Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 24

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 24

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 25 of 59 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Pazel berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan Silvia suatu saat nanti. Yang jelas sekarang dia harus bertanggung jawab atas janin dalam kandungan selingkuhannya. Setelah itu baru dia pikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bersatu lagi dengan Silvia.

“Takkan aku biarkan yang sudah ditakdirkan menjadi milikku dimiliki orang lain.” Pandangan matanya begitu tajam dan sebelah matanya agak disipitkan.

“Ke mana pun kamu pergi, kita akan tetap bertemu karena takdirmu adalah aku. Hmm, akan kupastikan untuk memilikimu lagi, cintaku!” senyum miring terukir di wajahnya.

“Salah kamu juga sih! Kenapa kamu berubah jadi wanita sempurna seperti ini? Aku benar-benar tidak tahan ingin memilikimu lagi.”

Bayangan mesum terlintas di benaknya.

Dia membayangkan saat-saat dia akan bersama Silvia dalam sebuah kamar. Dia mencumbu Silvia, mulai dari membelai rambutnya, mencium keningnya, turun ke bibir mungilnya, leher, lanjut ke belahan dadanya dan melucuti seluruh pakaiannya.

Lamunannya tersentak ketika dia melihat Silvia berdiri. Rencana kotor pun terbersit di pikirannya.

“Sepertinya dia akan pergi ke toilet, sabar ya? Kita akan menemui pujaanmu.” Dibelainya bagian bawah perutnya dengan sebuah senyuman yang licik.

“Bang! Kenapa sih? Kok senyum-senyum sendiri? Diajak ngobrol malah senyum-senyum sendiri.” Rima mencubit lengannya. Dari tadi dia bicara dengan Pazel, tapi Pazel seperti orang linglung yang hanya senyum sendiri dengan berbagai macam ekspresi.

“Ah, apaan sih kamu? Aku mau ke toilet dulu.” Dia pun beranjak meninggalkan ibu dan selingkuhannya. Tangan Rima yang mencubitnya lembut ditepis dengan kasar.

Silvia tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengintainya. Dia hanya ingin segera ke toilet tanpa mempedulikan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya dari meja lain.

“Beb, aku mau ke kamar kecil dulu sebentar. Jangan bayar dulu, ya? Aku gak lama,” selorohnya lalu berdiri dan hendak berjalan ke arah toilet.

“Siapa juga yang mau bayar? Sekarang kan ada bos baru, jadi kita makan gratis, awas nanti kalau kabur lewat toilet, ya? Gua pecat lu jadi sahabat.”Semua karyawannya tertawa mendengar seloroh mereka.

Dia berjalan dengan santai sehingga dia tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengawasinya dari tadi. Saat Silvia beranjak dari duduknya, Pazel pun bergegas mengikuti langkah Silvia.

Saat mau memasuki toilet wanita. Tangannya di cekal seseorang. Matanya terbelalak saat tahu siapa yang mencekalnya.

Seseorang yang sangat dia benci. Lelaki pengecut yang telah menghancurkan hatinya. Lelaki kurang ajar yang telah menumbuhkan rasa benci di hatinya. elaki yang pernah sangat dia cintai dan sekarang sangat dia benci. Lelaki yang pernah mewarnai hidupnya namun sekarang menjadi masa lalunya yang sudah menodai hatinya dengan tinta kebencian berwarna hitam.

Tidak ada lagi yang tersisa untuk laki-laki itu selain kebencian. Dan sekarang dia berada dengan jarak yang dekat. Sangat dekat. Hingga perutnya terasa ingin mengeluarkan isinya. Sebegitu jijiknya dia dengan seorang penghianat cinta.

“Kamu? Lepaskan. Apa yang kamu lakukan? Lepaskan atau saya akan teriak.” Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari mantan suaminya. Tapi apalah daya, dia hanya seorang wanita.

Lelaki itu semakin mencengkeram tangan Silvia dengan kuat. Tak sedikit pun dia memberikan kelonggaran untuk Silvia.

Dia mendorong Silvia hingga bersandar di dinding. Wajahnya yang begitu dekat jaraknya membuat Silvia ingin muntah. Dia benar-benar merasa jijik berada terlalu dekat dengan orang yang sudah menghianatinya dengan perempuan lain. Apalagi sekarang statusnya sudah bukan suaminya lagi.

Perlahan tapi pasti Pazel mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Silvia berpaling, tapi rahangnya dipegang dengan erat. Sesaat kemudian dia melepaskan Silvia seiring dengan pekikan tertahan.

“Aw!” dia meringis kesakitan sambil merukuk memegang harta pusakanya yang di tendang oleh Silvia.

“Dasar wanita sialan. Sok jual mahal! Padahal butuh!” cercanya sambil meringis kesakitan.

“Dasar laki-laki biadab kamu, Bang! Tega sekali kamu melecehkanku di depan umum! Cuih. Aku benar-benar jijik kepadamu. Kamu pikir saya perempuan apaan, Bang! Brengsek kamu! Kamu pantas mendapatkannya. Bahkan kamu pantas untuk mendapatkan yang lebih buruk dari itu!” balas Silvia sambil meludah di depan mukanya.

“Tidak, tidak, Sayang. Aku tidak bermaksud buruk padamu. A-aku hanya merindukanmu. Itu saja, tidak lebih! Aku mohon percayalah. Aku merindukanmu. Tolong jangan pergi, Sayang.”

Rasa sakit yang dia rasakan di area bawah perutnya membuat Pazel tidak bisa berdiri dengan lurus.

Dia merukuk memegangi benda pusakanya yang rasanya seperti mau copot.

“Benar-benar kurang ajar Silvia. Beraninya dia menendangku!” dia meringis.

Silvi ingin sekali menendangnya lagi, tapi dia tidak mau bersentuhan lagi dengan orang itu. Baginya Pazel sudah menjadi orang lain. Jangankan untuk berpelukan dan melakukan hal lain bersama, melihatnya saja dia sudah mau muntah.

Secepat kilat dia pun berlari ke dalam toilet dan menutup pintunya. Badannya bergetar hebat menahan rasa takut.

“Tidak! Aku tidak boleh lemah! Aku tidak boleh takut dengan laki-laki bajingan seperti dia. Akan aku pastikan kamu menyesal telah melakukan hal buruk ini terhadapku, Bang!”

Dia pun membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Dia tidak ingin sahabatnya melihatnya dengan keadaan seperti itu. Karena jika Boby melihatnya berantakan dia pasti akan bertanya panjang lebar. Dan ujung-ujungnya akan jadi masalah panjang.

Silvia ingin balas dendam dengan cantik, tanpa ada keributan.

Dia pun mengatur pernapasannya agar segera stabil, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 23 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 25

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Antologi KompaK’O

Random image