Sebuah bangku ukir dari kayu jati di samping tempat tidur saya dan di atasnya lembar koran atau sesuatu yang tampak seperti itu. Cetakannya jauh dari kualitas surat kabar, tertulis dengan jelas: SELOMPRET MELAJOE Kemis 12 Djoeni 1879 Masehi.
Ghea sampai mencubit lengannya berkali-kali untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.
“Bangunlah, bangun, bangun!” Dalam hati dia membolak-balik halaman koran. Mustahil sekarang tahun 1861. Dia tidak pernah tahu akan terbawa sampai sejauh. Pasti mimpi.
Bagaimana mungkin dia yang tidur di tahun 2018 bisa terbangun di tahun 1861? Selama ini, semua yang dialaminya hanyalah mimpi buruk. Namun kali ini terasa nyata karena lengannya membiru bekas dicubit dan rasanya juga sakit.
Ya Tuhan! Apakah ini—
Terdengar suara pintu diketuk. Ghea menahan napas, tidak merespon dan diam menahan napas.
Sekali lagi, pintu diketuk dan dia berhasil menjawab, “Ya … Masuk!”
Bodohnya aku! Kan bisa bertanya, ‘Siapa itu?’
Pintu terbuka dan seorang perempuan muda masuk. Mengenakan kemben dan kain, di leher dan pergelangan tangannya ada manik-manik biji-bijian. Di tangannya terdapat nampan perak berisi kendi dan cangkir serta beberapa wadah lainnya. Sepertinya usia gadis itu sekitar dua puluh.
Ghea bahkan tidak tahu berapa umurnya di tahun ini. Mengapa aku memikirkan usia orang lain?
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu dia meletakkan nampan di atas meja dan kemudian dengan hati-hati menuangkan isi kendi ke dalam cangkir.
Bau teh melati yang kaya aroma menguar di udara dan Ghea menyadari bahwa dirinya sangat haus. Untuk sesaat, dia melupakan rasa khawatirnya.
Gadis itu mengambil sendok dan menakar gula dari salah satu wadah dan menambahkannya ke dalam cangkir. Setelah mengaduk perlahan, bergerak dan berbalik menghadap Ghea.
“Apakah saya sudah boleh pergi?”
Jika bukan karena sedang berhadapan, maka Ghea akan mengira gadis itu sedang berbicara dengan seseorang di belakangnya.
Matanya sama sekali tidak menatapku. Dia … takut?
“Tidak apa-apa, terima kasih banyak,” jawab Ghea sesopan mungkin. Gadis itu menatapnya dengan tatapan bingung saat Ghea mengucapkan terima kasih.
Tepat ketika dia berbalik untuk pergi, Ghea mengucapkan, “Selamat pagi.”
Gadis itu berhenti dan berbalik, lebih bingung dari sebelumnya dan membungkuk. “Selamat pagi, Gusti Putri.”
Apa? Apa? Dia memanggilku … Gusti Putri. Pasti ada kekeliruan!
Ghea mendengar suara di luar, dua orang bercakap-cakap sambil berbasa-basi. Karena penasaran, dia berjalan menuju jendela membawa cangkir teh itu bersamanya.
Gadis itu buru-buru membantu menyibakkan tirai.
Kamar itu berada di lantai dua gedung. Ghea melihat ke bawah melihat apa yang terjadi di luar.
Kompleks itu tampak cukup besar, sangat besar, malah. Sama seperti semua kompleks keraton yang biasa dilihatnya di film dokumenter. Ada pos penjaga lengkap dengan prajurit di mana-mana. Tanaman bunga membentuk pola tertentu di bawah dinding luar kamarnya.
Dia bisa mendengar burung pagi riuh rendah berkicau. Terakhir kali dia mendengar kicauan burung saat ke pasar burung tiga tahun silam.
Dua penjaga sedang mengawal seorang pria yang membelakanginya, dan tubuh Ghea membeku. Pria itu memakai topi bowler, bertolak pinggang. Mantelnya panjang mencapai sepatu botnya.
Jantung Ghea berdegup kencang dan dia memegang cangkir perak di tangannya erat-erat.
“Lastri, siapa … siapa … laki-laki itu?”
Tunggu … mengapa aku tahu namanya Lastri?
Lastri menatapnya ketakutan bercampur heran.
“Maksud Gusti Putri para penjaga?”
“Bukan, yang memakai topi Belanda.”
Kening Lastri berlipat tujuh.
“Gusti Putri, itu … itu Gusti Pangeran, suami Gusti Putri.”
Apaaa?
***
Ghea duduk di ruang makan memakai baju kebaya sutra dan kain batik halus. Sandalnya dari kulit rusa, mengetuk-ngetuk lantai dengan irama cepat pertanda dia sedang gugup. Gelisah dan gugup sekaligus.
Tidak setiap saat dia mendapatkan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan masa lalu. Dan lebih buruk lagi, menemukan sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan oleh siapa pun.
Suami!
Bagaimana hal itu terjadi? Bukankah Mama Sitrun bilang dia telah melakukan kesalahan? Bukankah sudah terlambat sekarang jika dia menjadi pilihanku yang salah?
Dia menarik napas dalam-dalam, dan terus menarik napas sampai dia tidak bisa menarik napas lagi.
Udara dingin tapi Ghea berkeringat, dan dia menyeka dahi dengan punggung tangan yang berhiaskan sederet cincin berlian.
Setelah Lastri memberi tahu bahwa lelaki itu adalah suaminya, dan dari cara metanap gadis itu seakan-akan Ghea sudah gila, dia memutuskan untuk tidak mengajukan pertanyaan apa pun lagi, selain sekadar basa-basi. Dia harus bisa mendapatkan informasi tanpa menimbulkan kecurigaan seorang pun.
Pagi itu, dua orang dayang-dayang datang untuk memandikan dan mendandaninya. Dia mengenakan kain batik dan penutup dada seperti Nyi Roro Kidul dalam film-film. Sederet kalung emas membuat lehernya sakit, nyaris sulit untuk bernapas. Jantungnya berdegup kencang dan dia tahu dua wanita yang mendandaninya ketakutan, bertanya-tanya apakah mungkin mereka telah melakukan sesuatu yang salah. Ghea terpaksa memberi mereka senyum untuk meyakinkan bahwa mereka tida melakukan kesalahan apa pun.
Meja makan panjang yang bisa menampung selusin orang telah ditata. Makanan lezat tercakup dalam wadah perak indah yang diletakkan hanya di depan dua kursi. Lastri telah menarik kursi untuk Ghea yang berseberangan dengan kursi satunya, keduanya berada di ujung meja. Lastri berdiri di belakangnya menunggu dia duduk dan menunggu … suami Ghea.
Dua pengawal datang lebih dulu, menjura ke arah Ghea sambil menyebut ‘Gusti Putri’ dengan hormat lalu berdiri di belakang kursi di seberang. Jantungnya berdetak kencang, saking kencangnya Ghea sempat berpikir bahwa dia akan terkena stroke.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku memeluknya? Apakah dia akan menciumku? Akankah aku membalas ciumannya?
Ketika lelaki yang disebut suaminya oleh Lastri masuk, matanya menghindar dari menatap Ghea. Lelaki itu melepas topinya dan menyerahkannya kepada salah satu pengawal sementara yang lain menarik kursi untuknya dan dia duduk tepat di seberang Ghea.
Dia mengenakan mantel cokelat panjang, dengan sederet bintang di dada. Jangankan menyapa, melirik Ghea pun tidak. Sungguh perkawinan yang sempurna!
Segera setelah duduk, dia membuka piring dan salah satu pengawal membantunya. Saat itu, Lastri juga mulai menyajikan makanan di piring Ghea.
Suasana begitu sunyi hanya denting suara piring beradu dengan sendok dan garpu. Lucu juga, Ghea berpikir bahwa di era itu orang makan dengan tangan. Ternyata pengaruh penjajah lebih sudah merasuk ke kalangan elite pribumi.
Ghea tak gugup lagi, tetapi dia merasa kurang nyaman. Mungkin karena kemben Lastri yang terpasang rendah sehingga dadanya nyaris terjuntai di depan mukanya saat membungkuk untuk menyajikan makanan. Dia kemudian dia memperhatikan wajah suaminya dan jantungku bagai berhenti berdetak.
Pria itu tinggi dan rambutnya ikal bergelombang. Hidung sedikit lebih mancung dari rata-rata. Alisnya yang gelap sebenarnya anggun tetapi saat ini dirusak oleh kening yang berkerut. Bulu matanya rapat sementara bibirnya tampak menarik dan menawan dengan kilau merah kecokelatan. Rahangnya menonjol dengan gagah dan kekuatan lehernya terlihat dari jalinan otot yang membentuk seluruh tubuhnya.
Dia mendongak sehingga Ghea bisa melihat matanya. Matanya … mata yang membuatnya tenggelam itu balas menatap dengan pandangan bermusuhan.










