Daripada dia hanya mengkhayal sendiri, lebih baik dia menghubungi tunangannya dengan panggilan video.
Setelah melakukan dua panggilan akhirnya dia melihat wajah cantik tunangan kesayangannya.
“Halo wanita cantikku, bagaimana kabarmu, Sayang?”
“Aku baik, Mas. Mas sendiri bagaimana? Apa urusannya sudah selesai?”
“Belum, Sayang. Tapi sudah ada titik terangnya.”
“Apakah aku tidak boleh tahu tentang masalah yang Mas hadapi itu?”
Sesaat Dokter Dana terdiam. Dia tidak ingin membuat tunangannya merasa takut dan tidak nyaman jika mengetahui ada orang yang ingin menghabisinya. Tapi dia juga tidak ingin merahasiakan sesuatu darinya.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang dia memutuskan untuk memberitahu Silvia. Dia tidak mau membuat tunangannya itu merasa ada rahasia di antara mereka. Dia ingin menjalin hubungan atas dasar saling percaya dan saling jujur.
“Jadi begini, Sayang. Waktu kita mengadakan acara penandatanganan pemindah kepemimpinan Perusahaanmu ada seseorang yang ingin melenyapkanmu. Dan tersangka yang aku curigai waktu itu Pazel. Namun ternyata dugaanku salah.”
Silvia merinding mendengar bahwa dia dijadikan target pelenyapan. Tapi dia tidak ingin menunjukkan ketakutannya di kamera, karena itu akan membuat tunangannya merasa bersalah karena telah menceritakan semuanya.
“Lalu, siapa dalang dari rencana terselubung itu, Mas?”
“Rani. Dia juga yang menyebabkan Kaila sampai berada di tengah jalan.”
“Ya Allah, Mas. Apa itu benar?”
“Memang sulit dipercaya, tapi itulah nyatanya. Dia yang merencanakan pelenyapanmu dan juga Kaila.”
“Lalu sekarang bagaimana, Mas?”
“Kita akan jebloskan dia ke penjara. Tapi sebelum itu, kita harus punya cukup bukti dulu.”
“Iya, Mas. Kamu benar. Kita harus mengumpulkan bukti. Dia harus mendapatkan hukuman karena dia sudah berencana melakukan pembunuhan terhadapku dan Kaila.”
“Iya. Kamu benar. Dia memang harus mendapatkan hukumannya karena mencoba menyakiti orang-orang yang aku sayangi.”
“Apa ada yang bisa aku bantu, Mas?”
“Untuk sekarang biarkan anak buahku dulu yang bekerja, Sayang. Dia itu orang yang berbahaya. Kamu jangan dekat-dekat dengannya.”
“Baiklah, Mas. Nanti kalau Mas butuh aku, jangan sungkan ya, Mas?”
“iya, Sayangku. I love you. Muaaach. Sudah dulu, ya?”
“Iya, Mas. I love you, too, Mas.”
Di kediaman Silvia*
Tok…. Tok…. Tok….
Silvia membukakan pintu kamarnya.
“Bi Ijah? Ada apa, Bi?”
“Tadi ada yang ngantar paket, Non Silvia.” Bi Ijah memberikan sebuah bingkisan berbentuk segi empat kepada Silvia.
“Bingkisan apa ini, Bi? Dari siapa?”
“Bibi gak tau, Non. Sebenarnya bingkisan ini sudah dari jam tujuh tadi, Non. Pas Non pergi sama Pak Dokter.”
“Ya sudah. Makasih ya, Bi?”
“Iya, Non. Bibi permisi dulu, Non.”
Setelah Bi Ijah pergi, Silvia pun menutup pintu kamarnya lagi.
Silvia mencari alamat si pengirim, dia membolak-balik kotak persegi empat itu ke kiri, ke kanan, ke atas, serta ke bawah. Tapi tetap saja dia tidak menemukan alamat si pengirim.
Karena matanya sudah mengantuk. Dia hanya meletakkan kotak persegi itu di atas meja riasnya.
“Besok pagi saja baru kubuka.” Dia berucap dalam hatinya sambil merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur springbed. Dia terlelap dengan pulas.
Keesokan paginya, dia terbangun jam lima pagi. Setelah meregangkan tubuhnya, dia pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu.
Dia segera menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam. Yaitu menunaikan salat lima waktu. Selesai salat, tak lupa dia memanjatkan do’a dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat yang sudah Dia berikan kepadanya.
Setelah itu dia pun bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia telah merapikan setelannya yang modis, memakai parfum dan memoles wajahnya sekadar saja. Namun tetap terlihat sangat cantik dan natural.
Saat dia meletakkan alat riasnya, sekilas dia melihat sebuah kotak segi empat berukuran kecil.
“Kotak apa ini ya?” dia berpikir sebentar, setelah itu dia baru ingat.
“O iya. Tadi malam Bu Ijah memberikan paket ini.” Dia pun membuka kotak itu.
Belum sempat kotak itu dibuka, terdengar lagi ada ketukan pintu. Dia pun meninggalkan kotak itu lagi di atas meja riasnya.
Dia berjalan ke arah pintu dan segera membukanya.
“Bi Sum? Ada apa Bi?”
“Ini, Non. Ada paket, Non.”
“Pket lagi? Dari siapa Bi?”
“Gak tau, Non. Gak ada alamat pengirimnya. Bi Sum pun menyerahkan paket yang berbentuk segi empat itu kepada majikannya.
“Ini Non.”
Silvia sebenarnya sangat penasaran ingin membuka paket itu. Tapi karena dia sudah mau berangkat ke kantor, dia pun hanya meletakkannya di atas meja riasnya.
“Sil. Apa kamu sudah ada asisten?” Tanya ayahnya saat berada di meja makan.
“Belum, Yah. Apa ayah ada rekomendasi?” tanyanya sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.
Silvia melahap roti yang sudah diberi mentega oleh ibunya. Semua makanan yang disuguhkan ibunya selalu habis dia lahap.
“Oya, Yah. Tiara mana?”
“Ayah juga mau menanyakan itu pada ibumu.”
“Mana Tiara, Bu?” tanya Silvia lagi kepada ibunya.
“Kamu seperti tidak tahu saja adikmu itu. Jam segini pastilah dia masih tidur di kamarnya.”
“Biar aja, Bu. Biar dia tidur dulu. Lagian dia gak ada kegiatan, buat apa dia bangun cepat.”
“Apa gak sebaiknya kita kuliahin lagi Tiara, Pak?” tanya Buk Iyes kepada suaminya yang masih asik makan roti panggang dilumuri mentega dan coklat.
“Ha…. Ha…. Ha….
Herman malah ketawa mendengar pertanyaan istrinya.
Sedangkan istri dan anak sulungnya bengong melihat Pak Herman tertawa.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa kalian tidak tahu Tiara itu sudah hampir menyelesaikan skripsinya.”
Silvia dan Bu Iyes tambah bingung dan heran.
“Yang benar, Pak? Dia kan hanya di rumah dan keluyuran sama teman-temannya seharian?”
“Dia itu bukan keluyuran gak karuan. Bapak sudah menyelidiki ke mana anak kita pergi setiap hari. Emangnya Ibu pikir Bapak tidak perhatian kepada anak kita?”
“Lalu ke mana dia keluyuran setiap hari Pak?”
“Dia setiap hari kuliah. Dia mengambil jam pelajaran siang. Sepulang kuliah dia bekerja di sebuah kafe. Begitulah anak bungsumu setiap hari. Bapak yakin dia akan menjadi orang hebat juga nantinya.
“Syukurlah, Pak, kalau memang begitu. Ibu jadi tenang.”










