Home / Genre / Chicklit / 1. 21 Tahun

1. 21 Tahun

MERAJUT MASA SILAM
3
This entry is part 3 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Ghea tidak begitu yakin apa yang menjadikan dia kambing congek, setuju begitu saja ketika Shanti membujuknya untuk mengadakan pesta di paviliun mereka.  

Oh ya, dia dan Shanti berbagi sewa paviliun mungil bertingkat yang kami tempati di ibu kota ini. 

Orang-orang yang datang lebih dari selusin, dan hampir tidak ada yang dia kenal. Beberapa dia tahu sebagai pelanggan yang sering makan siang di tempat kami bekerja, yang lain hanya bertemu di jalan beberapa kali. Bagaimanapun juga, teras, halaman, ruang tamu, dapur penuh sesak dengan manusia. 

Musiknya bergaung memecahkan gendang telinga. Udaranya yang panas mengalahkan kerja keras AC setengah tenaga kuda, membuatnya gerah. Keringat mengalir deras, membasahi ketiak dan punggungnya.

Pullover yang dia kenakan terasa sempit di bagian pantat menimbulkan rasa sakit di sekitar pinggang. Ghea yakin riasan tidak mampu menyamarkan lelah dan bosan di wajahnya, tapi para tamu undangan yang berjubel sepertinya tidak peduli.

Besok dia harus ke salon. Rambutnya perlu di-creambath untuk menghilangkan bau apek asap rokok yang mencemari paviliun mereka. Bahkan, untuk menerobos kerumunan saat ini seperti tugas mission impossible yang harus diselesaikan tim Ethan Hunt. 

Dia benar-benar harus bicara dengan Shanti dan Leon. Di mana mereka berada? 

Tanpa repot-repot menjelaskan siapa dirinya pada buaya darat yang sedang merayunya, Ghea melepaskan tangan cowok brengsek itu dari pinggangnya. 

Gila! Dia harus mendorong, menarik, bahkan merangkak untuk sampai ke tangga. 

Akhirnya dia menemukan Shanti sedang berciuman dengan  Juno, pacarnya.

Ngomong-ngomong soal pacar, mana sih, pacarku?

Ghea melewati mereka berdua tanpa mengganggu dan menaiki tangga menuju kamar tidur. Bajunya semakin basah kuyup oleh keringat dan dia ingin menggantikannya dengan yang baru. 

Menghela napas lega karena berhasil mencapai pintu kamar, Ghea mendorong pintu hingga terbuka. Pemandangan yang dia lihat membuatnya tertegun kaku. Leon dan seorang gadis sedang bergumul di … ya ampun! Di tempat tidurnya! 

Mereka tidak sadar bahwa ada orang lain dalam kamar itu dan Ghea yakin mereka bahkan tidak mendengar pintu dibuka karena suara musik yang berisik. 

Nafsu birahi memang bisa membuat manusia tenggelam dalam lupa. 

Pada awalnya, dia hanya berdiri menatap dan mendengar mereka berdua mengerang dan tersesat di dunia mereka sendiri. Anehnya, Ghea tidak marah atau cemburu, hanya berdiri di sana, memperhatikan mereka. 

Mungkin, cewek itu yang pertama kali melihat dia karena dia berteriak dan menendang muka Leon hingga terjatuh dari tempat tidur dan kepalanya membentur dinding. 

“Lu udah gila, ya?” Leon berteriak marah sambil mengusap kepalanya. Tapi perempuan itu hanya menunjuk ke arah Ghea. 

Saat itulah Leon menyadari kalau Ghea ada di situ. Cowok menjadi pucat dan mulutnya menganga ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya bunyi napas terengah-engah yang keluar. 

Ghea tetap berdiri, tanpa terlihat marah atau sedih. Dengan nada datar seakan sedang ngobrol santai, dia berkata pada cewek itu. 

“Keluar dari kamarku.” 

Suaranya rendah tanpa ekspresi. 

Tanpa perlu diulang dua kali, cewek selingkuhan Leon bergegas keluar. 

Lalu, sambil berkacak pinggang Ghea mendekati Leon. Dia memeriksa wajah Leon yang memar dan bengkak bekas tendangan teman berbagi birahinya, sama sekali tak punya keberanian membalas tatapan mata Ghea. 

“Keluar,” kataku mendesis pelan. 

Bibir Leon bergerak-gerak sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi tatapan yang diberikan Ghea padanya membuat lidahnya kelu. 

Tanpa berkata-kata lagi, dia berdiri dan hendak keluar ruangan ketika Ghea memanggilnya. 

“Hei, kamu berutang seprai baru padaku!” Ghea berteriak sambil melemparkan seprai bekas arena pergumulan padaLeon. 

Tanpa berkata apa-apa, Leon membawa helai kain itu dan meninggalkan pintu yang menutup pelan di belakangnya. 

Ghea tahu, kini saatnya mengusir semua tamu undangan.

***

“Kamu bener-bener gila, tau nggak,” kata Shanti saat mereka berdua sibuk membersihkan paviliun, setelah Ghea berhasil mengusir semua tamu orang. Ghea terkekeh. 

“Kamu teriak ‘Polisi! Polisi!’ Tiba-tiba semua pada kabur,” sambung Shanti sambil membungkuk untuk mengambil beberapa botol minuman kosong di bawah meja. 

Ghea mengangkat bahu. “Aku juga nggak nyangka kalau akan berhasil, hanya meniru film-film Holywood. Tempat ini terlalu ramai, Shan. Kuharap kamu tidak marah karena merusak pestamu,” jawabnya sambil menegakkan punggung untuk meluruskan pinggang.

Shanti tertawa. “Aku malah nggak nyangka kamu bisa tahan sama suasana bising selama kaya tadi. Aku pikir kamu akan mengusir semua orang begitu mereka lewat pintu masuk. Selain itu,” Shanti melemparkan sebotol air mineral yang belum dibuka, “aku mengadakan pesta ulang tahun karena kamu bilang belum pernah ada orang yang mengadakan pesta ulang tahun untukmu. Maka aku melakukannya untukmu. Kamu tahu, sebagai hadiah dariku.”

Ghea terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Shanti melakukan itu demi dirinya. “Kamu tidak harus melakukan itu, Shan! Merayakan ulang tahun cukup berdua saja, hanya kamu dan aku, adalah pesta ulang tahun yang sangat berarti untukku. Hadiah ulang tahun terbaik yang aku terima.”

Shanti mengangkat bahu.”Aku tahu, kok. Tapi … sebenarnya mungkin aku melakukannya sebagian untuk diriku sendiri juga. Sudah lama tidak mengadakan pesta seperti itu.”

Ghea tertawa dan melemparkan kain lap kotor ke arah Shanti yang tepat mengenai wajahnya.

“Hei!” teriak Shanti mencoba menghindar hingga terguling ke sofa.

“Dan lain kali kalau kita ketemu Leon, ingatkan aku untuk memotong burungnya.”

“Oh tidak, jangan macam-macam, Shan.”

“Ghea,” teriaknya. “Apa yang dia lakukan sungguh kelewatan, dia perlu dihukum. Pada hari ulang tahunmu, di kamarmu dan lebih buruk lagi, di tempat tidurmu!” 

“Memang, sih. Aku tahu apa yang dia lakukan memang keterlaluan. Tapi aku tidak ingin membalas dendam pada siapa pun. Terutama seseorang yang tidak pernah benar-benar aku cinta. Biarkan dia pergi, Shan. Dia hanya membuat segalanya lebih mudah. Aku sudah lama ingin putus dari Leon.”

Shanti tersenyum dan menatapnya dengan tatapan nakal yang sangat dikenal Ghea. 

“Oh … jadi kamu sudah lama ingin putus dengan dia? Sejak kapan? Pasti sejak kamu bermimpi tentang cowok seksi itu, kan? Kan?” 

Ghea tetap mengelap meja dengan kanebo basah mengabaikan kata-kata Shanti.

“Kamu ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti kamu ngomong apa.” 

Shanti malah beralih ke sisi Ghea. 

“Tapi Ghe, kamu nggak penasaran gimana dia sebenarnya?”

Ghea tidak menanggapi. 

“Kamu harus menghampirinya dalam mimpi berikutnya dan melihat wajahnya.”

Ghea masih tidak mengatakan apa-apa. 

“Ghea Sukaesih, jawab, dong!” 

Ghea sadar dia tidak bisa menghindari Shanti selamanya

“Shan, itu cuma mimpi. Yang namanya mimpi, bunga tidur. Jangan dianggap serius.” 

“Mungkin jika kamu hanya melihatnya sekali dalam mimpi. Tapi kamu sendiri yang bilang bahwa kamu memimpikannya tiga kali. Tiga kali! Itu bukan bunga tidur lagi, Ghe! Udah jadi buah dan biji! Makanya aku ngajak kamu ke Mama Sitrun, cenayang terkenal yang kebetulan pernah kutolong dulu, supaya bisa ngasih tau arti mimpimu yang berjilid-jilid itu. Apa kamu tidak percaya pada takdir cinta pasangan hidup maut yang disampaikan lewat mimpi?” 

Ghea menghela napas panjang dan menoleh menatap mata Shanti dalam-dalam.

“Tidak, Shan. Aku tidak percaya mimpi. Dan aku tidak akan menuruti kamu untuk ketemu tukang santet!” Ghea meninggikan suaranya.

“Dia bukan tukang santet. Dia seorang paranormal,” balas Shanti tajam, mengangkat tangannya dengan marah. 

“Apa bedanya? Ini Indonesia, Shan. bukan dunia Barat. Masyarakat masih percaya klenik dan mistik. Dan buatku, lebih baik menghadapai iblis yang disebutkan dalam kitab suci daripada berurusan dengan dukun dan tukang ramal. Musrik, tau!” Ghea balas membentak, yang dijawab Shanti dengan pipi menggelembung gumush dan wajah cemberut. 

Shanti bisa jadi sangat menyebalkan. 

Kadang-kadang Ghea bingung, kenapa dirinya harus diatur oleh sahabat baiknya itu? Kalau saja dia memiliki seorang ibu, maka Shanti tak perlu jadi penindas hidupnya. 

Merajut Masa Silam

Prolog . Mimpi Buruk & Liontin Bulan Sabit

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image