Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 23

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 23

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 24 of 46 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Oke. Gue janji gak bakal sedih. Emang apaan, sih? Bikin penasaran saja.”

Setelah menarik napas beberapa kali, sahabatnya itu berdiri dan mengayunkan langkahnya ke arah meja kerjanya yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Dia mengeluarkan sebuah amplop kartu undangan pernikahan dari dalam laci mejanya. Tidak lupa juga surat cerai dengan amplop warna merah.

“Ini, Sil. Pazel dan wanita itu tadi datang ke sini. Katanya lu harus datang ke pernikahan mereka.”

“O, itu, Kirain apaan? Ngapain gue harus sedih? Gue pasti datang. Kapan acaranya, Beb?”

“Katanya minggu depan. Coba saja lihat di kartunya.”

“Malas, ah. Oiya, gue sampai lupa. Besok gue ijin keluar dari butik, ya? Sebab gue disuruh kerja di perusahaan ayah.” Seraya memelas, dia merengkuh bahu sahabatnya.

“Oke, gak masalah. Gue malah senang, sebab lu bakal jadi big boss di sana.”

“Makasih ya, Beb. Selama ini lu dah banyak bantu gue.”

“Itulah gunanya sahabat.”

“Ya sudah. Gue mau lanjut kerja dulu.”

Di lain tempat Pazel sedang berbahagia dengan ibu dan calon istrinya.

“Sudah berapa bulan, Nak?” wanita yang sebentar lagi menjadi nenek itu mengelus perut calon menantunya yang sudah mulai membuncit.

“Sudah jalan empat bulan, Bu.”

“Ibu sudah tidak sabar untuk jadi nenek.”

Pazel hanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan ibunya. Apalagi dia juga sudah lama merindukan tangisan seorang anak.

“Jangan lupa kalian untuk mengundang Silvia, biar dia tahu rasa.”

Rohana begitu bersemangat hingga dia memposisikan duduknya dengan tegap.

“Sudah, Bu. Tadi Pazel sama Rima sendiri yang ngantar undangannya.” Pazel pun begitu semangat sehingga senyumnya begitu semringah. Dia menoleh ke Rima dan kembali menatap ibunya dengan wajah yang ceria.

“Terus bagaimana reaksinya? Pasti syok sekali dia.” Rohana sangat antusias sekali bila menyangkut hal-hal yang akan melukai perasaan Silvia.

“Dia gak ada di sana, Bu. Aku titip saja sama bosnya.”

atanya menunduk, karena takut mengecewakan ibunya.

“Yaah, sayang sekali. Tapi mudah-mudahan saja dia benar-benar datang. Pasti nangis dia lihat kamu bersanding dengan Rima. Ibu sudah gak sabar menunggu hari itu.”

Dia kembali ke posisi awal saat dia duduk sebelum antusiasnya mendengarkan penjelasan Pazel.

“Gimana kalau nanti malam kita makan di luar, Bu?” hibur Pazel, karena dia merasa sedikit mengecewakan hati ibunya.

“Tentu, gak usah restoran yang mahal, sebab kamu kan butuh biaya buat pernikahanmu nanti.” Rohana pun kembali bersemangat.

“Biaya pernikahan sudah lengkap, Bu. Aku sudah kasih biayanya lunas, dan kita tinggal terima bersih. Semua sudah mereka yang mengatur. Jadi ibu tidak perlu memusingkan masalah itu, Bu.”

“Baiklah, Nak. Kalau begitu, Ibu sudah tenang. Ibu bahagia jika kamu bahagia, Nak. Ibu juga sudah gak sabar ingin menimang cucu,”

“ Iya, Bu, ibuku memang baik banget,” ucapnya seraya mencium pipi ibunya dan memeluknya.

***

Selesai mengerjakan semua tugas yang terbengkalai, Silvia dikejutkan dengan bunyi terompet dan taburan warna-warni saat dia keluar dari ruangannya.

Taburan berwarna-warni itu beterbangan di sekitar Silvia. Dia sangat bahagia sekali, sampai-sampai dia menutup mulutnya yang menganga lebar dengan kedua tangannya.

Ucapan selamat dia terima dari Boby dan semua karyawannya. Bahagia campur haru dia menerima ucapan itu. Bahagia sekali rasanya karena dia masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.

“Sil, untuk merayakan hari terakhir lu kerja di sini, kita makan-makan, ya?” Boby menunggu jawaban dari Silvia dengan harap-harap cemas.

“Ok, Beb. Kita semua akan makan di luar malam ini.” Silvia memberikan jawaban yang sangat menyenangkan hati sahabat dan karyawannya.

“Mm, mantap. Lu emang oke punya.”

“Kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang.”

“ Let’s go.”

Boby menuntun Silvia seperti bocah.

Begitu sampai di restoran, mereka langsung menuju satu meja yang ada di pojok. Mereka memesan semua menu yang ada di restoran itu. Mereka asyik bercanda dan tertawa riang.

Silvia tertawa lepas. Tanpa beban, tanpa ada murung. Yang ada hanya canda dan tawa. Setelah dua tahun hidup bagaikan burung di dalam sangkar, sekarang dia bisa tertawa bebas.

Selama ini dia hanya seperti babu yang disebut Upik Abu oleh mertuanya. Sekarang dia menjelma jadi wanita karier yang cantik. Badannya yang dulu kurus kerempeng, kini mulai berisi hingga lekuk tubuhnya terlihat indah untuk dipandang. Ditambah lagi dengan pakaian yang dia pakai merupakan pakaian bermerek dan berkualitas tinggi.

Dari mana dia mendapatkan semua itu? Apa kekasihnya yang membelikannya.

Selama menikah dengan Pazel, dia tidak pernah mendapatkan pakaian baru. Apalagi peralatan untuk merias diri.

Setiap hari yang dilakukannya hanya berkutat di dapur dan merawat mertuanya yang sering sakit. Terkadang walau tidak sakit pun mertuanya tetaplah menjadi seorang pemalas dan suka memerintah.

Semua pekerjaan dikerjakan oleh Silvia. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, selalu saja ada pekerjaan yang menanti. Pembantu tidak ada yang bisa bertahan lama bekerja di rumahnya. Setiap hari dia hanya memakai baju kucel dan bedak seadanya saja.

Hari ini dia menjelma menjadi wanita yang sangat cantik dan istimewa di antara yang lain.

Riasan wajahnya yang sangat cantik dan simpel menambah Kilauan kecantikannya. Silvia benar-benar terlihat paling cantik di antara gadis lainnya di tempat itu.

Itulah penilaian dari seorang Pazel dan keluarganya yang duduk di meja lain restoran itu. Mereka menatap Silvia dengan pikiran dan pandangan yang berbeda. Tapi ada satu kesamaan pikiran mereka yaitu memuji kecantikan Silvia. Ada sebuah rasa penyesalan di relung hatinya yang terdalam. Dia berharap untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Silvia suatu saat nanti.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 22 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 24

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Antologi KompaK’O

Random image