Kedua belah pihak bertempur dengan sengit. Janos Hunyadi, terus melakukan serangan kepada pasukan Janissary. Memang, perlu diakui bahwa Janos Hunyadi adalah panglima perang yang handal dalam bertempur, sekalipun dipenuhi ketakutan.
Tak mau kalah oleh Janos, Mircea II pun terus membabad beberapa pasukan Akinji, hingga pada akhirnya terkena panah oleh Ulubatlı Hasan tepat dipundaknya. Seketika, pasukan Salib pun melindungi Mircea II.
Di sisi Kesultanan Utsmani, Çandarlı Halil Pasha tak kalah hebatnya. Ia tak henti-hentinya menebas pasukan Salib—entah berapa banyaknya. Çandarlı Halil Pasha, memang seorang negarawan dan pejuang yang handal.
Begitu pun Zağanos Pasha yang berkolaborasi dengan Şahabettin Pasha, tanpa lelah menumbangkan pasukan Salib yang berbaju zirah berat itu. Kolaborasi keduanya begitu epik, hingga jumlah pasukan Salib semakin berkurang dengan waktu yang cepat.
Melihat kondisi pasukannya yang semakin terpojok, Raja Wladyslaw III akhirnya membuat kesalahan fatal. Dengan keputusan yang kkkurang bijak, ia turun dari kudanya, dan langsung merangsek ke tengah medan perang. Sementara, Murad II melihat pertempuran dengan santai diatas kuda putihnya. Ia, dengan bijak mengamati situasi yang ada.
Memang, moral pasukan Salib meningkat, setelah melihat rajanya turun. Terbukti, baju zirah pasukan Salib terlihat menjadi ringan, dan dapat keluar dari tekanan pasukan Utsmani. Murad II yang mengetahui kondisi medan perang tersebut, ia tetap berada di kudanya. Artinya, ia tidak serta merta turun ke medan perang, sebagaimana Raja Wladyslaw III lakukan.
Murad II, melihat terlebih dahulu situasi medan perang yang tengah terjadi. Setelah Murad II yakin mendapatkan celah, ia pun turun dari kudanya dengan strategi serangan dari sisi terlemah, yaitu samping kanan dengan membabad pasukan sayap yang berada disana.
“Mari para pemberaniku! Selesaikan pertempuran ini dengan kemenangan.” Sahut Murad II dengan lantang.
“Jangan beri mereka ruang untuk mengintimidasi kita, dan ambillah napas mereka dengan pedang kita. Sebab, napas mereka haram berembus di dunia ini.” Sahut Murad II lagi memberi semangat kepada para pasha dan pasukannya.
Seketika, berkobarlah hingga berkali-kali lipat semangat para pasha dan pasukan Utsmani. Serangan-serangan pasukan Utsmani kepada pasukan Salib begitu cepat. 1 orang Utsmani dapat menebas 2 sampai 3 pasukan Salib. Tentunya, membuat pasukan Salib semakin terpojok.
Murad II yang melihat Raja Wladyslaw III sudah kelelahan, tak membuang kesempatan untuk menyerangnya. Pedang Murad II melayang cepat ke arah Raja Wladyslaw III. Namun, di tengah kelelahan, Raja Wladyslaw III masih mampu menangkis serangan Murad II. Bahkan, ia pun mampu memukul Murad II hingga gontai.
Raja Wladyslaw III, terkenal dengan fisiknya yang kuat. Namun, bukan juga dikatakan Murad II, jika ia tak mampu menandinginya. Terlebih lagi, fisik Murad II masih dalam keadaan bugar. Pertarungan kedua pemimpin itu berlangsung dengan sengit.
Adu pedang, dan adu ketangkasan dari keduanya tampil begitu ketat. Jika Raja Wladyslaw III mengandalkan kekuatan fisik, Murad II bertarung dengan menggunakan strategi, sehingga ia tak mudah lelah.
Akan tetapi, jangan dilupakan juga seorang diplomat handal dan cerdas dari Kardinal, Giuliano Cesarini—yang dipilih oleh Paus Martinus V, sehingga ia menjadi agen yang kuat. Itulah alasannya, mengapa perbedaan pendapat diantara para komandan Polandia-Hungaria tidak terjadi perpecahan yang signifikan.
Giuliano Cesarini tampil di belakang layar saja, menjaga punggung para komandan dan pasukan Salib. Sayangnya, Giuliano Cesarini disergap oleh Şahabettin Pasha dan beberapa pasukan Utsmani yang melihatnya berada di paling belakang.
Melihat kedatangan Şahabettin Pasha secara tiba-tiba, membuat Giuliano Cesarini terkejut bukan main. Şahabettin menghampiri Cesarini, dan Cesarini turun dari kudanya yang sudah dilindungi oleh beberapa pasukannya.
Kedua belah pihak bertempur, dan dimenangkan dengan mudah oleh pasukan yang dibawa oleh Şahabettin Pasha. Giuliano Cesarini ditebas oleh Şahabettin Pasha hingga tewas di tempat.
Sementara, pertarungan antara Murad II dengan Raja Wladyslaw III masih berlangsung. Terlihat, Raja Wladyslaw III sudah sangat lelah meladeni Murad II, dan pada akhirnya Raja Wladyslaw III ambruk. Tanpa membuang waktu, Murad II menusukkan pedangnya tepat di ulu hati Raja Wladyslaw III, dan Raja Wladyslaw III pun tewas di tempat.
Janos Hunyadi, Mircea II, dan seluruh pasukan Salib melihat sang diplomat dan rajanya tewas, seketika moral mereka semuanya runtuh. Pertempuran pun semakin membuat pasukan Salib tak beraturan. Ada yang tak mampu lagi melawan, dan ada pula yang berhamburan melarikan diri. Situasi itu membuat Janos Hunyadi dan Mircea II terpaksa mundur.
Pertempuran Varna, yang berlangsung singkat dimenangkan secara gemilang oleh pasukan Utsmani. Murad II sengaja melepaskan Janos Hunyadi dan Mircea II dengan tujuan untuk memberi pelajaran bagi bangsa Polandia dan Hungaria.
Dengan kemenangan ini, pasukan Utsmani pulang dengan suka cita dan moral yang siap sedia. Meski tak sedikit pasukan Utsmani yang syahid, kemenangan ini menjadi penghibur tersendiri bagi mereka.
Akhirnya, mereka disambut dengan meriah oleh rakyat Utsmani di Edirne. Sorak sorai “Panjang umur Murad Han, panjang umur Murad Han, Panjang umur Murad Han.” Menggema di seantero ibu kota Kesultanan Utsmani.









