Nadia memutuskan tidak melanjutkan eksplorasi setelah Leon kembali ke Jerman. Ia memilih pulang ke rumahnya, ingin memenangkan diri, begitu alasan yang ia katakan setiap kali Kyoto mengajaknya keluar.
Waktu bergulir cepat, hari itu hujan gerimis turun sejak pagi di lereng Gunung Andong. Kabut menggantung rendah menyentuh lahan pertanian yang baru bersemi. Dari jendela rumahnya, Nadia memandang hamparan kebun yang samar-samar tertutup selimut putih. Udara dingin merayap masuk, tetapi ia tidak berniat menutupnya meski gigil mulai menggigit.
Sudah hampir dua bulan sejak Leon berangkat ke Jerman. Rumah yang biasanya hidup kini terasa lengang. Buku-buku catatan eksplorasi yang dulu selalu terbuka di meja kini hanya bertumpuk diselimuti debu. Kamera DSLR yang biasa dibawanya ke mana-mana teronggok di sudut ruangan.
Nadia duduk di dekat jendela sambil memandangi layar ponselnya, tidak ada pesan baru, pesan terakhir dengan Leon tertanggal dua minggu lalu.
[Aku baik-baik saja di sini. Kau juga harus baik-baik saja di sana. Aku merindukanmu.]
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya semakin sesak.
“Aku tidak baik-baik saja, Leon,” gumam Nadia pelan. Ia tersenyum pahit, “Aku … aku hampir gila merindukanmu.”
Ketukan di pintu membuat Nadia tersentak. Ia menoleh ke arah suara, tapi bibirnya seakan terkunci rapat hingga tak satupun kalimat jawaban yang keluar.
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.
“Assalamualaikum, Nadia!”
Suara itu … Nadia mengenalnya, ia mengembuskan napas berat, entah senang atau justru kesal menyadari ada yang datang di saat ia sedang tidak ingin bertemu siapapun. .
Dengan langkah malas Nadia membuka pintu. Saat pintu terbuka Kyoto berdiri dengan senyum mengembang. Jaket parasutnya sedikit basah, ransel besar bertengger di punggung. Nadia bergeming di depan pintu.
“Hallo …,” sapa Kyoto sambil melambaikan tangan di depan Nadia.
“Eh, i … iya.” Nadia menjawab gugup.
“Kenapa? Kaget?” tanya Kyoto. Nadia menggeleng salah tingkah.
“Wajahmu seperti prasasti yang baru digali dari dalam tanah,” kata Kyoto sambil tertawa.
Nadia memutar mata, mulutnya mengerucut kesal, “Kamu mau ngapain pagi-pagi?”
“Kamu … nggak ada niat menyilakan aku masuk gitu?” Kyoto melongokkan kepala ke belakang Nadia.
“Aku kedinginan tauk, nggak ada teh hangat atau kopi?” lanjutnya. Nadia menggeser tubuhnya, ia masih terkejut oleh kedatangan Kyoto yang tiba-tiba.
“Aku … eh,” ujar Nadia salah tingkah.
Kyoto tertawa kecil lalu masuk tanpa dipersilakan, matanya memindai seisi ruang tamu yang berantakan. Tumpukan buku, peta, cangkir kopi yang belum dicuci.
“Astaga, hanya karena ditinggal pacar pulang ke Jerman, Kamu jadi berantakan begini?”
Nadia mengedikkan bahu, lalu mendengus lirih, “Aku hanya sedang istirahat.”
“Istirahat dua bulan?”
Nadia tidak menjawab. ia masuk ke dalam dan tak lama kemudian ke luar membawa secangkir kopi yang mengepulkan uap
Kyoto duduk di kursi kayu, memandang sahabatnya beberapa saat. Ada lingkar hitam di bawah mata. Wajah yang dulu berseri kini terlihat pucat. Badannya juga lebih kurus.
“Aku tidak suka melihatmu seperti ini.”
“Aku baik-baik saja.”
“Nggak usah ngelak! Aku tahu Kamu nggak pandai berbohong ” Kyoto terkekeh kecil.
Nadia menghela napas panjang, “Kamu datang cuma buat ngatain aku?”
Kyoto tersenyum, “Aku datang buat menarikmu dari kubangan.”
“Maksudmu?”
“Ikut aku!”
“Kalau aku menolak?”
“Kamu akan menyesal.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak akan peduli lagi padamu.” Kyoto mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, membuka di depan Nadia.
“Pernah kesini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah lokasi di peta. Nadia mengamati sejenak, lalu menggeleng.
“Itu situs apa?” tanya Nadia akhirnya, minatnya pada sejarah yang sudah mengakar membuat rasa ingin tahunya muncul.
“Ikut aja! Tempatnya menarik, pemandangannya indah. Kamu pasti suka.”
.
Nadia bergeming seperti menimbang sesuatu, berusaha mengalahkan keraguannya. Kyoto menatapnya dengan alis terangkat.
“Sampai kapan Kamu menutup diri?”
Nadia terdiam, menghela napas panjang sambil meremas jemarinya.
“Aku ….”
“Kurasa Leon juga tidak suka melihatmu seperti ini,” tandas Kyoto.
“Aku hanya butuh waktu.”
“Tidak ada yang akan mengubah kehilanganmu jika hanya diam. Kamu hanya semakin tenggelam tanpa melakukan apapun.”
“Entahlah, aku hanya merasa kehilangan arah.”
Kyoto melangkah mendekat, menepuk bahu Nadia, “Justru itu Kamu harus temukan lagi arah itu “
“Baiklah, akan kucoba.”
Senyum Kyoto mengembang, ia menengadahkan tangan meminta kunci mobil. Nadia menatap ragu, tapi sedetik kemudian ia mengangguk, meraih kunci mobil yang teronggok di antara tumpukan buku-buku dan menyerahkan pada Kyoto.
Setelah berhasil menyalakan mobil yang hampir dua bulan tidak disentuh, satu jam kemudian mereka sudah membelah jalanan dengan hutan di kiri kanannya. Mobil melaju mengikuti jalan berkelok membelah lereng gunung. Kabut perlahan menipis seiring matahari yang mulai meninggi.
Mereka mulai meninggalkan Magelang, hamparan kebun sayur di sepanjang jalan, rumah-rumah penduduk temaram di lereng yang menghijau. Di kejauhan tampak gagah siluet Gunung Merbabu.
Perjalanan pelahan mulai mencair. Kyoto sengaja membicarakan hal-hal ringan. Tentang ekskavasi dan temuan-temuan baru, tentang situs-situs tak bernama yang nyaris terkubur zaman tapi tetap menarik untuk dikulik. Hingga akhirnya mobil masuki perkampungan di area persawahan.
Nadia melompat turun lebih dulu, di depan terpampang tulisan besar : Prasasti Ngrawan. Kyoto menyusul setelah memastikan mobil terparkir di area yang aman.
“Ini adalah Prasasti Ngrawan, peninggalan bersejarah dari masa akhir Majapahit sekitar tahun 1373 Saka atau 1451 Masehi,” ujarnya menjelaskan situs yang terletak di lereng Gunung Telomoyo, tepatnya di Dusun Ngrawan, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
“Tempatnya nyaman, pemandangannya juga bagus,” komentar Nadia sambil memindai sekeliling. Wajahnya mulai bersinar, meski masih irit bicara.
“Tentu saja, karena prasasti ini terletak di lereng barat Gunung Telomoyo,” jawab Kyoto. Ia mulai menjelaskan setiap sisi batu yang merupakan situs peninggalan era Kerajaan Majapahit tersebut. Nadia menyimak setiap penjelasan tentang situs yang berada di kawasan dataran tinggi yang diapit oleh beberapa gunung di Jawa Tengah itu. Gunung Telomoyo di sebelah timur, Gunung Merbabu di sisi selatan, dan Gunung Ungaran di sisi utara.
“Karena terletak di kawasan pegunungan, pada era Jawa klasik situs ini diyakini sebagai tempat pengajaran dan pertapaan.” Kyoto menjelaskan sambil menunjuk dua artefak utama. Satu artefak yang berada dalam pagar berbentuk menyerupai nisan makam yang bertuliskan angka tahun 1373 Saka, dan satu lagi berupa bongkahan batu besar yang berfungsi sebagai wadah air suci.
Nadia meraba permukaan prasasti, alisnya bertaut, lalu menatap Kyoto, “Ini aksara Jawa Kawi?”
“Benar, prasasti ini beraksara dan berbahasa Jawa Kawi, sayangnya beberapa bagian telah aus termakan usia sehingga sulit dibaca.”
Nadia mengangguk, pelahan sikap canggungnya mencair, ia menulis beberapa catatan dan mengambil gambar dengan ponselnya.
“Hingga saat ini situs ini masih sangat dikeramatkan dan menjadi pusat kegiatan ritual adat Rejeban.” Kyoto menambahkan penjelasan.
“Rejeban?” Nadia memutar bola mata.
“Ada yang menyebutnya Methokan Rejeb, kegiatan ritual yang oleh warga setempat dilakukan sebagai bentuk syukur atas kesejahteraan.”
“Lalu apa isi Prasasti Ngrawan?” tanya Nadia lagi.
“Isinya berkaitan dengan penetapan tanah sima, yaitu wilayah yang diberi status khusus oleh penguasa pada masa lampau. Biasanya berkaitan dengan kepentingan keagamaan atau administrasi kerajaan,” papar Kyoto.
“Lalu bagaimana untuk mengetahui kepastian dari isi prasasti tersebut?”
“Sejauh ini tidak ada yang bisa menjamin karena lingkungan sekitar tidak mendukung dan tidak ada inisiatif dari warga setempat untuk memelihara.”
Nadia mengembuskan napas yang terasa berat, nalurinya sebagai seorang pemerhati sejarah membuatnya prihatin, begitu banyak peninggalan sejarah yang kurang terawat, bahkan tidak sedikit yang dibiarkan menjadi tumpukan batu tanpa arti hingga akhirnya hilang tertimbun tanah.
“Biasanya Prasasti diberi nama sesuai nama daerahnya. Apa arti Ngrawan?” tanya Nadia.
“Ngrawan memiliki banyak makna. Salah satunya dapat diartikan rawan. Rawan dari bencana atau rawan dari serangan kerajaan asing. Jika dilihat kondisi geografinya, memang rawan karena lokasi itu terletak di kaki gunung telomoyo dan daerahnya juga terjal. Tapi jika ditilik lebih lanjut, penamaan sebuah prasasti bisa karena penemu nama desa tersebut. Informasi dari prasasati tersebut atau peristiwa yang menandainya,” papar Kyoto.
“Aku justru baru tahu prasasti ini.”
“Benar, keberadaan prasasti ngrawan memang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum karena lokasi yang sulit dijangkau dan akses jalan yang kurang memadai.”
“Kalau dilihat dari reliefnya, sepertinya prasasti ini hanya berisikan simbol-simbol mengenai dewa siwa,” ujar Nadia lagi.
“Kemungkinan tempat ini dulu digunakan sebagai pemujaan kepada dewa siwa.” Kyoto menjelaskan sambil menunjuk pada benda-benda yang ada di sekitar prasasti. Ada lingga yang belum sempurna pengerjaanya, juga terdapat benda-benda yang mendukung bahwa daerah itu pernah digunakan sebagai daerah pemujaan kepada dewa siwa.
Keheningan kembali menyelimuti mereka setelah mengelilingi prasasti, tapi kali ini tidak lagi canggung. Nadia memandang batu tua yang tetap berdiri dalam diam menyimpan jejak masa lalu, seakan menyampaikan pesan kepada masa depan.
Nadia merasa bahwa dirinya juga harus melakukan hal yang sama, kenangan tentang Leon adalah jejak masa lalu, tapi ia tetap melangkah ke depan. Ia berdiri dan menatap Kyoto.
“Setelah ini kita ke mana?”
Senyum lebar muncul di wajah Kyoto, “Prasasti Ngrawan bukan tentang hati yang rawan, kan?”
Nadia tersipu, ia tertawa kecil, “Terima kasih sudah mengajakku ke sini.”
Kyoto tak menjawab, hanya senyumnya yang makin lebar, “Selamat datang kembali, Nadia. Singkirkan hati yang rawan, karena sejarah tidak butuh diratapi, tapi tegaskan bahwa sejarah adalah jejak yang harus kita lukis agar menjadi pengingat.”
Di bawah langit cerah Desa Ngrawan, Gunung Merbabu berdiri megah di kejauhan, sebuah prasasti kuno menjadi saksi, dua sahabat itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebab sejarah selalu mengajarkan satu hal, yang pergi mungkin tidak kembali pada waktu yang sama, tetapi kehidupan tidak pernah berhenti menulis kisah berikutnya.
***











