Rin menggenggam cangkir kopinya yang mulai dingin. Tangannya bergetar halus, entah karena cuaca dingin atau karena sesuatu yang tak terucap. Aku menunggu kata-kata berikutnya, tapi ia hanya menatap keluar jendela, ke arah jalan yang masih diguyur hujan deras.
“Bay,” katamu lirih, “kau masih ingat waktu aku jatuh dari sepeda di depan sekolah? Semua orang tertawa. Hanya kau yang mengulurkan tangan.”
Aku tersenyum, kenangan itu kembali. “Aku ingat. Kau tak marah karena sakit, tapi karena seragammu ternoda. Kau benci noda lebih dari luka.”
Rin tertawa. “Kau selalu tahu cara mengingat hal-hal sepele. Aku kadang iri, Bay. Ingatanku bocor, mudah hilang. Tapi anehnya, semua tentangmu menetap.”
Kami terdiam sesaat. Ingatan itu membawa kami ke masa-masa sederhana: halte sekolah, buku catatan penuh coretan, obrolan kecil yang tak pernah selesai. Masa itu kembali, seolah hujan saat ini secara sengaja membukanya satu demi satu.
“Bay,” kalimatmu setengah berbisik, “apa kau pernah merasa kita berputar di lingkaran yang sama? Apa kau merasa kita ini lingkaran yang tak selesai? Dulu, kini, entah sampai kapan?”
Aku menghela napas. “Mungkin memang begitu. Ada hal-hal yang tidak dimaksudkan untuk selesai. Seperti hujan. Seperti kita—yang hanya tahu jatuh, tapi tak pernah reda.”
Rin menatapku. Ada hujan di matanya, bukan dari luar, tapi dari dalam.
“Bay, aku sudah mencoba. Kau tahu aku berusaha. Tapi bersamanya…, aku tetap merasa asing. Aku selalu merasa seperti tamu di rumah sendiri.”
Aku diam. Kata-katanya menyalakan luka yang kupendam.
Aku ingin berkata: “Aku rumahmu.”
Tapi suara itu tertelan getir kopi, karam di dasar cangkir.
“Ia baik, Bay,” lanjutmu dengan suara yang agak serak retak, “terlalu baik, malah. Ia memberiku segalanya. Tapi hatiku tetap terasa setengah. Selalu ada ruang kosong.”
Aku meraba cangkir, panasnya hampir habis.
“Rin, ada kebaikan yang malah jadi jarak. Kebaikan yang membuat kita merasa tak layak, tak perlu.”
Kau menunduk.
“Bay, apa aku salah? Apa aku jahat karena merasa begini? Apakah aku berdosa karena tak bisa mencintai sepenuhnya?”
Aku ingin menjawab: tidak. Tapi suaraku hanya bisikan patah, suaraku hanya keluar setengah, “Hati tak bisa dipaksa, Rin. Ia punya jalannya sendiri. Ia tak tunduk pada aturan.”
Kau menarik napas panjang lalu melepasnya dengan getir.
“Aku lelah, Bay. Aku ingin kembali ke halte itu. Duduk di sampingmu, menunggu hujan, tanpa harus memikirkan nama, status, atau siapa menunggu siapa.”
Aku menatap wajahmu. Ada siluet lelah yang membayang di sana, tapi ada kejujuran yang tak pernah kulihat selama ini. Aku ingin menghapus jarak di meja ini, tapi tanganku entah mengapa tetap saja diam.
Di luar, hujan mulai mengecil, tapi langit masih gelap. Warung semakin sepi; bapak tua tadi sudah menutup lesung penumbuk kopi dan duduk di pojok, tertidur sambil bersandar pada dinding kayu yang bergetar pelan.
Rin menatap keluar jendela. Lama, sebelum akhirnya bertanya tiba-tiba, “Bay, kau tahu apa yang paling menyakitkan dari hujan?”
“Apa?” tegunku.
Ia menoleh, matanya tenggelam.
“Ia selalu membuatku ingat padamu.”
Kata-kata itu membuat waktu berhenti sejenak. Aku ingin menjawab, tapi hujan kembali turun. Kali ini lebih halus, seperti sengaja menutup mulutku.
***
Purbalingga, 17925.











2 Komentar
bahasanya puitis dan POVnya mencengangkan
Makasih, Fidele, atas apresiasinya ….