“Jadi, kamu tidak tahu apakah kamu harus mulai mengajakmu kencan,” katanya sambil memegang tanganmu yang lembut dengan tangannya yang kuat dan kokoh. Dan matanya, bukan mata lebar dan cerah yang biasa kukenal, kini sedikit tertutup, merah, dan dipenuhi kasih sayang.
Kamu tersenyum dan mengatakan kepadanya bahwa kamu tidak tahu. Pilihannya ada padanya, lagipula, pilihanmu adalah menikmati perhatian, ketertarikan, dan berkata Tidak. Namun, saat kamu menatapnya, kamu tahu kamu telah membuat kesalahan besar, kamu seharusnya memulai percakapan lain untuk menutupinya.
Ya Tuhan! Tatapannya cukup untuk membuatmu menanggalkan pakaianmu. Kamu segera menggerakkan tanganmu dan dia mengalihkan pandangan, mencoba mengamankan tanganmu lagi, apa pun untuk menghentikannya menatapmu seolah-olah dia akan bercinta denganmu saat itu juga.
“Aku mencintaimu,” katanya tanpa pikir panjang. Kamu tahu bahwa apa pun yang dapat membuatmu tetap terkendali pastilah mukjizat Tuhan.
“Aku bukan hanya mencintaimu, tetapi aku juga menginginkanmu,” tegasnya.
Kata-kata itu mengguncangmu seperti gempa bumi yang mengguncang rumah dan bangunan. Kamu terdiam, tidak tahu harus berkata apa, berbuat apa atau melihat lagi, karena dia sudah memalingkan wajahmu untuk menatapnya. Kamu tidak bisa tidak menatap matanya yang berbinar, hidung kaalian saling berdekatan. Kamu bisa merasakan hembusan napasnya yang panas, dan kamu berdoa.
Tuhan, tolong.
Bekasi, 27 April 2025












Satu Komentar
❤️❤️