Beranda / Fiksi / Cerbung / 11. Air Tidak Pernah Berhenti

11. Air Tidak Pernah Berhenti

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 12 of 17 in the series Melukis Jejak

Kyoto melajukan mobil tanpa tujuan, ia hanya mengikuti kemana roda berputar. Sejak meninggalkan Situs Gudig, perjalanan itu seperti melambat dengan sendirinya, seolah waktu ikut memahami apa yang sedang dirasakan Leon. Tak ada lagi percakapan ringan, tak ada gurauan kecil seperti biasanya. Hanya suara mesin mobil yang halus, berpadu dengan desir angin yang masuk dari jendela yang sengaja dibuka Leon lebar-lebar.

Udara pegunungan yang dingin menyentuh wajahnya. Leon memejamkan mata sejenak, membiarkan semua itu mengalir tanpa ia tahan, oksigen yang mengisi rongga paru-paru membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Sepanjang jalan, hamparan sawah membentang seperti lukisan hidup. Hijau yang tak terputus, bergoyang pelan ditiup angin. Sesekali terlihat petani berjalan di pematang, langkah mereka tenang, seolah dunia tak pernah berjalan tergesa seperti yang selama ini Leon rasakan.

Kyoto tetap fokus mengemudi, tapi matanya sesekali melirik ke samping. Leon bersandar pada kursi masih dengan tatapan kosong, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, wajahnya tampak lelah, bukan fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Dari kaca spion Kyoto melirik Nadia yang duduk diam di belakang, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, apa saja, bahkan hal kecil sekalipun. Tapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, ia menahannya kembali. Menurutnya diam adalah bentuk perhatian terbaik saat ini.

Mobil terus melaju, meninggalkan jalanan desa yang terbuka menuju jalur yang lebih sempit. Di kejauhan, perbukitan mulai terlihat, berlapis-lapis seperti gelombang yang membeku. Kabut tipis yang menggantung di antara perbukitan, memberi kesan tenang sekaligus misterius.

Leon membuka mata perlahan. Pandangannya lurus ke depan, tapi sebenarnya jauh melampaui apa yang bisa dilihat. Ada sesuatu yang sedang ia kejar di dalam dirinya sendiri, sebuah jawaban mungkin … atau sekadar cara untuk menerima.

“Kyoto .…” Suara Leon akhirnya terdengar, pelan, hampir tersapu angin.

Kyoto langsung merespons, “Ya?”

“Kita mau kemana?”

Kyoto tersenyum tipis, meski Leon tak bisa melihatnya. “Tempat yang tidak banyak orang tahu. Tempat yang tenang … hanya ada alam, angin, dan suara air.”

Leon tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum sepenuhnya, tapi cukup untuk memberi tanda bahwa ia tidak menolak.

Beberapa menit kemudian, mobil mulai memasuki jalan berbatu. Pepohonan di kanan kiri semakin rapat, cahaya matahari menembus di sela-sela daun, menciptakan bayangan yang bergerak di atas kap mobil. Suasana berubah lebih sunyi, hanya suara binatang liar yang menyambut mereka

Ketika akhirnya Kyoto menghentikan mobil, tidak ada suara lain selain gemericik air yang samar terdengar dari kejauhan.

“Sudah sampai,” katanya pelan.

Leon turun lebih dulu. Kakinya menyentuh tanah yang becek, sedikit lembab. Ia menarik napas panjang, kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Suara air itu kini terdengar lebih jelas, sebuah aliran kecil, mungkin sungai atau air terjun yang tidak terlalu besar.

Tanpa banyak bicara, ia berjalan mengikuti arah suara itu. Nadia dan Kyoto saling berpandangan sejenak, lalu mengikuti di belakangnya mengikuti jalur trekking menyusuri  lingkungan hutan menuju lokasi di kawasan pegunungan yang sejuk di lereng Merapi.

‘Air terjun …?” tanya Nadia berbinar saat mendapati sebuah air terjun alami yang jatuh dari ketinggian.

“Air terjun Tlogo Muncar, saat ini kita berada di Kaliurang,”  jawab Kyoto sambil mendekati pancuran raksasa tersebut. Suasana hutan yang masih asri serta udara yang segar khas daerah pegunungan membuat Leon berulang menghidu udara dalam-dalam.

Nadia berdecak kagum, tempat ini tersembunyi dari keramaian. Keindahan alamnya menjadikannya tempat ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan sekaligus melepas penat dari aktivitas sehari-hari. Air terjun yang terletak di lereng Gunung Merapi pada ketinggian sekitar 878 meter di atas permukaan laut ini, sumber airnya berasal dari Bukit Plawangan.

Leon berdiri cukup lama di tepi aliran air terjun, membiarkan gemuruh air memenuhi ruang kosong di dalam dadanya. Percikan air yang terbawa angin menyentuh wajahnya, dingin tapi menenangkan, seolah alam sedang berbicara dalam bahasa yang tak perlu diterjemahkan.

Ia menarik napas panjang, pelahan ia merasakan sesuatu yang menyesak mulai  tergusur, pikirannya lagi tidak dipenuhi oleh bayangan yang berulang-ulang. Tidak ada suara yang mengganggu. Tidak ada rasa sesak yang menekan. Hanya ada suara air dan dirinya sendiri.

Leon memejamkan mata, air yang jatuh dari ketinggian itu tak pernah ragu. Ia menghantam batu, terpecah, terlempar, tapi tetap mengalir.

“Air tidak pernah berhenti dan tidak pernah mundur.” Kyoto berujar lirih, ia memangkas jarak pada Leon. Laki-laki berdarah Jerman itu menatap Kyoto, lalu mengangguk pelan.

“Hidup pada akhirnya, memang seperti itu. Tidak selalu mulus. Tidak selalu tenang. Kadang harus berbenturan dengan kerasnya kenyataan, harus melewati bebatuan tajam yang tak bisa dihindari. Tapi seperti halnya air hidup tetap berjalan. dan menemukan jalannya sendiri,” imbuh Kyoto sambil menepuk bahu Leon.

Sekali lagi Leon mengangguk, kali ini terlihat lebih mantap. Ia merasakan sesuatu di dalam dirinya terasa melunak. Beban yang tadi ia genggam erat, seakan luruh sedikit demi sedikit, terbawa arus yang tak terlihat. Bukan berarti masalahnya hilang, bukan pula semuanya selesai. Tapi setidaknya … ia tak lagi merasa harus melawan semuanya sendirian.

Di belakangnya, Nadia memperhatikan dalam diam. Ia bisa melihat perubahan kecil itu dari cara Leon berdiri, dari bahunya yang kini lebih rileks, dari tatapannya yang tak lagi kosong.

Kyoto yang berdiri di sampingnya kini menatap dalam, “Kadang yang kita butuhkan cuma berhenti sebentar… bukan lari lebih jauh,” bisiknya pelan.

Nadia mengangguk lega, ternyata kekhawatirannya tak seberat yang ia pikirkan.

Sementara itu, Leon membuka matanya. Ia menatap aliran air yang terus bergerak tanpa henti, lalu tersenyum kecil, senyum yang sempat menghilang sejak pertemuan dengan Adelheid kemarin malam.

“Mungkin … aku hanya tidak bisa menerima kenyataan, hingga melawan arus,” gumamnya pelan.

Ia lalu melangkah mendekat, melepas sepatunya dan membiarkan kakinya terendam air yang mengalir. Dingin, tapi menyegarkan. Seperti memberi keberanian baru untuk melanjutkan perjalanan.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bertanya, “Kenapa ini terjadi.”

“Ke mana aku harus melangkah setelah ini?” Itu yang ada dalam benaknya saat ini.

Di bawah gemuruh air terjun, Leon akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Ia bukan butuh jawaban, melainkan penerimaan, hidup kadang mengajarkan bahwa sesuatu tak pernah benar-benar menjadi milik.

“Bagaimana?” tanya Kyoto akhirnya.

“Aku berterima kasih pada kalian, tanpa kalian … mungkin aku sudah hancur.”

“Itulah gunanya sahabat,” timpal Nadia sambil menepuk bahu Leon.

“Aku akan mengingatnya, dan satu saat nanti aku akan mengundang kalian ke negaraku,” ujarnya sambil tersenyum, matanya biru itu kembali bersinar, setelah sempat redup.

“Tentu saja aku mau, aku sangat ingin melihat Jerman,” seru Nadia girang disambut tawa yang menggema di antara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian 45 meter tersebut. 

Melukis Jejak

0. Perjalanan Tak Lagi Sama 2. Candi Abang, Menunggu Orang Yang Tepat

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *