Semuanya berawal saat liburan beberapa tahun lalu setelah Dino berkunjung ke rumah bibinya.
Sebagai anak yang pekerja keras, Dino membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan bibinya memberinya telur segar sebagai ucapan terima kasih.
Setelah meletakkan telur dengan hati-hati di dalam kantong kertas dan mengucapkan selamat tinggal, Dino berjalan kembali ke rumahnya.
Itu sebenarnya bukan rumah Dino, karena Dino adalah seorang yatim piatu. Ayah dan ibunya telah meninggal ketika dia masih sangat kecil dan dia tinggal bersama neneknya.
Sesampainya di rumah, dia menunjukkan telur itu kepada neneknya, dan neneknya bertanya apakah dia boleh memasak telur tersebut. Neneknya memiliki seekor ayam jantan dan seekor ayam betina. Terkadang Nenek merebus dan memakan telur yang dihasilkannya.
“Tidak,” kata Dino. “Aku punya rencana lain untuknya. Aku ingin menaruhnya di antara telur-telur yang dihasilkan ayam betina Nenek.”
“Hmmm,” kata neneknya. “Nenek rasa Nenek tahu apa yang ingin kamu lakukan. Kamu ingin menaruh telurmu di antara telur Nenek sehingga kamu bisa memilih telur yang besar untukmu sendiri.”
“Bukaan, Nek,” kata Dino. “Aku ingin ayam betina Nenek mengerami telurku sehingga bisa menetas bersama yang lain.”
“Baiklah,” kata neneknya, “Tapi, ayam Nenek sudah mulai mengerami telur kemarin. Kalau kamu bersikeras, beri tanda pada telurmu sehingga kalau tidak menetas, kita bisa tahu.”
Dino segera melakukannya.
Suatu pagi, setelah beberapa hari berlalu, dalam rumah Dino mendengar ayam betina berkotek. Dia bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
Dia melihat telur-telur itu telah menetas dan anak-anak ayam berjalan ke sana kemari. Meskipun demikian, ayam betina itu tidak meninggalkan sarangnya dan beberapa saat kemudian ketika ayam betina itu berdiri, Dino melihat semua telur lainnya telah menetas kecuali telurnya.
“Kamu seharusnya memakannya kemu punya kesempatan,” kata neneknya dari belakangnya.
“Mari kita bersabar sebentar dan lihat apa yang terjadi,” kata Dino sambil berjalan pergi dengan berat hati.
Kemudian pada hari itu juga, dia mendengar nenek memanggilnya. Dino bergegas dan melihat ayam betina keluar dari kandang bersama anak-anaknya.
‘Kalau telurku belum menetas juga,’ pikirnya, ‘maka aku tidak akan pernah melihat apa yang telah kurencanakan.’
Dia menghitung anak-anak ayam dengan cepat dan tidak percaya dengan jumlah yang didapatnya.
“Nenek!” teriaknya, gembira. “Telurku menetas!”
“Ya, dan itulah sebabnya Nenek memanggilmu,” kata neneknya.
Neneknya kemudian menunjuk dengan tongkatnya ke salah satu anak ayam.
“Itu pasti anak ayammu,” kata Nenek. “Kamu bisa lihat betapa berbedanya dia dari yang lain.”
Sekarang setelah neneknya menunjukkannya, Dino memperhatikan bahwa ayam itu tidak hanya lebih kecil dari semua anak ayam lainnya, tetapi juga memiliki bulu hitam sementara yang lainnya berwarna putih.
Waktu terus berjalan dan tak lama kemudian, ayam betina hitam itu telah tumbuh dan berjalan di halaman ketika nenek berkata kepada Dino.
“Nenek rasa sebaiknya kamu taakkan menolak kalau Nenek bilang sebaiknya kamu ambil pisau dan kita potong ayam itu untuk dibuat sup ayam bawang.”
“Tidak. Nek,” jawab Dino. “Aku punya rencana yang lebih baik.”
“Baiklah,” kata neneknya. “Nenek akan menunggu dan melihat hasilnya.”
Ayam hitam itu mulai bertelur. Dino menyiapkan sarang yang bagus untuknya dan memastikan telur-telurnya aman. Suatu hari, ia mendapati ayam itu mulai mengerami telur dan ia terus mengawasinya dengan saksama sampai ayam itu berkokok keras karena kehadirannya.
“Hei, berhentilah mengganggu ayam itu,” kata Nenek kepadanya, “Kecuali kalau kamu ingin mengerami telurnya sendiri. Kalau tidak, biarkan dia tenang.”
Dino pergi dan meninggalkan ayam itu dengan tenang.
Dua puluh satu hari kemudian, ayam itu keluar dari kandang dengan anak-anaknya mengikutinya.
“Kemarilah dan lihat,” Nenek memanggilnya, “Kita akan makan banyak ayam tahun ini.”
“Nenek, masih terlalu cepat untuk itu dan aku juga punya rencana yang lebih baik.”
Dino menghitungnya dan melihat bahwa dia memiliki delapan anak ayam.
Waktu berlalu dengan cepat dan seiring berjalannya waktu, anak ayam itu tumbuh menjadi ayam jantan dan ayam betina.
“Sekarang saatnya untuk memakannya sebelum penyakit ayam itu datang dan membunuh mereka semua.” Nenek berkata kepadanya suatu hari. “Kamu seharusnya sudah tahu sekarang bahwa sup ayam bawang lebih lezat kalau ayamnya sehat.”
“Nenek, aku punya rencana lain,” kata Dino.
Keesokan harinya, dia bertanya kepada pedagang yang biasanya lewat di rumah mereka dengan membawa unggas untuk dijual di pasar tentang bagaimana mencegah ayamnya terserang penyakit. Pedagang itu memberi tahu Dino tentang orang yang punya obat dan dapat mengobati ayam untuknya. Dino kemudian menjual seekor ayam kepada pedagang itu dan membayar orang yang datang untuk mengobati ayam-ayamnya.
“Itu pemborosan uang,” dia mendengar nenek bergumam sendiri. “Aku tidak bisa membuang-buang uang untuk mengobati ayam.”
Dino mendengar tetapi dia juga bergumam pada dirinya sendiri.
“Aku punya rencana, itulah sebabnya aku tidak bisa menyebutnya pemborosan.”
Tak lama kemudian, ayam-ayam itu telah tumbuh dan Dino memanggil pedagang itu untuk menukar lima ekor ayam dengan seekor kambing kecil. Pedagang itu menerimanya. Keesokan harinya, si pedagang pergi dengan ayam-ayam di dalam keranjang dan meninggalkan seekor anak kambing kecil yang mengembik.
Ayam-ayam yang tersisa bertelur lebih banyak dan menetaskannya, sementara anak kambing itu tumbuh dewasa. Tak lama kemudian, Dino memiliki tiga ekor kambing dan banyak ayam.
“Kambing-kambingmu sudah besar,” kata Nenek kepadanya. “Nenek ingin sekali makan sate kambing.”
“Belum,” kata Dino kepadanya. “Aku punya rencana yang lebih baik.”
Dan malam itu, ketika neneknya menyeruput sup ayam bawang, Dino mengikat anak sapi hasil menukar seekor kambingnya dengan sebagian besar ayam betina.
Sapi itu tumbuh dan kemudian melahirkan anak sapi. Kambing-kambingnya melahirkan anak-anak kambing. Anak-anak ayam tumbuh menjadi ayam betina dan bertelur lebih banyak lagi.
Waktu berlalu seperti biasa. Masalah pun datang sebagaimana mestinya. Pencuri lewat mencuri kambingnya. Penyakit ayam menyerang. Suara Nenek yang menuntut sup. Tetapi Dino tahu apa yang diinginkannya dan bertahan.
Suatu hari, pedagang itu, saat lewat berkata kepada Dino, “Hei, jutawan, bagaimana kabar hewan ternakmu?”
“Mereka baik-baik saja,” jawab Dino. “Aku merawat ayam-ayam, memberi makan sapi dan kambing. Aku ingin menukarnya lagi dengan sapi lagi.”
“Tidak masalah bagiku,” kata pedagang itu. “Menyenangkan berdagang denganmu.”
Ketika pedagang itu pergi, neneknya berkata, “Nenek ingin makan gulai sapi, tetapi Nenek tahu kamu punya rencana yang lebih baik. Kamu mungkin yatim piatu, tetapi Nenek tahu pedagang itu benar. Nenek ingat ibu nenek dulu mengatakan bahwa buah yang paling matang jatuh kepada orang yang menunggu. Sekarang Nenek tahu kamu punya rencana untuk menjadi jutawan.”
Sejak hari itu, itulah namanya. Mereka mulai memanggilnya “Jutawan Yatim Piatu”.
Waktu berlalu begitu cepat.
Dan sekarang, Dino punya peternakan besar berisi hewan dan unggas. Banyak pedagang datang untuk membeli darinya. Tidak ada yang ingat mereka dulu memanggilnya Jutawan Yatim Piatu lagi. Mereka memanggilnya Miliarder, karena dia sangat kaya. Kebanyakan orang tidak percaya ketika dia mengatakan bahwa dia memulai dengan sebutir telur.
Apakah kamu percaya?
Cikarang, 4 Mei 2025









