tomboi itu heran melihat jalanan yang bukan ke arah rumahnya.

Dia sangat hafal seluk beluk jalan raya, karena ia sering keliling kota dengan motor bersama temannya. Rasa herannya mendorong ia untuk bertanya.

“Akan ke mana kita, Yah?”

“Tentunya ke rumah kita, Nak.”

“Tapi, ini bukan jalan ke rumah kita, Ayah.”

Tiara berpikir, mungkin ingatan ayahnya hilang lagi, wajarlah jika orang yang kehilangan ingatan selama sepuluh tahun, tidak sesempurna ingatan orang yang tidak pernah hilang ingatan.

Jika ingatan ayah yang hilang timbul itu wajar, tapi yang bawa mobil kan sopir ayah. Apa ia lupa arah pulang ke rumah? batin Tiara.

Tiara berinisiatif untuk menegur sopir ayahnya.

“Mamang. Sepertinya kita salah jalan, deh,” ucap Tiara kepada sopir yang sedang fokus menatap jalan.

“Nggak, Non. Ini sudah jalan yang betul. Tuan sendiri yang mengarahkan saya tadi, Non.”

“Tapi, ini salah, Mang. Ini bukan jalannya!”

“Ini betul, Non.”

“Nggak, Mang. Ini tuh bukan jalannya, saya hafal jalan Jakarta ini, Mang. Jadi gak usah ngeyel, Mang. Belok saja ke kiri, Mang.”

Herman yang mendengar percakapan antara anaknya dan sopirnya itu hanya tersenyum sambil menunduk.

Buk Iyes menengahi pembicaraan anaknya dengan sopir itu.

“Sudahlah, Tiara. Kita mending ikuti saja ke mana sopir membawa kita. Toh, kalau memang salah jalan, kita tinggal belok lagi, kan? Yang capek juga bukannya kamu, tinggal duduk saja apa susahnya, sih?”

Tiara bersungut mendengar kata-kata ibunya yang tidak membela dia.

“Ternyata, ada juga yang bisa mengimbangi Tiara ya, Bu?” ucap Silvia sambil terkekeh menoleh ke arah Bu Iyes.

“Hooh,” jawab Bu Iyes juga terkekeh.

Tiara memanyunkan mulutnya seperti anak kecil.

Mobil itu terus melaju menyusuri jalan yang sudah di arahkan oleh Herman sebelum mereka berangkat ke restoran tadi.

Herman ingin memberikan kejutan kepada istri dan anaknya. Dia meminta sopirnya untuk tidak memberitahu tujuan mereka.

”Siap, Bos. Perintah siap di jalankan.” Itulah kalimat yang diucap sopirnya waktu Bosnya meminta ia untuk bekerja sama memuluskan kejutan yang akan diberikan untuk keluarga bosnya.

Mobil memasuki area perumahan elite. Hingga sampailah mereka di depan sebuah bangunan yang mirip istana. Bangunannya sangat megah. Di halaman depan ada taman yang luas.

Beberapa orang pelayan berbaris menyambut kedatangan mereka.

“Rumah siapa ini, Pak?”

Seumur hidup Bu Iyes belum pernah menginjakkan kaki ke rumah sebesar itu. Untung saja sebelum berangkat ke restoran tadi suaminya mengajaknya dan anak-anaknya singgah ke butik untuk mengganti semua pakaian dan ke salon. Jika tidak, mereka benar-benar minder bertamu ke rumah orang kaya dengan pakaian sederhana.

“ Sudah, masuk saja dulu,” ucap Herman memimpin jalan mereka melewati para pelayan yang membungkukkan setengah badan mereka.

“ Selamat datang, Tuan.”

“Selamat datang, Nyonya.”

“Selamat datang, Nona Tiara.”

“Selamat datang, Nona Silvia.” Para pelayan itu menyapa mereka dengan ramah sebelum mereka memasuki rumah.

“Terima kasih,” ucap Silvia, Tiara, dan Bu Iyes dengan senyum kaku. Bu Iyes berlari kecil mengejar langkah suaminya.

“Pak. Kenapa mereka mengenal kami?”

Bu Iyes merasa aneh disapa dengan sebutan nyonya oleh para pelayan rumah itu. Yang membuat ia semakin heran adalah saat mereka menyebut nama anak-anaknya.

Herman menghentikan langkahnya dan menatap Bu Iyes. Ia merasa kejutan yang ia rencanakan berjalan sukses, karena berhasil membuat istri dan anak-anaknya kebingungan setengah mati. Ia tersenyum bahagia melihat ekspresi mereka.

“Itu karena kalian adalah majikan mereka. Sini Bapak kenalkan satu persatu dengan mereka.”

Pak Herman memanggil satu persatu pelayannya.

“Bi Sum.”

Seorang perempuan paruh baya berbadan gemuk datang menghampiri.

“Saya, Tuan.”

“Bi Ijah.” Seorang perempuan yang seumuran dengan orang yang dipanggil Bi Sum, tapi berbadan kurus datang.

“Saya, Tuan.”

“Bi Loly.”

“Saya, Tuan.”

“Mereka bertiga ini yang akan membantu Ibu, Silvia dan Tiara nanti di rumah.”

Bu Iyes, Silvia, dan Tiara benar-benar terkejut mendengar penjelasan singkat dari orang yang telah lama menghilang itu.

Bu Iyes sampai menutup mulutnya yang mangap, karena merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya. Baginya ini seperti sebuah mimpi.

Tapi jika memang ini mimpi, ia tidak ingin terbangun dari mimpi ini.

“Kamu jangan bercanda, Pak! Atau Ibu sedang bermimpi?” tanya Bu Iyes.

Herman memegang bahu istrinya.

“Bu, aku tidak bercanda. Ini adalah rumah kita. Dan ini juga bukanlah mimpi. Mulai hari ini, kita semua akan tinggal di sini. Ayo kita masuk, Bu,” ucap Pak Herman meyakinkan istrinya.

“Coba Bapak cubit tangan Ibu.”

Herman tertawa kecil mendengar kata-kata istrinya. Untuk meyakinkannya, Pak Herman mencubit hidung istrinya.

“Jadi ini nyata ya, Pak. Bukan mimpi.”

Bu Iyes sangat bahagia, sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua ini baginya terasa bagaikan mimpi.

Pak Herman menuntun tangan istrinya dan Silvia untuk memasuki pintu yang besar bercat putih itu. Tiara mengekor dari belakang.

Rasa takjubnya tidak habis sampai di situ. Saat memasuki ruangan yang megah dan luas. Silvia, Ibu dan adiknya kembali takjub. Di pandangnya semua perabot yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi. Sebuah televisi besar juga ada di ruang keluarga yang luas itu. Di depannya terdapat sofa yang empuk.

Tiara membayangkan perbandingan dengan rumah lamanya jika diletakkan di tengah ruangan ini.

Mungkin akan terlihat sangat kecil, gumamnya dalam hati.

“Apa benar ini rumah kita, Yah?” tanya Tiara yang masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya.

“Tentu, Nak. Ini benar-benar rumah kita.”

Herman sangat paham jika anaknya belum bisa percaya dengan kenyataan yang berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu yang singkat. Untuk itu, ia kembali meyakinkan anak-anaknya.

“Ini adalah rumah kita, rumah keluarga Hermansyah.”

Tiara tidak bisa menahan kebahagiaannya. Dia berlari ke sana kemari dan meloncat ke sembarang tempat.

“Wah, aku senang sekali. Yuhuu.. Boleh tidak, Yah, aku mengajak teman-temanku ke rumah ini?”

“Tentu saja, kamu boleh mengajak siapa pun untuk datang ke rumah ini. Karena ini kan rumahmu juga.”

“Terima kasih ya, Ayah.”

“Sama-sama, Sayang.”

“Sudah takjubnya. Silvia, Tiara, sekarang silakan kalian pilih kamar mana yang kalian sukai, kalian boleh istirahat,” ucap Pak Herman.

“Iya, Yah. Kami ke atas dulu ya, Yah, Bu.”

“Iya, Sayang. Hati-hati jalannya. Nanti kalau butuh sesuatu kalian bisa minta tolong sama Bi Sum atau bibi yang lain.”

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 18 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 20

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image