Selama berada di Ifrane, Ghadia diam-diam memperhatikan gerak-gerik Yazid yang sepertinya menaruh perhatian pada cucunya. Dia berbisik pada Hicham yang tengah membuat coklat panas untuk mereka, “Kau perhatikan, tampaknya pemuda itu menaruh hati pada anakmu.”
Hicham terkekeh mendengar ucapan ibunya.
“Mereka berteman sejak kecil, Bu. Bertemu di sini juga,” Hicham menerangkan.
Hicham membawa dua potong roti dan dua gelas coklat panas di nampan. “Ayo kita makan dulu, Bu. Supaya badan terasa hangat.”
Ghaida menuruti kata-kata Hicham berjalan menuju ruang depan. Dia menyalakan perapian dengan memasukkan beberapa potong kayu ke dalam sana.Ruangan terasa hangat. Mereka berbincang sambil menikmati makanan dan minuman yang baru saja Hicham buat.
Di luar, Karima dan Yazid berjalan-jalan di antara salju yang tengah turun. Mantel tebal yang mereka kenakan rasanya belum mampu mengusir hawa dingin yang begitu menusuk.
Akan tetapi bagi Yazid, saat-saat seperti inilah yang ditunggunya. Jika dulu di Prancis ia mendapat saingan, kini ia tak perlu risaukan lagi hal itu. Yazid akan mengutarakan maksudnya kali ini, apapun jawabannya.
“Karima, aku ingin jujur padamu.” Bibir Yazid bergetar menahan gigil yang menyerang. Salju kali ini rupanya membuat tubuhnya benar-benar tidak bisa berkompromi.
“Katakan saja Yazid. Aku siap mendengarnya.”
Karima tersenyum. Yazid mendapat lampu hijau darinya. Matanya tertuju pada jalan memutih yang tertutup salju tebal. “Sebaiknya kita berbicara sambil berjalan-jalan. Kau mau?” tawarnya.
“Iya. Baiklah.”
Sebagai seorang pria dewasa, Yazid memberanikan diri mengutarakan kata hatinya, meski dia belum sepenuhnya bisa mengatakannya pada Karima.
“Selama ini aku sangat merindukan Ifrane dan suasananya. Begitu juga dengan kehangatan orang-orangnya. Tidak hanya itu, aku juga merindukan masa lalu kita di sini saat kecil dulu. Apakah kau mengingatnya?” Yazid bertanya. Tatapan matanya begitu teduh menatap Karima dari samping.
“Ya. Tentu saja, Yazid.Aku masih mengingatnya saat kita bermain bersama. Masa kecil yang indah dan menyenangkan,” gumam Karima. Gadis itu membetulkan letak syal dan hijabnya serta jaket tebal yang membungkus tubuh. Melindunginya dari rasa dingin.
Mereka terus berjalan. “Apakah selama ini kau sudah berpikir dan berencana untuk masa depan?”
“Maksudmu?”
“Menikah.”
“Oh. Ha ha ha…Yazid, kau sangat lucu.”
“Menikah?” lanjut Karima dengan ekspresi wajah begitu jenaka.
Yazid tersenyum. Mungkin saja Karima tidak paham kode yang diberikan padanya, atau bisa jadi ia mengejek–menertawakan.
“Apakah kau pikir aku lucu? Ketika berkata begitu?” Yazid menegaskan, “Apa alasannya?”
“Ha ha … iya. Tentu saja. Kau mengatakan MENIKAH, tentu saja itu hal paling lucu yang pernah kudengar.”
Yazid sedikit kesal. Karima memang terkesan mengejeknya.
Jujur saja dia justru ingin nekat mengungkapkan kata hatinya. Sepanjang jalan mereka diam. Yazid diam-diam memperhatikan gadis itu saat Karima lengah. Dia menghentikan langkah. Membiarkan Karima berjalan terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin dia selidiki tentang perasaan Karima padanya.
Hicham dan Ghaida masih bercakap-cakap ketika Karima terlihat masuk. Dilihatnya dua gelas coklat yang hampir habis dan beberapa roti panggang yang masih tersisa.
“Karima, ajaklah Yazid makan dan minum dulu. Di luar sangat dingin. Biar tubuhnya hangat,” kata Hicham pada putrinya. Karima yang hendak menggantung mantel tebalnya urung. Dia segera mencari Yazid dan mengajaknya kembali.
Hicham dan Ghaida melihat keduanya datang. Wajah Yazid terlihat sedikit pucat menahan gigil dingin.
“Kau rupanya mencoba melawan dingin, Yazid,” seloroh Hicham mencairkan suasana.
Yazid tersenyum. “Sepertinya begitu.”
Pemuda itu duduk berhadapan dengan Hicham, sedangkan Karima duduk di samping neneknya.
“Berapa lama kau berlibur di sini, Yazid?” Hicham bertanya. Tangannya mengoles roti dengan mentega dan sedikit memberi toping selembar keju di atasnya.
“Hanya beberapa hari, Paman.”
Hicham meninggalkan mereka. Ia berjalan ke dapur dan membuatkan coklat hangat untuk Yazid. Tak lupa menambah lagi roti panggangnya, kemudian ia keluar dan meletakkan roti itu di depan Yazid.
“Makan dan minumlah dulu, supaya tubuhmu tidak kedinginan.”
“Terima kasih, Paman.”
Yazid meminum coklatnya. Dia melirik sekilas ke arah Karima yang masih bercengkrama dengan neneknya.
“Paman, aku ingin melamar Karima,” katanya langsung.
Semuanya terkejut, termasuk Karima. Dia tidak mengira jika teman masa kecilnya itu berani menyatakan keinginannya untuk meminangnya. Wajah Karima seketika berubah. Wajahnya yang semula ceria kini berubah sedikit muram.
“Yazid, benarkah yang aku katakan? Apa kau sungguh-sungguh?” Hicham menekankan.
“Iya, Paman. Aku sungguh-sungguh, mencintai Karima sejak awal pertemuan di Prancis beberapa waktu lalu,” ucap Yazid kian berani. Kini sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk menutup-nutupi perasaannya.
Hicham menatap putrinya yang terlihat tertunduk. “Kau bagaimana, Karima? Apakah aku menerima pinangan ini?”
Wajah Karima kian memerah. Dia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Selama ini dia dan Yazid hanya berteman biasa–lebih tepatnya bersahabat baik. Yazid memang punya pesona dan kharisma kuat. Siapapun wanita yang memandangnya pasti akan mudah menaruh perhatian.
“Mengapa diam, Nak? Apakah kau bersedia?” lanjut Hicham kembali. Ghaida yang tahu situasi itu mengusap punggung Karima lembut.
“Karima, jawablah pertanyaan ayahmu,” kali ini giliran Ghaida berkata. Karima memegang tangan neneknya yang keriput. Dia menatapnya. Ada genangan air mata terlihat di sana.
“Paman, Nenek, aku tidak masalah jika memang Karima tidak menginginkanku–atau hanya menjadikanku hanya sebagai teman. Itu pun sudah lebih baik.” Kata-kata Yazid adalah kejujuran yang paling tulus yang pernah mereka dengar.
“Rasa cinta tidak bisa dipaksakan, tetapi setidaknya hari ini aku akan siap andaikata nanti Karima berkata lain dari yang aku harapkan.” Yazid sangat tulus dengan kata-katanya.
Hicham dan Karima berpandangan.










