Bicara mengenai ‘Hal-hal kurang menyenangkan’, apa saja yang kita pernah alami? Mungkin kritik, komentar. Bisa juga kejadian-kejadian yang tidak diharapkan meskipun sudah dihindari.
Apakah jadi orang Kristen sudah berarti hidup dijamin senang/bahagia dalam damai dan penuh cinta kasih? Jawabannya: Belum tentu. Lho, bukankah Tuhan Yesus sudah menjaminnya dalam Ucapan Bahagia? “Berbahagialah mereka yang …” (silakan buka Alkitab dan baca sendiri). Ucapan-ucapan bahagia itu bukan berarti otomatis pasti tidak akan ada masalah, kesulitan, ujian dan rintangan. Banyak orang yang dulu memilih jalan Tuhan lantas berpaling ke hidup lama / jalan lama mereka karena merasa kecewa. Apakah benar, jadi Orang Percaya selalu diuji Tuhan hingga seolah-olah hidup tak senyaman harapan?
Beberapa dari hal-hal kurang menyenangkan beserta tips mengatasinya Penulis coba sarikan di bawah ini:
- Tidak peduli seberapa baik kata-kata dan perbuatan kita, akan selalu ada saja orang menganggap kita masih belum cukup baik. Kekurangan dicari-cari. Kesalahan kecil masa lalu diungkit kembali. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Tetaplah berkata-kata dan berbuat baik. Seperti halnya Tuhan Yesus saat Dia datang ke dunia. Dia menyembuhkan orang-orang sakit bahkan membangkitkan orang-orang mati. Dia meredakan badai. Tetap saja orang-orang Farisi tidak menyukai-Nya. Apakah Yesus kapok, ngambek, atau menarik diri? Tidak. Dengan penuh kasih, Dia tetap melakukan pelayanan-Nya hingga akhir. Kematian hingga kebangkitan-Nya bahkan hingga Dia kembali naik ke Sorga, Yesus tetap baik. Bahkan hingga kini, kebaikan-Nya nyata dalam kisah hidup kita.
- Tidak peduli seberapa lama atau keras berusaha, akan selalu ada yang kurang puas dengan usaha kita. Apakah kita lantas harus berhenti? Tentu tidak. Berusahalah terus, berdoalah hingga terjadi sesuatu. Seperti kisah Bangsa Israel saat mengelilingi tembok Yerikho, tak ada apapun terjadi selama enam hari. Mereka ditertawakan, disepelekan, dianggap kurang kerjaaan. Suara sangkakala yang mereka tiupkan diabaikan, dianggap hanya suara berisik tanpa hasil nyata. Namun pada hari yang ketujuh, sesuatu terjadi!
- Kita mungkin tidak mencari-cari masalah, namun masalah seolah mencari-cari kita. Hidup lurus saja tidak menjamin ketiadaan masalah. Perbuatan manusia serta sebab-akibatnya bagaikan aksi-reaksi tanpa kesudahan. Bukan menghindari masalah, kita selayaknya belajar memecahkannya, mencari jalan lain alias plan B. Seperti kisah Injil mengenai orang-orang yang berhasil menemukan ‘jalan lain’, membuka atap rumah untuk menurunkan teman mereka yang lumpuh agar disembuhkan Tuhan Yesus, demikianlah kita harus ‘membuka hati’ agar Yesus bisa menjamah hati dan hidup kita. Andai beda cerita, orang-orang tersebut hanya menunggu di luar rumah “Ah, capek, malas, repot!”, mungkin teman mereka itu takkan sempat bertemu Yesus dan akan tetap lumpuh selamanya. Masalah berhasil mereka pecahkan, notabene tentu atas ‘izin’ Yesus, bukan hanya karena inisiatif mereka sendiri.
- Kita seringkali merasa ‘mampu sendiri’, udah berpengalaman, gak lagi perlu validasi atau afirmasi. Atau sebaliknya, dikit-dikit ‘nunggu arahan’, serba khawatir dan ragu-ragu, terlalu hati-hati. Kedua pola pikir / mindset berlawanan ‘180 derajat’ ini seringkali membuat hidup tenang malah jadi bermasalah. Berusahalah mendengarkan atau mencari nasihat bijak, misalnya membaca kitab Amsal, kita bisa lakukan di tengah kegalauan. Jangan melangkah sendiri, berjalanlah bersama Tuhan. Minta petunjuk lewat doa.
Hal-hal kurang menyenangkan tak mampu sepenuhnya dihindari, akan tetapi mampu kita atasi dengan pertolongan Tuhan. Apapun masalah, bawa kepada Tuhan dalam doa. Imani dan ulangi doa hingga sesuatu terjadi.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 8 April 2026











