Kehidupan anak-anak Tuhan alias orang percaya pada zaman now tidak dapat lagi dilepaskan dari dunia maya. Tidak hanya di dunia nyata saja, bahkan dumay alias keberadaan online di internet sudah menjadi kebutuhan (primer), bukan hanya pelengkap (tersier) atau sekadar hiburan saja. Apakah masih bisa/mungkin hidup tanpa internet? Jawabannya tentu saja masih bisa, akan tetapi dalam banyak hal kita akan jauh tertinggal. Misalnya, tidak punya Whatsapp/aplikasi chat lainnya, jadi tidak bisa dihubungi. Ditelepon ‘biasa’ mungkin masih bisa, namun bisa jadi memboroskan pulsa si penelepon, terutama bagi yang berbeda operator. Tidak punya media sosial, tidak ada tempat simpan foto kenang-kenangan yang sudah memenuhi memori ponsel. Ketinggalan informasi terutama pengetahuan umum dan berita aktual.
“Jadi, boleh atau tidak ‘sih, orang percaya memiliki media sosial, bahkan membuat konten?”
Media sosial bak pedang bermata dua. Apa saja bisa ditemukan di internet, tentu masih ada sisi-sisi negatifnya. Apalagi isi media sosial bisa berupa apa saja, entah foto/gambar/video yang dibagikan, tulisan-teks apa saja termasuk opini seperti artikel ini, hingga komentar yang menyertainya. Apa yang kita tuliskan (ketikkan), bagikan hingga apa yang kita baca-tonton turut menunjukkan siapa diri kita.
Inilah beberapa renungan indah dan sekadar saran untuk kita semua.
- Sebagai anak Tuhan, hendaklah kita berusaha untuk lebih banyak menerima dan memberikan banyak hal-hal baik di dunia maya. Bagaimana caranya? Seperti tagline sebuah kampanye sosial beberapa saat silam, “Saring sebelum sharing.” Terkadang kita lupa menyaring karena terburu-buru ingin membagikan segalanya bagi dunia. Ingin segalanya diketahui orang lain tanpa sempat memikirkan dan mempertimbangkan dampaknya. Padahal kegiatan seorang anak Tuhan tentu disorot dan diperhatikan dunia, termasuk dunia maya. Misalnya, seseorang kerap selfie di mana-mana, sedikit-sedikit menulis status ‘gaje’ alias tidak jelas, membagikan video-video asal kutip saja atau forward segala keviralan tanpa kendali. Orang itu bisa siapa saja termasuk anak Tuhan. Patutlah ia mempertimbangkan, “Selfie-ku ini patut dibagi atau enggak ‘sih? Apakah hanya demi terlihat eksis dan cantik-tampan?” atau, “Apakah statusku ini akan memuliakan nama Tuhan, atau hanya berisi keluhan tanpa penyelesaian?”
- Seringkali kita bermaksud baik, berkata-kata/menulis baik, membagikan konten yang baik (bernada positif). Namun sayangnya tidak semua orang (followers, teman, bahkan pembaca) akan menanggapi secara baik pula. Prasangka dan tanggapan/komentar (feedback) yang kita terima tidak selalu positif. Seringkali malah bukan kebaikan, malah prasangka kurang baik kita terima. Dianggap pamer, sok suci, dan lain sebagainya. Jadi, harus bagaimana? Apakah harus membalas, atau malah berhenti/hiatus saja? Saran penulis, tetaplah membagikan hal-hal baik. Buktikanlah dalam kehidupan nyata kita. Selain tidak akan dianggap ‘omdo’ (omong doang), mereka akan melihat sendiri jika apa yang kita bagikan itu nyata.
Apabila dunia maya mulai terasa melelahkan, tinggalkanlah sejenak. Lebih baik banyak membaca Alkitab dan berdoa, memuji Tuhan, bersekutu bersama kawan-kawan seiman serta membagikan-menjadi saksi kasih-kebaikan Tuhan kepada sesama di mana saja berada. - Tidak melulu hanya eksis di dunia maya, anak Tuhan harus lebih banyak berada di dunia nyata. Bukan gak boleh sama sekali internetan; main medsos, nonton film-drama, chatting, main game dan sebagainya. Akan tetapi jangan sampai hal-hal tersebut menjadikan kita semakin jauh dari Tuhan. Misalnya gara-gara kegiatan dumay seperti mabar, jadi malas ke gereja. Skip berdoa. Apalagi menjadikan kita ikut-ikutan terpengaruh dunia secara negatif. Jangan mudah percaya pada informasi yang kurang jelas sumbernya. Waspada dan hati-hatilah terhadap semua hal-hal negatif/ajakan tak bermanfaat, apalagi yang jelas-jelas tak sesuai dengan kehendak dan firman Allah.
Kesimpulan: Bermedsos atau berkarya lewat konten di dunia maya tentu saja masih boleh dilakukan oleh anak-anak Tuhan, bahkan bisa dijadikan sarana bersaksi atau menyatakan kasih Tuhan. Kebebasan/kemerdekaan di dunia maya bukan untuk disalahgunakan. Bijaksanalah menyaring-membatasi segala yang kita terima dan kita ingin bagikan. Waspada menjaga hati dan pikiran agar tetap sesuai dengan perintah Allah.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 16 Mei 2025











