Dari sana Silvia dapat merasakan kasih sayang yang besar dari wanita yang mengaku sebagai ibunya itu. Dia dapat melihat betapa dia terpaksa meninggalkannya demi kebaikan dirinya.
Seketika tubuhnya luruh ke lantai bagai tidak bertulang. Dia tak tahu harus bagaimana. Apa dia harus mengakui orang yang sudah meninggalkannya sebagai ibunya atau mengusirnya dari kehidupannya.
Dia menengadah ke atas langit-langit kamarnya,
“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Aku tidak ingin durhaka kepada orang yang telah melahirkanku, tapi aku juga kecewa dengannya, karena dia telah meninggalkanku selama bertahun-tahun.”
Dia menyapu air matanya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba kepalanya di sentuh dengan belaian yang lembut. Dia mendongak, ternyata di sana sudah ada Dokter Dana. Dia memeluk erat Dokter Dana dan melepaskan tangisnya.
“Tenanglah Silvia. Semua akan baik-baik saja. Kamu masih ingat apa yang aku bilang dulu, kan?”
Silvia terdiam, lalu Dokter Dana melanjutkan kata-katanya.
“Semua yang kita miliki di dunia ini hannyalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Kamu tahu tidak kenapa Allah menitipkan sesuatu kepadamu?”
Silvia menggeleng.
Dokter Dana terus mengusap kepalanya dengan lembut. “Itu karena Allah tahu siapa orang yang pantas mendapatkannya. Dan kamu pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih dengan memiliki dua orang ibu.”
“Tapi ini begitu tiba-tiba buatku, Mas.”
“Memangnya jika Allah ingin memberikan sesuatu kepada umatnya, apa Dia perlu izin dari makhluk ciptaan-Nya? Tidak Silvia. Kita ini hanya makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita harus menerima segala ketentuan darinya.”
“Jadi, aku harus memaafkannya, Mas?”
“Tanyakan itu pada hati kecilmu.”
Silvia terdiam sejenak, kemudian dia berdiri dan segera berjalan menuju tangga didampingi oleh Dokter Dana.
Perlahan kakinya menuruni anak tangga, pandangannya diedarkan kepada dua orang wanita yang sedang duduk di sofa sambil menangis.
Sedangkan Hermansyah berdiri sambil sesekali mondar-mandir dan memijit jidatnya. Saat mereka melihat Silvia turun, mereka tegang dan menatap Silvia dengan penuh harap.
Silvia berjalan lebih cepat dan bersujud di kaki ibu kandungnya. “Maafkan Silvia, Bu.”
“Tidak…. Tidak…. Nak. Ibulah yang seharusnya minta maaf padamu,” ucap wanita itu sambil mengangkat pundak Silvia.
Mereka berpelukan dengan penuh rasa haru. Setelah itu, Silvia melepas pelukannya dengan ibu kandungnya, dan berjalan ke arah ibu angkat yang selama ini dikiranya ibu tirinya. Bukan karena Iyes tidak menyayanginya, namun karena dia pernah mengalami sakit dan membutuhkan transfusi darah, darah Iyes tidak ada kecocokan dengannya, sementara darah Hermansyah memiliki kecocokan dengannya.
Saat itu Iyes mengaku sebagai ibu tirinya dan Hermansyah sebagai ayah kandungnya, tapi walaupun begitu, kasih sayang mereka tidak terbatas.
Iyes menyambutnya dengan hangat. Sebelum Silvia memeluknya, dia sudah lebih dulu merengkuhnya dan memeluknya dengan erat.
“Maafkan Ibu karena selama ini Ibu sudah merahasiakan kebenaran ini darimu Nak.”
“Silvia juga minta maaf ya, Bu. Selama ini Silvia sudah banyak merepotkan Ibu.”
“Tidak, Nak. Kamu tidak pernah sedikit pun merepotkan Ibu. Kamu adalah putri kesayangan Ibu. Selamanya akan seperti itu.”
Mereka pun berpelukan dengan erat. Tangisan haru mewarnai kebahagiaan mereka.
Silvia juga berpelukan dengan ayahnya. Ayah yang selama ini sudah memberikan kasih sayang seperti ayah kandung. Dia tidak pernah membedakan kedua anaknya. Bahkan dia menobatkan Silvia sebagai pewaris perusahaannya.
“Ayah. Terima kasih atas segala kasih sayang yang Ayah berikan kepadaku selama ini.”
“Apa maksudmu terima kasih? Tidak ada kata terima kasih antara anak dan ayah. Sudah kewajiban Ayah untuk memberikan kebahagiaan kepada kedua putri ayah. Dan kalian sebagai anak-anak Ayah berhak menerimanya.”
“Tidak, Ayah. Aku tidak berhak atas apa yang Ayah berikan padaku. A-aku hanya anak pungut Ayah.”
“Jangan katakan itu, Nak. Bagi Ayah, kamu adalah anak perempuan Ayah.” Akhirnya air mata yang sedari tadi dia tahan luluh juga.
“Tapi pada kenyataannya aku tetaplah anak pungut Ayah,” ucapnya lirih menundukkan kepalanya.
“Aku akan pergi bersama Ibuku, Ayah. Aku akan menjaga Ibu dan tinggal bersamanya Ayah. Dia sudah tidak punya siapa-siapa selain aku.”
“Lalu apa kami ini bukan siapa-siapamu, Nak?” Hermansyah tetap bicara dengan lembut dan penuh harap agar Silvia tetap menjadi putri kesayangannya.
“Ayah dan ibu akan selalu menjadi orang tuaku. Tapi aku ingin mengabdi kepada ibuku, Ayah.”
“Kalau begitu, lebih baik ibumu yang tinggal di sini, Nak. Rumah ini cukup besar. Kita bisa tinggal bersama-sama di sini.” Iyes mengutarakan pendapatnya dan disetujui Hermansyah.
“Iya. Itu benar. Bagaimana Bu Desi? Apa Ibu bersedia tinggal bersama kami di sini?” Mereka berunding sambil minum teh hangat yang di suguhi Bi Ijah.
Wanita yang dipanggil dengan panggilan Bu Desi itu menjawab dengan penuh pertimbangan.
“Jadi begini, Pak Hermansyah. Bu Iyes. Hubungan Bapak dan Ibu dengan Silvia selamanya akan tetap sebagai hubungan orang tua dan anak. Tetapi saya ingin menghabiskan sisa umur saya yang tidak lama lagi dengan merawat anak saya tanpa ada rasa cemburu, iri dan apalah. Mohon maaf, bukan maksud saya untuk mengatakan kalian bukan orang baik. Justru karena kalian orang yang sangat baik maka akan timbul rasa iri di hati saya melihat kasih sayang kalian untuk putri saya. Saaya hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya di rumah sederhana kami. Itu pun jika Silvia bersedia dan Bapak, Ibu mengizinkan,” terangnya.
“Apa maksud Ibu dengan sisa umur?” tanya Silvia dengan cemas. Pikiran buruk kembali menghantuinya. Baru saja dia merasa bahagia karena bertemu dengan ibu kandungnya sekarang darahnya berdesir mendengar kata-kata sisa umur. Kakinya terasa seperti tidak bertulang, karena pikiran buruk menggelayut di kepalanya.







