Lingkup studi dan profesi Seni Rupa dan Desain hanyalah sebagian kecil dari ilmu pengetahuan sosial dan seni humaniora yang melibatkan daya pikir serta kreativitas manusia untuk sesama manusia, diekspresikan oleh sesama manusia sebagai pemegang talenta yang dipercayakan, atau lebih tepat lagi dipinjamkan, oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sejak dahulu kala leluhur/nenek moyang kita bersusah-payah menemukan cara untuk berkomunikasi pada masanya maupun untuk diketahui di masa depan, baik melalui lisan-tulisan serta simbol-simbol dan gambar-gambar. Jika hanya bunyi-suara dan bahasa lisan, anak-cucu takkan pernah tahu ada apa pada masa lalu. Karena itulah nenek moyang kita berusaha keras meninggalkan jejak melalui penemuan-penemuan sederhana mereka. Berhasil menemukan peralatan hingga cara sederhana mengukir batu-batu, membuat patung-candi, hingga menemukan alfabet dan tulisan. Gambar-gambar sederhana diabadikan di gua-gua, juga berupa ukiran pada prasasti, relief pada candi dan objek zaman purbakala lainnya. Belum lagi ditemukan sumber energi listrik atau perkakas memadai. Semua dikerjakan dengan susah-payah selama berjam-jam, berhari-hari hingga bertahun-tahun. Penuh tantangan dan mara bahaya. Sebagian kecil saja yang baru berhasil ditemukan pada masa kini, menjadi catatan sejarah serta harta karun yang tak ternilai harganya, priceless. Bukan semata-mata hanya dari sudut materi saja melainkan dari kenangan, warisan sejarah dan ilmu yang ditinggalkan.
Bersyukurlah pada zaman now sudah banyak sekali cara mengabadikan sejarah, berkomunikasi hingga menciptakan karya seni, bahkan sebelum ada komputer, ponsel, dan gawai lainnya. Penemuan listrik, kertas, tinta-mesin cetak, mesin tik hingga komputer dan lainnya membawa kemudahan. Apalagi belum lama ini dengan ditemukannya kecerdasan buatan alias AI (Artificial Intelligence) dianggap sebagai gebrakan luar biasa yang diklaim bisa membantu manusia dalam melakukan berbagai hal yang sedianya sulit atau lama dikerjakan manusia. Selain canggih dan super cepat, AI jika digunakan oleh tangan-tangan, otak dan hati ‘secara positif’ seharusnya dapat membawa kebaikan. Akan tetapi kenyataannya, tidak selalu begitu.
Pada awalnya AI gambar/visual hingga video yang bisa menghasilkan ilustrasi atau ‘foto’ sampai gambar bergerak dianggap sesuatu yang viral, menghibur, dengan hasil terkadang ‘lucu’ atau aneh. Semakin banyak user mengakses, mengunduh dan mencobanya, apalagi banyak yang gratis. Akan tetapi selain hanya karena iseng mencoba, banyak juga yang mengunggah hasil karya prompt-nya ke media sosial atau bahkan mempergunakan untuk kepentingan komersial.
Beberapa variasi mode atau genre AI visual generatif terus bermunculan. Belakangan, mode/style gambar ChatGPT yang sangat mirip dengan kartun/anime ala Studio Ghibli dengan warna khas pastel hangat dan garis-garis sederhana sedang marak. Selain membuat heboh, dicicip sendiri oleh warganet untuk dibagikan ke media sosial, tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra. Bukan hanya sang pencipta ciri khas Ghibli saja yang prihatin dengan perkembangan ini, para animator dan pekerja seni banyak yang turut menyuarakan betapa perkembangan AI seperti ini secara perlahan-lahan dapat mematikan kreativitas manusia. Hanya dengan modal ketik beberapa kata saja, apa saja pada dasarnya bisa diciptakan. Seakan-akan pendidikan, proses, usaha-tenaga serta waktu tidak lagi dihargai. Apabila AI sudah semakin ‘cerdas’, model hingga aktor-aktris serta tentu saja pekerja seni bisa-bisa tidak lagi diperlukan. Begitu pula pekerja kreatif lainnya, seniman hingga desainer. Jumlah tenaga kerja yang biasa digaji dan perlu ‘diempani’ bahkan ‘rewel’ akan terpangkas. ‘Toh bisa otomatis, jadi untuk apa menimbun (kuantitas) sumber daya manusia? Semakin banyak PHK terjadi, angka pengangguran bertambah karena profesi ‘manual’ tak diperlukan dan terganti.
Semua itu belum seratus persen terjadi, akan tetapi sangat mungkin segera jadi nyata. Kok bisa? Inilah beberapa pendapat dan masukan yang bisa direnungkan.
- Apabila manusia terus mengesampingkan ilmu pengetahuan serta pendidikan, hanya mengandalkan kemampuan AI alias kecerdasan buatan, kecerdasan manusia akan semakin berkurang, sebaliknya kecerdasan buatan akan semakin ‘cerdas’. AI mampu ‘belajar’ dari data-data dan banyak sekali contoh yang beredar bebas di internet. Perulangan ibarat ‘latihan’ ini memang takkan menjadikan AI ‘hidup’ apalagi sempurna, akan tetapi semakin ‘bisa’ menggeser, bahkan menggantikan peran manusia! Apakah itu kemungkinan yang benar-benar kita inginkan?
- Menggunakan hasil AI hanya karena menghindari ‘pelanggaran hak cipta’ atau karena ‘enggan membayar foto/ilustrasi berbayar karya fotografer/desainer’ pada awalnya mungkin dianggap oke-oke saja, masih bisa dimaklumi, namanya juga ‘bebas’. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan apakah hasil AI belaka sudah mampu menggantikan sepenuhnya nilai-nilai kreativitas tersirat yang hanya bisa ditemukan pada setiap karya manusia?
- Barangkali pertimbangan etika selama ini masih kurang kita prioritaskan dalam mendesain, yang penting tepat, menarik alias bagus, cocok, gak ribet. Mau dapat dari mana sumber gambar atau fotonya, masa bodoh. Akan tetapi apabila kita sebagai desainer mau sedikit saja berempati pada sesama pekerja kreatif, menyebutkan sumber (meskipun gratisan) atau dengan gentle mengakui dan mencantumkan jika karya kita dihasilkan dengan bantuan AI, sungguh alangkah baiknya. Jika rindu karya kita dihargai, kita juga selayaknya rindu memberikan penghargaan yang tulus pada hasil karya manusia lainnya.
Kesimpulan: Kreativitas manusia memang terbatas, masih penuh kelemahan, akan tetapi takkan pernah sepenuhnya dapat tergantikan oleh AI. Tetaplah berkreasi dengan metode dan bahan apapun, akan tetapi jangan lantas bablas mengambil dari sumber mana saja, apalagi hanya mengandalkan kemampuan AI. Jangan mau ‘dikalahkan’ AI, walaupun sudah menguasai banyak skill, tetaplah belajar dan perdalam asah talenta Anda. Pelajarilah mengenai hak cipta sebelum mempergunakan hasil AI, jangan sampai melanggar, baik sengaja maupun tidak. Sebisa mungkin, peliharalah etika dan empati, hargailah jasa dan usaha sesama pekerja kreatif. Pergunakanlah lebih banyak hasil kreativitas manusia, tentu beda rasa bangga dan kedalaman kualitasnya.
Tangerang, 23 April 2025
Wiselovehope











