Setelah selesai makan malam, Silvia berpamitan dengan Bu Rohana, Pazel dan istrinya.
Saat Dokter Dana hendak berdiri, salah satu pengawalnya datang dan berbisik padanya. Terlihat Dokter Dana mangut-mangut.
“Ada apa, Mas?” tanya Silvia cemas.
“Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita pulang sekarang.”
Mereka pun segera pergi dari rumah itu.
Mobil berjalan dengan laju yang tidak terlalu kencang. Silvia kembali bertanya kepada Dokter Dana yang hanya duduk terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Ada apa, Mas? Sepertinya ada yang membuatmu cemas.” Dia menggenggam tangan tunangannya.
“Tidak ada masalah apa pun kok, Sayang. Kamu jangan khawatir. Aku akan menjagamu selamanya.”
Dokter Dana mencium kening Silvia dengan lembut. Karena aroma tubuh Dokter Dana yang selalu disukai Silvia terhirup ke dalam panca penciumannya, dia memejamkan matanya untuk menikmati wanginya itu.
Dokter Dana tak kuasa mengendalikan dirinya melihat bibir tunangannya yang menantang. Dia pun melumat bibir itu, hingga beberapa detik lamanya, Setelah itu dia melepasnya secara perlahan.
Napas mereka terengah-engah. Saat mobil berhenti di rumah Silvia, mereka berpelukan.
“Aku akan mengantarmu ke dalam Sayang. Setelah itu aku harus segera pergi, karena ada masalah di rumah sakit yang harus aku selesaikan.”
“Gak usah, Mas. Kalau memang Mas ada perlu, pergilah. Tapi hati-hati ya?” Silvia kembali memberikan ciuman perpisahan di pipi Dokter Dana.
Silvia turun dan melambaikan tangannya.
Mobil Dokter Dana melaju lambat keluar dari kawasan Perumahan elite menuju sebuah gedung kosong.
Sesampainya di sana, Dokter Dana bergegas menuju tempat yang diarahkan oleh anak buahnya. Anak buahnya yang sudah menunggunya ikut mengiringi Dokter Dana ke dalam.
“Bos. Ini dia orangnya.”
Dokter Dana melihat seorang pemuda dengan pakaian sama persis seperti anak buahnya.
Dia langsung menghampirinya dan memberikan sebuah tamparan yang sangat keras.
“Apa dia sudah mengaku?” tanyanya kepada anak buahnya yang memberikan sebuah tisu untuk mengelap tangannya.
“Belum, Bos.”
“Siram dia dengan air dingin!” Perintahnya.
“Ambil air dingin!” teriak anak buahnya kepada yang lain.
Tidak menunggu waktu lama, air dingin di guyurkan dari kepala sampai ke kaki orang yang duduk dengan tangan diikat ke belakang.
“B-baik! Sa-saya akan bicara!” suaranya bergetar karena menahan rasa sakit dan dingin yang menusuk tulangnya. Sebelum Dokter Dana datang dia juga sudah dihajar habis-habisan oleh anak buahnya.
“Nona Rani yang menyuruh saya untuk menghabisi Nona Silvia. Ampuni saya. Saya hanya disuruh, Bos. Saya diancam. Kalau saya tidak mematuhi perintahnya maka dia akan membunuh istri dan anak saya yang sedang berada di rumah sakit.” Dia memohon sambil terisak menangis.
“Di rumah sakit mana anak dan istrimu?” tanya Dokter Dana.
“Di Rumah Sakit Perdana Kusuma, Bos. Istri saya baru selesai menjalani operasi sesar. Nona Ranilah yang membayar semua tagihan Rumah Sakit. Saya kira dia memberikan pertolongan dengan ikhlas, karena dia adalah sahabatnya Bos. Saya tidak tahu kalau dia punya niat terselubung untuk memanfaatkan saya untuk meng—”
Buuuk!
Dia tidak melanjutkan kalimatnya karena sebuah bogem mentah mendarat di mulutnya. Seketika darah keluar dari hidung dan bibirnya.
Setelah diam beberapa saat Dokter Dana kembali bicara.
“Bukankah saya sudah menjamin segala pengobatan pengawal dan seluruh karyawan saya!” ujarnya dengan suara keras.
“Ta-tapi bagian resepsionis menolak kartu yang saya berikan, Bos. Saat itulah Non Rani datang dan menyerahkan sejumlah uang kepada saya,” ucap lelaki yang terikat itu ketakutan.
“Cari tahu siapa resepsionis itu dan interogasi dia! Jika dia salah satu orang suruhan Rani, tahan dia. Kita akan jebloskan mereka semua ke penjara!” Dengan penuh amarah Dokter Dana memberikan perintah kepada anak buahnya.
“Baik, Bos. Bagaimana dengan orang ini, Bos?”
“Tahan dia sampai kasus ini dibuka.”
“Baik, Bos.”
Dokter Dana pun segera meninggalkan tempat itu. Dia ingin membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Dia memutuskan untuk pergi ke apartemennya, karena jaraknya lebih dekat dari pada pulang ke rumah.
Seharian ini dia begitu lelah. Saat acara penanda tanganan dia mendapat kabar dari seorang anak buahnya kalau ada salah satu anak buahnya yang bicara dengan seseorang secara diam-diam.
Saat itu dia belum tahu apa tujuannya. Setelah diselidiki, ternyata tujuannya ingin menghabisi orang yang dia cintai.
Karena Pazel duduk menyendiri di meja dekat dengan sudut ruangan. Pazel adalah salah satu orang yang dicurigai.
Itu sebabnya dia menerima undangan makan malam dari Pazel, tentunya dengan persetujuan dari Silvia. Saat mereka makan malam, anak buahnya sibuk mencari bukti keterlibatannya, bahkan sudah memasang alat penyadap sebelum dia pulang dari kantor.
Mang Budilah yang bertugas memasang alat penyadap di ponsel Pazel. Setelah itu dia bergegas mengejar Pazel untuk menyerahkan ponselnya kembali.
Namun tidak ada bukti keterlibatannya ditemukan, baik di rumah atau melalui panggilan telepon yang sudah dipasang alat penyadap.
Beruntung anak buahnya berhasil meringkus kaki tangan Rani yang ternyata adalah anak buahnya sendiri.
Saat ini dia hanya ingin membersihkan tubuhnya dan beristirahat sebentar di apartemennya sambil menunggu kabar baik dari anak buah yang sudah diperintahkan untuk menyelidiki kasus itu.
Sesampainya di apartemennya dia langsung mengguyur badannya dengan air hangat. Kemudian dia berbaring di tempat tidur dengan hanya memakai kaos dalam dan celana pendek saja.
Dia menatap ke arah langit-langit kamarnya. Membayangkan wajah tunangannya yang cantik dan menggairahkan. Setiap berdekatan dengannya ingin sekali dia melepas hasratnya. Namun dia harus menunggu sampai ijab kabul dibacakan.










