Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 22

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 22

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 23 of 46 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Begitu Silvia sampai di butik milik Boby, dia langsung masuk dan menyapa semua karyawan yang lain.

“Bos sudah datang belum, Ri?” tanya Silvia kesalah satu karyawan bernama Riri.

“Sudah, Bu. Bos sudah di dalam,” jawab Riri.

“Aku ke dalam dulu, ya.”

“Iya, Bu,” ucap karyawan itu dengan sopan.

Silvia berlalu meninggalkan Riri.

Karyawan itu kembali melanjutkan aktivitas rutinnya.

Setiap pagi memang semua karyawan diwajibkan piket secara bergantian. Kebetulan hari itu adalah jadwal piket karyawan yang bernama Riri itu bersama satu orang lainnya.

Tidak lama, Silvia pun sampai di sebuah ruangan. Dia melihat dari kaca kecil yang ada di pintunya kalau memang sahabatnya itu sudah duduk di meja kerjanya.

Silvia mengetuk pintu kantor sahabatnya itu sebelum masuk.

“Masuk, Sil,” terdengar suara sahutan dari dalam ruangan.

Silvia membuka pintu itu dan masuk ke ruangan Boby. Boby menatap Silvia dengan tatapan yang iba.

Silvia yang ditatap seperti itu merasa risi. Dia duduk di kursi depan meja sahabatnya itu.

“Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah ngasih tatapan penasaran. Omong-omong, sorry, Ya. Gue datangnya agak telat. Soalnya gue tadi ketiduran.”

“Iya. Gak apa-apa. Itu bukan masalah. Tenang aja. Ngomong-ngomong selamat ya, Sil. Atas kembalinya ayah lu yang sudah pulang setelah sepuluh tahun ini.”

Saat mengucapkan itu Boby terlihat sangat bahagia. Dan itu tidak di buat-buat sama sekali. Itu murni kebahagiaan seorang sahabat yang bahagia melihat sahabatnya bahagia. Baginya kebahagiaan Silvia adalah kebahagiaannya juga. Kesedihan Silvia adalah kesedihannya juga.

“Terima kasih, Beb. Alhamdulillah, Beb. Gue senang banget,” ucapnya histeris. Dia memeluk sahabatnya itu yang sudah berlari kecil ke arah tempat duduknya.

“Gimana ceritanya, sih. Kok bisa, ayah lu yang sudah hilang sepuluh tahun, yang kata lu mungkin sudah meninggal, bisa hidup lagi?” Boby berpindah ke sofa yang khusus untuk bersantainya. Silvia mengikutinya ke sofa itu.

Dia menjelaskan kronologi tentang hilangnya ayahnya kepada sahabatnya.

“Jadi sebenarnya ayah gue itu mengalami kecelakaan, Beb. Setelah kecelakaan itu, beliau kehilangan ingatan. Ingatan beliau baru pulih beberapa bulan yang lalu. Jadi, dari beberapa bulan itu beliau tu sudah memantau gue, Ibu dan Tiara dari jauh. Bahkan beliau sudah tahu semua tentang masalah rumah tangga gue, Beb.”

Bicara tentang rumah tangganya, Silvia kembali terlihat murung. Meskipun dulu dia menikah tanpa didasari cinta tapi cinta itu telah tumbuh selama mereka berumah tangga.

Tapi kini cinta itu sudah berubah menjadi kebencian. Kebencian yang berubah menjadi dendam.

Seberapa kuat pun dia berusaha menyembunyikan luka hatinya, sekuat itu pula kesedihan menjalar di hatinya. Kehadiran orang ketiga benar-benar membuatnya terluka dalam. Dan yang sangat membuatnya sakit hati adalah perlakuan mertuanya yang dulu menganggapnya hanya sebagai benalu dan babu saja.

“Weleh, weleh, weleh. Ternyata ayah lu sudah tahu perihal rumah tangga lu? Lalu bagaimana tanggapan beliau?” Wajah penasaran terlihat jelas di muka Boby.

“Kata ayah gue sih, terserah gue. Tapi…”

Kali ini Boby benar-benar penasaran. Dia menurunkan kakinya yang tadi disilang di atas kaki yang satunya. Dia juga sedikit mendongakkan wajahnya ke arah Silvia.

“ Tapi apa, nih? Gue penasaran.”

“Penasaran banget, ya?” Silvia malah menggoda Boby yang sudah benar-benar penasaran.

“Gak juga,” Boby juga balik menggoda Silvia karena dia sadar kalau dia sedang dipermainkan sahabatnya itu.

Setelah tertawa kecil, Silvia kembali melanjutkan kata-katanya yang terputus tadi.

“ Jadi gini, Beb.”

“Gimana?”

“Gue dijodohkan sama anak dari orang yang sudah menyelamatkan ayah gue.”

“Lu terima, gak?”

“Ya, gue terima.”

“Lu main terima saja, ya. Emang lu udah kenal belum sama tuh orang? Gimana kalo kelakuan tuh orang lebih parah dari si Pazel mantan suami lu.”

“Gak mungkinlah, Beb. Kalau dia itu playboy pasti ceweknya banyak, kan? Gak mungkin dia mau dijodohkan. Dia pasti akan menolak. Yang pasti bukan dari aku penolakannya, sebab Om Efendi itu baik banget orangnya, Beb. Gue gak tega buat nolak. Apalagi beliau juga sudah kayak malaikat penyelamat hidup ayah gue.”

“Baiklah, Sil. Kalau lu sudah berani mengambil keputusan sepenting itu buat hidup lu, berarti lu sudah yakin itu yang terbaik buat lu. Gue cuma bisa kasih doa buat lu, supaya lu selalu bahagia.”

“Makasih ya, Beb. Lu memang sahabat sejati gue.”

Dengan penuh rasa haru Silvia memeluk sahabatnya.

“Ngomong-ngomong, tadi pas gue datang, gue lihat wajah lu kayak sedih gitu. Mang ada apa, sih?”

Boby menarik napasnya dan menunduk lalu dia menatap Silvia dengan tatapan yang lemah sebelum bicara.

Silvia mengerutkan keningnya.

“Memang masalah apa, sih? Kok serius banget? Gue jadi deg-degan, nih.”

“Tapi lu gak boleh sedih ya, Sil?”

“Emang apaan sih? Jangan bikin gue jantungan, Beb. Ngomong langsung saja.”

“Lu harus janji dulu kalau lu gak bakalan sedih. Kalau gak, gue gak bakal kasih tahu lu.”

“Gimana gue bisa janji gak bakalan sedih? Gue aja belum tahu lu mau ngomong apa.”

“Makanya lu janji dulu gak bakal sedih, baru gue kasih tahu lu.”

“Ok. Gue janji gak bakal sedih. Emang apaan sih? Bikin penasaran saja.”

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 21 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 23

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Antologi KompaK’O

Random image