Hizir Reis bersama Hamza sudah sampai di Pulau Lesbos. Ia langsung mendatangi Şahin Kılıçoğlu yang berada di rumah Oruç Reis.
“Şahin Bey, bagaimana kabar kakakku?” Tanya Hizir.
“Kami menemukan tiga jenazah. Dua jenazah perempuan dan satu jenazah laki-laki.” Jawab Şahin.
“Dimana jenazah itu?” Tanya Hizir lagi dengan perasaan khawatir.
Şahin Kılıçoğlu segera menunjukkan ketiga jenazah yang berada di masjid tak jauh dari rumah Oruç.
Sesampainya di masjid, Hizir melihat ketiga jenazah yang terbakar dengan perasaan yang campur aduk.
“Mereka adalah Oruç dan Despina. Satu jenazah perempuan adalah penduduk Lesbos yang ikut terbakar, karena sedang berada di sekitar rumah Oruç .” Jelas Şahin Kılıçoğlu kepada Hizir Reis.
Maka, dengan perasaan sedih, tangis Hizir pecah. Tubuhnya seketika lemah tak berdaya, hingga berlutut di depan jenazah yang tengah terbujur kaku tepat dihadapannya. Tangan kiri Şahin memegang bahu kanan Hizir sebagai tanda dukungan moral.
***
Keesokan harinya—setelah disalatkan, tiga jenazah itu dibawa ke pemakaman diiringi oleh hampir seluruh penduduk Lesbos. Atas kepergian Oruç, Hizir merasa terpukul. Kesedihan yang mendalam, dan dendam yang membara bercampur di dalam hatinya.
Iring-iringan jenazah itu, diketahui oleh Şahbaz bersama anak buahnya. Ia hanya melihat dari halaman kamar kediamannya, di lantai dua sembari tertawa senang, karena satu diantara penghalang terbesarnya sudah tiada.
“Tinggal Hizir, dan İshak yang tersisa. Setelah itu, baru kita porak porandakan Utsmani.” Kata Şahbaz kepada anak buahnya.
Anak buahnya hanya bisa ikut tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Mari, kita ke Pulau Rhodes untuk menemui Pietro sang maestro strategi.” Ajak Şahbaz kepada anak buahnya.
Mereka pun pergi menuju Pulau Rhodes, dengan menggunakan dokumen kependudukan Pulau Lesbos untuk berlayar dengan aman.
Pulau Rhodes
Giovanni, Radko, dan Antoine de Montpellier sudah sampai dari Perancis, sementara Komandan Marco sudah sampai dari Alexandria.
“Kebahagiaanku begitu lengkap, Pietro. Atas strategimu yang efektif, aku dapat menyingkirkan Oruç, dan Marco dapat selamat atas bantuan Senor Sylvio dari Alexandria.” Kata Antuan dengan bangga.
“Aku masih punya banyak strategi untuk melumpuhkan saudara-saudara Oruç, bahkan untuk menghancurkan Utsmani pun, aku masih menyimpan banyak strategi.” Jawab Pietro penuh jemawa.
“Ah! Mari kita rayakan kemenangan kita, satu bandit penghalang kita sudah mati.” Ajak Antuan.
“Mari. Tapi, kita tunggu dulu Şahbaz, sekutu kita yang akan merusak Utsmani dari dalam.” Kata Pietro membuka rahasia dengan menyebut Şahbaz.
“Siapa itu Şahbaz?” Tanya Antuan.
“Apakah kau tahu Kesultanan Safawi?”
“Ya, aku tahu.” Jawab Antuan.
“Itulah Şahbaz.” Kata Pietro penuh percaya diri.
Setelah beberapa lama berselang, Şahbaz tiba di Kastil Archangelos untuk ikut merayakan kemenangan, dan mendiskusikan strategi selanjutnya.
Alexandria
Mengetahui Komandan Marco lolos dari penjara bawah tanah, Isabel begitu terkejut dan murka tentunya.
“Penjaga! Marco dimana?!” Tanya Isabel murka.
Seketika, para penjaga berlari menuju sel tempat Marco ditahan. Saat mereka sampai di sel itu, para penjaga tampak kebingungan, karena Marco tak ada di tempat.
Salah satu dari penjaga melihat jejak yang ada di dalam sel. Di dalam sel, ada semangkuk sup dan jejaknya yang berceceran di lantai. Satu penjaga lainnya menemukan gembok yang tergeletak di lantai luar—yang bagian lubang kuncinya basah. Pada saat basahan kuncinya dicium, aromanya sama persis seperti aroma semangkuk sup yang berada di dalam sel.
Isabel yang melihat itu, langsung bertanya,
“Siapakah yang terakhir memberi Marco semangkuk sup?”
“Aku melihat ayahmu memberinya sup pada siang hari.” Jawab salah seorang penjaga.
Mendengar ucapan penjaga itu, Isabel terdiam dengan hati yang kesal. Sebab, ia pun tahu kalau ayahnya belum sepenuhnya berpihak pada Oruç. Maka, ia pun memilih berpura-pura tidak tahu. Namun, dalam hatinya ia bertekad untuk memberitahu Oruç.
“Lanjutkan tugas kalian. Aku akan mengurus kembali perdagangan.” Kata Isabel kepada para penjaga.
İstanbul
Sultan Bayezid II memberi perintah kepada İshak Ağa untuk pulang ke Lesbos menggunakan perahu untuk menyusul Piri Reis yang tengah berkeliling mediterania.
“İshak! Kau gunakan perahu milik Utsmani. Mintalah perahu pada Hersekzade Ahmed Pasha dan beritahu dia, bahwa aku yang memerintahkannya, karena harus menemui Piri Reis yang berada di mediterania.” Kata Sultan Bayezid II kepada İshak Ağa.
“Baik, sultan.” Jawab İshak Ağa.
“Reyhan Ağa. Antarkan İshak kepada Ahmed Pasha, sekalian ajak untuk berkeliling istana.” Titah Sultan Bayezid II.
Maka, keduanya menuju Ahmed Pasha sambil melihat-lihat kehidupan yang berada di dalam istana.
Pulau Lesbos
Sepulang dari pemakaman, Hizir Reis berjalan—berencana menuju rumah Oruç bersama Şahin Kılıçoğlu dan Hamza. Akan tetapi, tak ada sepatah kata pun dari Hizir. Yang ada, hanyalah tatapan kosong yang pilu namun penuh dendam. Melihat keadaan Hizir, Şahin mencoba mengajaknya ke kapal milik ayahnya di dermaga Lesbos.
“Reis, kau bisa menenangkan dirimu di kapal milik ayahku.” Kata Şahin kepada Hizir.
“Tidak, Şahin. Aku akan melakukan pembalasan dari rumah kakakku.” Jawab Hizir sambil menatap tajam, tapi ada keraguan di dalam tatapannya.
“Bukan begitu, Reis. Kau harus tetap tenang dan tetap kuat. Di rumah Oruç Reis, justru kau akan menemui kesedihan yang berkepanjangan.” Balas Şahin, menghentikan langkah dan memegang bahu Hizir menguatkan.
Hizir hanya terdiam. Terlihat dari air wajahnya, ia begitu terpukul kehilangan kakaknya, Oruç Reis. Bagaimana tidak, 2 tahun yang lalu ia telah kehilangan adik kesayangannya, İlyas. Kini, ia pun harus kehilangan kakaknya—manakala ia rapuh, Oruç ‘lah penopang yang kuat bagai gunung yang kokoh.
“Hamza! Temani Hizir menuju dermaga.” Perintah Şahin.
“Baik, Beyim.” Jawab Hamza.
Pada saat hendak ke dermaga, Hizir menghentikan langkah dengan memegang lengan Şahin.
“Şahin, apa yang harus kukatakan kepada kakakku, İshak Ağa?” Tanya Hizir setengah berputus asa.
“Tenangkan dirimu disana, Reis. Aku yang akan menyampaikannya kepada, İshak Ağa.” Jawab Şahin.
Maka, Hizir pun mengikuti saran Şahin untuk pergi ke dermaga Lesbos bersama Hamza. Langkah Hizir gontai, beberapa kali hendak terjatuh dan ditahan oleh Hamza.
Pada saat yang bersamaan—di Midili, ada perasaan pahit yang memukul keras dada Darwis Effendi. Seolah kesedihan dan kerapuhan Hizir terasa kuat olehnya. Dengan membawa perasaan itu, sambil berdzikir, Darwis Effendi melangkah menyusuri hutan Midili, tanpa menunggangi kuda, apalagi pengawal.









